Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
134. Kesepakatan


__ADS_3

Hampir saja Shira tertawa. Bagaimana mungkin Bara bisa menjawabnya seperti itu?


“Bagaimana kamu tahu kalau aku masih tinggal di sini?” tanya Shira.


“Orang macam apa yang akan repot-repot membangun rumah hanya untuk berlibur beberapa hari?” timpal Bara.


Shira tersenyum sinis. Rupanya Bara sungguh jauh-jauh datang kemari hanya untuk menemui dirinya.


Oh, Tuhan. Shira benar-benar merasa istimewa.


“Aku hanya tidak nyaman dengan istrimu,” jelas Shira.


“Dan kamu membuatku semakin merasa tidak nyaman,” Bara menambahi.


“Kalau gitu masuklah.” Shira mempersilakan Bara memasuki rumah terkutuknya itu.


Kejadian beberapa hari lalu cukup menambah pelajaran bagi Bara. Dari pada apa pun, kini Bara lebih takut memasuki rumah ini dan menikmati hidangan sialan buatan Shira.


“Enggak usah,” jawab Bara, “lagi pula laki-laki yang ada bersamamu di kamar tadi bisa saja terganggu.”


“Dia, kan, ada di kamar,” bela Shira.


“Kalau dia sampai keluar, aku yang akan merasa tidak nyaman,” timpal Bara.


Shira pun tertawa. “Rupanya kamu masih mengenalku,” ujarnya.


“Kamu yang enggak berubah,” tegas Bara.


Shira melanjutkan tawanya.

__ADS_1


“Jadi, untuk apa kamu datang kemari?” tanya Shira.


“Jelaskan semua kebenaran yang terjadi di antara kita malam itu pada istriku,” jawab Bara.


“Istrimu?” Shira mengangkat alis kirinya dan memoyongkan bibirnya. Sedangkan lirikannya ke atas. Dia tengah berpikir dan berusaha mengingat-ingat.


“Oh … perempuan kecil itu?” Shira tersenyum sembari mengembalikan perhatiannya ke Bara. “Bertahun-tahun tak bertemu aku terkejut karena seleramu berubah. Entah seleramu yang berubah atau kamu yang tidak sadar kalau dirimu sudah tua,” sindir Shira.


“Aku ke sini hanya untuk menyuruhmu menjelaskan itu saja,” ujar Bara. Dia berbalik dan hendak melangkah, tetapi Shira berhasil menahan tangannya.


“Bagaimana kamu tahu seperti apa kebenarannya?” tanya Shira.


Bara mengembuskan napasnya berat. Ah, sial! Rupanya Shira belum mau berhenti memainkan permainan ini.


Bara pun berbalik. Kemudian melemparkan tangan Shira dari tangannya.


“Aku enggak tahu apa saja yang terjadi sebelumnya karena aku tidak sadarkan diri. Tapi aku tahu kalau aku hanya terbaring saja di ranjangmu tanpa ada sesuatu yang lebih dari itu di antara kita,” jelas Bara.


Shira melangkah ke depan sampai kaki telanjangnya bercumbu dengan sepatu Baru. Kemudian tangannya mengalungkan diri di balik leher Bara. “Bagaimana kalau ternyata sesuatu itu benar-benar terjadi di antara kita?” imbuh Shira dengan suara yang lebih lirih.


Meski Shira sengaja menggoda Bara dengan rayuan di balik pantulan mata dan suara lirihnya, Bara tetap tidak berubah: tatapan dingin dan bibirnya yang tertutup rapat tanpa melebarkan senyuman sedikit pun.


“Karena meski kamu sudah tidur dengan banyak laki-laki, kamu tidak pernah meniduri satu laki-laki mana pun. Kamu hanya mau menerima, bukannya memberi,” timpal Bara.


Bara mendorong lirikannya ke samping, ke arah kedua tangan Shira yang menggelantung. “Lepaskan!” serunya.


“Kalau aku tidak mau?” goda Shira.


“Bukankah laki-laki di kamarmu sudah terlalu lama menunggumu?” timpal Bara.

__ADS_1


Shira malah mendekatkan wajahnya ke Bara. Hanya menyisakan jarak sedikit lagi. Bahkan napas yang keluar dari Bara dapat terasa di kulit halusnya Shira.


“Cium aku, maka aku akan melupakan laki-laki itu,” tawar Shira.


“Aku enggak butuh!” tegas Bara. Dia langsung melemparkan tangan Shira. Kemudian mengangkat kakinya untuk pergi.


“Cium aku, maka aku akan mengatakan kebenarannya kepada istrimu ….”


Seketika langkah Bara berhenti.


.


.


.


AKANG BARA HARUS MILIH APA INI? 😖😖😖


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2