
“Gue lagi cari Zeo. Apanya yang berlebihan? Gue cuma berusaha keras buat cari dia,” jelas Satria.
“Tapi, kenapa lo sampai harus sekeras itu buat cari dia?” tanya Tiwi.
“Dia, kan—“ seketika ucapan Satria berhenti.
Satria sendiri tidak tahu apa jawabannya.
“Rupanya enam tahun belum ngerubah lo,” tukas Tiwi.
“Apa maksud lo?” tanya Satria. Dia masih tak mengerti.
“Lo masih cinta sama Zeo,” ujar Tiwi.
Akhirnya Satria tertawa, meski hanya pelan. Lelucon apa yang sebenarnya Tiwi lontarkan ini?
“Apaan, sih. Enggak, lah,” elak Satria.
“Kalau enggak, kenapa lo masih peduli?” sindir Tiwi.
Meski Tiwi menaikkan sudut bibir kirinya seolah mengejek, ekspresi yang terpantul dalam bola matanya penuh ketidaksukaan. Satria melihat itu. Itulah yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Eh, Tiwi!” seru Satria saat Tiwi berbalik dan melangkah begitu saja tanpa meninggalkan pamit.
Satria ikut melangkah hendak mengejar Tiwi. Namun, saat Tiwi sudah masuk ke dalam kamar sedangkan dirinya masih jauh di luar, langkah Satria berhenti. Dia terperangah akan apa yang dia lakukan baru saja.
Apa Satria tadi berusaha menjelaskan tentang perasaannya?
Namun, buat apa?
__ADS_1
Apa peduli Satria kalau Tiwi terlihat marah?
Bukankah Tiwi juga tidak mengatakan apa-apa?
Ah, sial! Ada apa dengan dirimu, Satria?
Ini tidak seperti dirimu!
-oOo-
Satria terus berguling-guling di atas ranjang. Padahal ini sudah beberapa hari sejak dia melihat kemarahan di mata Tiwi. Kini, dia bahkan tidak memikirkan bagaimana kehidupan Zeo berjalan. Dia hanya pasrah menunggu hasil dari para bawahannya.
“Lo masih cinta sama Zeo,” ujar Tiwi.
“Apaan, sih. Enggak, lah,” elak Satria.
“Kalau enggak, kenapa lo masih peduli?” sindir Tiwi.
Benar. Satria memang pernah mencintai Zeo. Namun, sekarang sudah tidak lagi. Perasaan itu sudah terempas amat jauh. Kini, Satria hanya memiliki rasa kepedulian saja kepada Zeo. Bukan karena masih mencintai, tetapi karena Zeo sempat menjadi orang yang berarti baginya.
Satria bangun. Ini tidak bisa terus terjadi. Satria harus menjelaskan semua ini kepada Tiwi.
Entah untuk apa, Satria hanya tidak merasa nyaman kepada Tiwi. Tiwi, kan, sudah memiliki hubungan yang akrab dengannya!
Lagi-lagi Satria membuka pintu itu tanpa permisi. Namun, hanya sedikit yang terbuka. Satria langsung ingat akan penyesalannya beberapa hari lalu. Dia pun mengurungkan niatnya. Dia hendak menutup pintu itu lagi.
“Lo harus tanya sendiri ke Pak Bara dulu, Ze,” tutur suara Tiwi terdengar.
Gerakan tangan Satria berhenti. Berbicara dengan siapa Tiwi?
__ADS_1
Ze?
“Tapi gue lihat fotonya sendiri di kamar cewek lain,” tegas suara lain menyahuti penuturan Tiwi.
Bola mata Satria membelalak. Dia mengenal benar suara ini.
“Zeo?” gumam Satria keheranan.
Satria memberanikan diri mengintip dari celah pintu yang terbuka. Benar seperti perkiraannya. Rupanya ada Zeo yang tengah berbicara dengan Tiwi di atas ranjang. Namun, kenapa Zeo kemari?
Bagaimana perempuan itu bisa ada di sini?
Bahkan seluruh pekerja Satria sampai tidak ada yang menyadari.
“Gue bukannya belain Pak Bara, ya. Bisa aja lo salah atau pun benar. Tapi, setiap orang punya alasan untuk melakukan sesuatu. Kalaupun Pak Bara emang salah, seenggaknya lo bisa mutusin mau maafin dia apa enggak. Kalau gini, kan, lo sendiri aja enggak tahu dia salah atau benar. Jadi, gimana lo bisa mutusin buat kasih maaf atau enggak?” tutur Tiwi.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗