
Bara menghela napas lalu mengembuskannya. Dia mencoba bersikap tenang agar istrinya tidak ketakutan.
“Emangnya kenapa kamu enggak mau balik ke Rusia? Terus kita mau tinggal di mana?” tanya Bara.
“Aku cuma nyaman tinggal di sini, bersama bapak sama ibukku. Melihat mereka yang udah semakin tua, aku jadi pengen mengabdikan hidupku buat merawat mereka. Sepanjang hidupku, aku enggak ingat pernah bikin mereka bangga: selalu aja bikin masalah sampai dikeluarkan dari satu sekolah ke sekolah lainnya,” jelas Zeo.
“Ya udah,” timpal Bara dengan entengnya.
Zeo terperangah. Dia tidak salah dengar, kan?
“U-udah aja?” tanya Zeo menyakinkan. Bara bahkan tidak membutuhkan waktu satu menit untuk berpikir.
Bara menganggukkan kepala. “Lagian alasanmu itu enggak salah. Jadi, kenapa aku harus menolak? Lagian aku enggak punya apa-apa lagi di Rusia. Cuma kamu sama Joffy harta berharga bagiku,” jelas Bara.
Senyum lebar terukir di wajah Zeo. Dia merasa amat senang dan langsung menghamburkan diri dalam pelukan Bara.
“Makasih, Sayang,” ujar Zeo.
Bara hanya tersenyum sembari membalas pelukan itu.
“Terus kamu mau kerja apa di sini?” tanya Zeo.
Ah, sial! Kerjaan itu ….
Memangnya apa yang bisa Bara lakukan di kampung?
Bara sudah muak bekerja mengumpulkan kayu di udara dingin!
“Kerja apa, ya?” Bara malah kebingungan.
__ADS_1
Zeo melepaskan diri dari pelukan Bara. “Gimana kalau jadi guru lagi?” saran Zeo.
“Enggak, ah!” tolak Bara.
“Kenapa? Kamu kelihatan keren, kok,” puji Zeo sampai memamerkan ibu jarinya.
“Karena aku keren aku takut bakal ada siswi lagi yang kepincut sama aku,” timpal Bara.
Zeo langsung memukul pelan lengan Bara. “Huh! Menyebalkan!” serunya.
Bara malah tertawa cekikikan.
Setelah tawa itu reda, Bara pun kembali memasuki mode serius. “Aku hanya merasa diriku enggak pantas buat jadi guru,” tuturnya.
Zeo mengernyitkan dahi. “Apanya yang enggak pantas? Kamu pintar, berpendidikan lagi,” elaknya.
“Satu hal yang paling penting dari kedua hal itu adalah contoh. Pekerjaan seorang guru adalah mengajar: memberikan ajaran: yang berarti harus memberikan contoh. Kalau aku mengajarkan seseorang sesuatu yang baik, berarti aku harus memberikan contoh yang baik pula. Dan aku gagal dalam hal itu. Aku bukan guru yang baik karena telah merusak masa depan siswiku dan gagal dalam mengajar anakku. Aku bahkan, enggak pernah memberikan ajaranku pada Satria,” jelas Bara.
“Pada akhirnya … kita merusak kehidupan dan masa depan kita satu sama lain,” timpal Bara.
Ya …. Itu adalah jawaban paling tepat. Bukan satu saja, tetapi keduanyalah yang bersalah.
“Lalu bagaimana dengan Satria?” tanya Zeo.
“Bagaimana kenapa?” timpal Bara.
“Apa kamu enggak akan memperjuangkan maafmu lagi?” jelas Zeo.
“Aku udah nyerah dari dulu,” ujar Bara.
__ADS_1
Mata Zeo membelalak. Padahal ini bukan jawaban yang dia harapkan.
“Apa-apaan kamu ini? Masak gitu aja udah nyerah? Yang kuat, dong!” tegur Zeo.
“Aku akan selalu kuat untuk berjuang. Tapi bagaimana dengan Satria?”
Zeo mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti maksud perkataan Bara.
“Apa maksudmu?” tanya Zeo.
“Satria bahkan enggak berniat buat maafin aku. Jadi, aku enggak bisa terus ganggu dia. Itu cuma bakal bikin dia semakin terluka,” jelas Bara.
Zeo terdiam. Dia mengakui apa yang Bara katakan memang benar. Akan tetapi, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang kurang ….
… Sebuah kekosongan di antara dua tali yang terlepas.
-oOo-
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗