Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
21. Menguji Hati


__ADS_3

“Alay banget sih, Pak! Orang memar doang!” keluh Zeo merasa risih atas perhatian Bara.


Setelah mengobati Zeo, Bara masih belum merubah posisinya. Dia masih membungkuk dengan jarak wajanya yang dekat.


“Tapi kenapa kamu langsung pergi kemarin?” Bara mengingatkan tentang kejadian kemarin.


“Ah ….” Zeo bingung harus meenjawab apa. “Jadi Bapak enggak nyari saya?” Akhirnya Zeo mengalihkan topikmya.


“Kenapa saya harus nyari kamu? Enggak ada orang yang mau nyuri anak bandel kayak kamu.” Tiba-tiba Bara mencubit kedua pipi Zeo. “Mereka bakal kerepotan nanti.”


Bara tidak menampilkan wajah serius sedikit pun. Mencubit pipi Zeo hanya sebagai candaan baginya. Zeo melihat itu, tetapi Zeo sendiri malah merasa tidak keruan. Zeo langsung melemparkan tangan Bara dari pipinya.


“Pak, sakit, Pak. Ini bisa disebut kekerasan pada murid,” Zeo memprotes lagi.


“Baiklah. Laporin saya segera,” kata Bara menyetujui sambil menata kotak obat dan menyimpannya.


“Pak, kenapa sih, Bapak enggak pernah serius?” protes Zeo terhadap segala tindakan Bara.


“Kita kan enggak lagi pelajaran. Kalo gitu saya duluan, ya. Buku-bukunya masih berceceran,” pamit Bara. Sebelum pergi dia masih menyempatkan diri untuk mengusap rambut Zeo dengan lembut.

__ADS_1


Ah, sial! Lagi-lagi laki-laki itu membekukan Zeo. Lalu apa ini? Apa Zeo menjadi gugup hanya karena Bara mengusap rambutnya?


Zeo langsung mengacak-acak rambutnya sendiri. Siapapun bisa melakukan itu. Zeo bahkan bisa melakukan yang lebih dari itu. Jadi kenapa Zeo harus merasa gugup?


Kini Zeo malah mengacak-acak wajahnya. Dia masih merasa gugup. Tubuhnya bahkan bergetar. Jika ini terus terjadi, lalu bagaimana Zeo bisa menunjukkan wajahnya kepada Bara? Padahal Zeo masih ingin melihat wajah tampan Bara dengan tenang.


Ah, Zeo tidak bisa terus menyibukkan pikirannya dengan Bara. Dia pun pergi menuju kelasnya. Terus berada di UKS hanya membuat pikirannya tidak bisa mengabaikan Bara.


Di depan kelasnya, Zeo melihat Satria berada di sana dan tengah mengintip ke kelasnya. Tentu saja Satria tidak akan menemukan apa pun karena Zeo malah berada di belakang Satria.


“Aduh!” Satria terkejut karena Zeo memukul punggungnya dari belakang.


“Dahi lo kenapa, Ze?” tanya Satria panik.


“Ah, itu enggak penting. Yang penting sekarang gue lagi butuh jawaban buat sesuatu.” Zeo langsung menarik tangan Satria dan meletakkannya di atas kepalanya. “Gosok kepala gue.”


“Gosok gimana?” Satria tidak mengerti.


Zeo pun memaju-mundurkan tangan Satria. “Kayak gini lho,” katanya.

__ADS_1


“Perlu disikat juga, enggak?” canda Satria.


“Buruan, kok!” sewot Zeo.


Meski tidak mengerti, Satria tetap mengikuti perintah Zeo. Satria pun mengusap kepala Zeo seperti yang perempuan itu inginkan.


Setelah Satria menghentikan gerakannya dan melepaskan tangannya dari kepala Zeo, Zeo diam. Dia tengah memikirkan sesuatu. Apa yang dilakukan Satria sama persis seperti yang dilakukan oleh Bara. Namun, Zeo tidak merasa gugup sama sekali. Tidak ada bentrokan sedikit pun di dalam dadanya.


“Kenapa gue enggak gugup ya?” Zeo kebingungan.


“Apa sih yang lo lakuin?”


“Enggak. Bukan apa-apa.” Zeo berusaha mengabaikan.


Tiba-tiba Saria memeluk punggung Zeo dan mendekatkan wajahnya. Dia menghujamkan sebuah tatapan kepada Zeo. Dengan tatapan itu, akhirnya Zeo merasa gugup.


“Apa lo masih enggak gugup?” tanya Satria dengan suara lirih.


Zeo menjadi tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Zeo pun melepaskan dirinya dari Satria tanpa mengeluarkan sepatah kata.

__ADS_1


__ADS_2