Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
163. Keputusan


__ADS_3

Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.


Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.


Cuz ….


z z z z z z


“Ya udah ya udah,” timpal Zeo akhirnya.


Satria tersenyum senang. Dia merasa puas dengan jawaban yang Zeo berikan.


“Tapi ….”


“Apa?” Satria langsung menyahuti ucapan Zeo yang seolah ingin ditunda.


“Lo … Tiwi bilang apa waktu nolak lo?” tanya Zeo.


“Kenapa?” Satria malah balik bertanya.


“Jawab aja, kok!” seru Zeo.


“Dia bilang enggak bisa nerima dirinya sendiri,” ujar Satria.


“Buat jadi istri lo?” tebak Zeo.


“He’e.” Satria menganggukkan kepala. “Padahal apalagi, sih, yang dia butuhkan? Gue udah bilang kalau gue bisa nerima dia. Gue juga bilang kalau Om Andi bakal menerima keputusan gue dengan baik dan ikutan nerima dia.”

__ADS_1


“Ah!” jerit Satria karena Zeo langsung memukul punggungnya. Melihat Zeo seperti ini mengingatkan Satria pada emak-emak Betawi di FTV.


“Apaan, sih!” pekik Satria.


“Lo yang apaan!” balas Zeo.


Dahi Satria mengernyit. Apalagi yang salah?


“Lo kira dalam pernikahan, Tiwi masih bawahan lo sehingga bakal nurutin perintah lo? Dia juga butuh pertimbangan,” tegur Zeo.


“Gue juga udah bilang kalau gue bakal kasih waktu buat dia mikir. Tapi dia malah mutusin saat itu juga,” bela Satria.


“Itu berarti lo udah ditolak,” timpal Zeo.


“AISH …!” Satria benar-benar sebal mendengarkan kalimat itu.


“Udah nyerah aja,” ujar Zeo menyarankan hal sama seperti sebelumnya.


“Tapi ….” Satria merasa keberatan.


“Tiwi itu udah punya anak. Apalagi dia baru ngucapin selamat tinggal sama masa lalunya. Bisa jadi, dia cuma mau hidup tenang untuk sementara waktu. Hanya ketenangan bersama anaknya tanpa sibuk berurusan dengan hati,” jelas Zeo.


“Tapi, dia bilangnya karena dia enggak bisa nerima dirinya buat jadi istri gue yang artinya, dia merasa kalau dirinya kurang buat gue,” elak Satria.


“Itu mungkin salah satunya. Lo terlalu tinggi buat Tiwi sampai Tiwi enggak perlu mikirin, dia udah tahu kalau lo bukan orang yang seharusnya dia gapai,” jelas Zeo.


“Makanya, lo nasehati dia. Gue harap nasehat dari lo bakal bantu buat dirinya merasa lebih tinggi,” rengek Satria.

__ADS_1


“Lo maksa banget, ya!” seru Zeo, “lo sendiri aja enggak nyisihin waktu lo buat mempertimbangkan posisi Tiwi.”


Zeo mengembuskan napas beratnya. Dia harus menenangkan diri lebih dahulu dan memendam amarahnya.


“Ya udah,” kata Zeo mengalah, “gue bakal coba bujuk Tiwi. Tapi apa pun hasilnya, lo jangan pernah berniat maksa siapapun lagi.”


Zeo memang menyetujui permintaannya. Akan tetapi, Satria tidak merasa senang seperti perkiraan awalnya. Perkataan Zeo sebelumnya menusuk masuk ke dalam hatinya.


Mempertimbangkan posisi Tiwi ….


Sepertinya Satria belum sempat melakukan itu.


-oOo-


SAMPAI JUMPA SATU TAHUN LAGI !!!


Eh, enggak, nding! 🤦‍♀️


Authornya lagi tepar habis up up up banyak mulu tiap hari. Pengen istirahat dulu buat cerita ini.


Enggak tahu kapan baliknya. kuusahain dalam 2/3 minggu. soalnya aku mau revisi ceritaku yang bakal masuk ke penerbitan...


senengnya 🤗🤗


jangan iri sama cerita sebelah. Soalnya cerita sebelah habis kuhiatusin demi up crazy cerita ini.


buat kalian yang suka karyaku, mampirlah ke ceritaku yang lainnya. ciri khas karyaku tuh, lucu sama bikin greget. semuanya sama.

__ADS_1


__ADS_2