Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
135. Kesepakatan 2


__ADS_3

Thor. Kapan sih, lu sembuhnya?


Enggak tahu. Maklum. Jomblo 🀧🀧


Cuz aja deh ....


πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


β€œCium aku, maka aku akan mengatakan kebenarannya kepada istrimu ….”


Seketika langkah Bara berhenti. Ah, sial! Perempuan itu masih saja belum mau berhenti. Bara pun berbalik.


β€œβ€¦ Kalau aku merubah tawarannya seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?” imbuh Shira.


Bara menyatukan kedua telapak tangannya seperti orang yang berdoa. β€œAku ingin berbaikan dengan istriku, bukan menambah masalahku. Jadi, kumohon, mengertilah, Shira!”


Shira tersenyum lebar. Entah kenapa, dia sudah senang meski hanya mendengar namanya disebutkan.


Bara langsung berbalik. Kini dia benar-benar akan pergi sekalipun Shira mengatakan akan menurunkan surga ke dunia.


β€œKatakan pada istrimu! Lusa aku akan menemuinya!” teriak Shira seolah mengucapkan selamat tinggal.


Bara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Hanya untuk mengatakan itu saja, apa susahnya, sih?


Sampai-sampai, hanya untuk mendapatkan kesepakatan itu, Bara harus melewati banyak ujian.


Bara memang sudah mengganti tiga perempuan dalam hidupnya. Akan tetapi, dia tidak pernah menyatuhkan ketiganya dalam satu hubungan.


Perselingkuhan?

__ADS_1


Menangani satu perempuan saja susah, apalagi kalau harus ditambah.


Sudahlah ….


Itu tidak perlu!


Sesampainya Bara di dalam mobil, dia bernapas lega. Ternyata semua ini tidak susah. Berjalan mudah tanpa adanya hambatan.


Kalau tahu begini, mungkin Bara sudah menemui Shira dari kemarin-kemarin.


Sebelumnya Satrialah yang memaksa dirinya untuk menemui Shira. Bahkan jika harus mengemis, Bara harus melakukan itu. Padahal Bara sudah menolak sebelumnya.


Satria mengatakan kalau untuk menyelesaikan masalah, dibutuhkan penjelasan. Zeo tidak mau mendapat penjelasan dari Bara. Maka, kunci satu-satunya hanya ada pada Shira. Sekarang Bara hanya bisa berharap semoga Shira menepati janjinya, bukannya semakin membuat masalah.


Semoga saja tidak ada drama-drama lagi seperti kehamilan Shira atau pernikahan kedua ….


-oOo-


Sejak pertengkaran Satria dengan Hendri, Satria tidak pernah lagi terlihat tersenyum. Laki-laki mewarnai wajahnya dengan kedinginan. Tiwi melihat itu seolah-olah ada orang lain yang mengisi tubuh Satria.


Ponsel Tiwi berdering. Rupanya ada sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Tiwi pun menerima panggilan itu.


Setelah mendengar suara dari seberang sana, dahi Tiwi berkerut. Dia terkejut mendengar nama yang disebutkan.


β€œBang Hendri?”


Rupanya Hendrilah yang memanggil Tiwi saat itu. Laki-laki itu memaksa Tiwi untuk bertemu. Sebenarnya Tiwi menolak. Mengingat pertemuannya dengan Hendri selalu meninggalkan luka di hati, dia menjadi takut untuk datang sendiri. Namun, Hendri terus mendesaknya. Mau bagaimana lagi, sepertinya ini adalah yang terakhir.


β€œBaik, Bang. Kita ketemu di taman seperti biasa,” ujar Tiwi setuju. Kemudian memutuskan sambungan telepon itu lebih dulu.

__ADS_1


Tiwi mengembuskan napas beratnya seberat dia mengambil keputusan ini. Dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana dia harus mengatur ekspresinya di hadapan Hendri nanti.


Usai memasukkan ponselnya ke dalam saku, Tiwi berbalik. Seketika dia terperanjat. Rupanya sudah ada Satria dengan wajah dinginnya.


Kenapa laki-laki itu terus menghujami Tiwi dengan sengit?


Apa dia mendengar sesuatu?


β€œTu-tuan,” sapa Tiwi sembari menunduk.


Tanpa menyahut, Satria langsung melemparkan tatapannya ke samping. Kemudian melanjutkan langkahnya seolah tak peduli kalau perempuan yang menyapanya adalah orang terdekatnya.


-oOo-


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2