Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
51. Berusaha Bangkit


__ADS_3

Udah sampai di angka 50 lagi 😅


kalau kemarin, 50 udah mau tamat, yang sekarang masih jauh rupanya.


Please, lah, sisihkan like dan komennya 🤗🤗


Cuz ....


💃💃💃


Tiwi kembali menghadap Zeo. Dia mengangkat telunjuknya lagi. “Pertama-tama, lo harus bilang soal kandungan ini ke ayahnya!” tegas Tiwi.


“Ta-tapi dia udah mau nikah,” jawab Zeo.


Ah, sial! Rupanya Zeo akan menjadi Tiwi kedua. Kenapa bisa sampai begitu? Bukannya Zeo yang selalu menegaskan kalau dirinya berbeda dari Tiwi.


“Meski begitu, lo harus tetep ngomong dan mendapat pertanggungjawaban darinya!” Apa Tiwi berhak mengatakan itu?


“Terus gimana sama pernikahannya dia?” Zeo menemui jalan buntu.


“Apa lo mau hidup dengan luka dan mengasuh anak sendirian?” ancam Tiwi.

__ADS_1


Zeo menggeleng-gelengkan kepala. Mengurus diri sendiri saja tidak bisa, apalagi harus mengurus orang lain lagi ….


Mau dibentuk seperti apa orang itu?


Esoknya Zeo akhirnya keluar dari rumah sakit. Lalu lusanya, baru dia kembali pergi ke sekolah. Dia benar-benar berharap kalau Bara ada di sana. Zeo memutuskan untuk melakukan seperti yang Tiwi sarankan.


Zeo merasa beruntung. Rupanya Bara sudah kembali. Dia berkumpul di ruang guru bersama guru-guru lain yang saling tertawa dan memberikan ucapan selamat kepadanya. Bara terlihat sangat ceria. Seakan-akan surga sudah berhasil didapatkannya. Zeo belum pernah melihat tawa selebar itut. Dia menjadi tidak tega untuk memecahkan tawa yang sangat berharga itu.


Enggak, Ze! Lo harus kuat! Lo bukan cewek bodoh kayak Tiwi! Kalo lo enggak bilang sekarang, lo enggak akan pernah bahagia! seru hati egois Zeo mengingatkan Zeo akan niat awalnya. Jangan sampai usahanya menjadi sia-sia.


Tok tok tok! Zeo pun mengetuk pintu sehingga tawa para guru langsung berhenti. Mereka menolah bersamaan. Membuat Zeo hanya bisa meringis saking malu.


“Ada apa, Zeo?” tanya seorang guru.


Para guru kompak menyuruh Bara untuk mengiraukan muridnya itu. Bara pun bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati Zeo.


“Ada apa, Zeo?” tanya Bara ramah. Itu adalah wajah yang berbeda, dari wajah yang Zeo temui sebelumnya. Seolah-olah Bara sudah melupakan apa yang terjadi di masa lalu—apalagi malam itu, Bara sedang tidak sadarkan diri.


“Bisa kita bicara di atap sekolah? Ini sesuatu yang sangat penting, Pak,” bisik Zeo agar tidak terdengar oleh guru-guru lain.


Berbeda dari biasanya, kini Bara langsung menyetujui Zeo. Lagi pula semua ini akan berakhir segera. Tidak ada salahnya memberikan kesempatan sedikit waktu untuk anak didiknya.

__ADS_1


“Baiklah,” kata Bara setuju.


Bara pun keluar ruangan. Lalu menutup pintu sebelum mengangkat langkahnya lagi. Mereka pun berjalan bersama menuju atap sekolah.


“Jadi, apa yang mau kamu katakan, Zeo?” tanya Bara sesampainya di atap sekolah.


“Pak, sebenarnya ….”


Dahi Bara mengernyit. “Sebenarnya apa, Zeo?” Bara mulai keheranan. Zeo bertingkah bertele-tele tidak seperti biasanya.


Zeo menggigit bibirnya sendiri. Dia benar-benar kebingungan saat ini. Seolah-olah menyesal sudah membawa Bara kemari. Dia tidak mampu mengatakannya. Namun, dia harus mengatakan itu. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup!


Zeo pun menghela napasnya sejenak, lalu mengembuskan lagi. Mengusir udara yang memberatkan seluruh bagian dalam dadanya.


“Sebenarnya ….


Sebenarnya saya hamil, Pak”


-oOo-


Silakan nebak, kuy! 😁😁

__ADS_1


Gimanakah reaksi Pak Bara selanjutnya? 🤔🤔


__ADS_2