
“Terus … lo udah ketemu sama abang gue berarti?” tanya Zeo.
“Iya,” jawab Tiwi enggan mengakui.
“Kalau boleh tahu, apa yang udah kalian bicarain?” tanya Zeo lagi memberanikan diri.
“Abang lo udah gila rupanya,” tutur Tiwi.
Zeo langsung menoleh. Ekspresi di wajahnya benar-benar terkejut. Dia tidak benar-benar percaya, kan, pada ucapan Tiwi?
“Apa maksud lo?” tanya Zeo.
“Abang lo ngajakin gue kawin lagi,” jawab Tiwi.
“Ha?”
Zeo tidak salah dengar, kan?
Apa Hendri sudah separah itu?
“Kalau abang gue ngajakin lo kawin, terus gimana sama kakak ipar sama keponakan? Apa abang gue mau tinggalin mereka juga?” cecar Zeo.
Meski Tiwi adalah sahabatnya, Zeo merasakan ketidakadilan untuk kakak ipar dan keponakannya.
“Enggak,” timpal Tiwi.
“Terus?” Zeo semakin penasaran.
“Abang lo mau jadiin gue madu: istri kedua maksudnya,” jelas Tiwi.
Zeo lebih terkejut mendengar ini.
__ADS_1
“Gila banget, kan, abang lo. Emangnya suami dikiranya roti bisa dibagi-bagi?” gerutu Tiwi.
“Terus lo terima?” tanya Zeo.
“Ya, enggaklah. Gila juga gue, mau jadi istri kedua …. Hidup sendiri bertahun-tahun aja bisa, ngapain mau cari masalah sama istri pertama?” timpal Tiwi.
Zeo merasa lega. Rupanya tidak ada masalah yang harus dia khawatirkan secara berlebih.
“Makasih, Wi …,” tutur Zeo.
“Ngapain lo makasih ke gue? Ini urusan gue sama abang lo. Enggak ada urusannya sama lo,” timpal Tiwi.
Meski Tiwi terdengar kasar, Zeo malah tertawa. Dia sangat bangga kepada temannya ini. Meski dirinya tidak mendapatkan apa-apa, dia tidak pernah mau menyakiti orang lain demi mendapatkan keinginannya.
“Makasih udah jadi temen gue maksudnya,” jelas Zeo.
Akhirnya Tiwi turut tertawa. Memecahkan kecanggungan di antara mereka.
Tok tok tok!
Satria yang tadinya sibuk membaringkan diri menoleh ke arah pintu. Dahinya mengernyit. Siapa yang mengetuk pintunya? Apa Tiwi? Memangnya ada apa? Tidak seperti biasanya ….
Meski keheranan, tanpa sadar kedua sudut bibir Satria menaik. Dia merasa semangat. Dia pun bangun dan beranjak dari ranjang. Dia pun berjalan mendekati pintu itu dan segera membukanya.
“Hai, anakku!” sapa seorang perempuan berambut pirang dengan wajah tanpa bersalahnya.
Satria terperangah. Jadi dia salah sangka?
Lagi pula untuk apa kuntilanak ini berdiri di depan kamarnya?
“Ngapain lo kemari?” tanya Satria ketus.
__ADS_1
Zeo malah meringis. “Ibu tirimu ini sedang datang untuk memastikan kabar anaknya,” jawab Zeo dengan manisnya dan semburat sinar di sekelilingnya seolah-olah malaikat.
Satria tidak peduli itu. Dia langsung menutup pintunya lagi, tetapi Zeo malah mendorongnya saking keras, “Brak!”
Pintu itu memang membanting, tetapi tidak menutup, malah ke dinding.
Ah, sial! Sepertinya percuma saja Satria berurusan dengan gorila ini. Dia pun mengalah dan berjalan ke arah ranjang. Dia langsung membaringkan tubuh di sana dan bertingkah seolah-olah Zeo tak pernah ada.
Zeo berkacak pinggang dan bergeleng-geleng melihat tingkah anak tirinya yang tidak tahu sopan santun kepada orang tua itu. Kemudian berjalan mendekatinya dan turut duduk di atas ranjang itu.
“Lo … lo suka, ya, sama Tiwi,” tebak Zeo.
Satria yang tadinya memejamkan mata, akhirnya membuka secara perlahan. Dia memang membuka matanya, tetapi tidak menoleh ke Zeo, malah sibuk memandangi warna putih di langit-langit kamarnya.
“Apaan sih, lo … enggak!” jawabnya enteng.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1