Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
82. Mengikis Rindu 2


__ADS_3

“Kamu sendiri kenapa enggak tolak aku?” sindir Zeo membalikkan keadaan.


“Aku, kan, lagi mabuk,” bela Bara.


“Mabuk, kok, bisa ingat,” dumel Zeo.


Tiba-tiba Bara malah berganti posisi. Dia langsung mengunci Zeo dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas ranjang. Kini, Bara berada tepat di atas Zeo.


“Kalau gitu, kenapa kita enggak bulan madu di sini aja? Kan, di sini juga luar negeri,” tawar Bara.


“Jujur aja, aku udah muak sama rumah ini. Aku ingin mendapat pemandangan baru,” tolak Zeo.


Bara mendekatkan wajahnya. Dia hendak mencium Zeo. Namun, Zeo malah memalingkan wajahnya. Alis kanan Bara terangkat saking herannya.


“Aku, kan, udah bilang kalau aku enggak mau bulan madu di sini,” protes Zeo.


Telunjuk Bara mendorong wajah Zeo sehingga kembali menghadap ke arahnya.


“Siapa yang mengajakmu bulan madu di sini? Aku cuma menagih jatahku,” jelas Bara.


Jatah?


Jatah apa?


“Apa kamu enggak tahu seberapa menderitanya diriku tanpa kamu?” imbuh Bara.


Zeo langsung mengeluarkan tawa pelannya. Kini dia mengerti apa maksud jatah dari Bara tadi.


Tangan Zeo bergerak mengalungkan diri di balik leher Bara. Barulah Bara mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciumannya. Untuk beberapa waktu, mereka menghabiskan kebersamaan dengan mengadu bibir. Kemudian tangan Bara melepaskan kunciannya dari ranjang. Tangan itu mulai dengan beraninya menyusup di balik selimut.


Sudah lama memang mereka tidak bertemu. Jadi, biarkan saja mereka menghabiskan waktu dengan saling membagi rindu yang selama ini hanya mampu mereka tahan di dalam hati.


-oOo-

__ADS_1


Lagi-lagi Satria mengembuskan napas beratnya. Kini orang-orang mau memperhatikan dirinya lagi. Namun, bukan perhatian seperti biasanya, melainkan menertawakan. Semua ini karena seorang tuyul yang selalu mengikutinya ke mana pun Satria pergi.


Baru saja turun dari tangga, Satria sudah mendengar samar-samar suara tawa. Dia pun menurunkan tatapannya. Dia melirik ke arah Joffy yang setia mengikuti langkahnya.


“Apa kamu enggak bisa tinggal di kamar aja?” tanya Satria memelas.


“Enggak bisa. Soalnya aku enggak suka dikurung apalagi kalau harus sendirian,” jawab Joffy.


“Kalau gitu keluarlah dari kamar. Banyak pelayan, kan, di rumah,” saran Satria.


“Tapi aku enggak kenal mereka,” Joffy masih menolak.


“Aku juga enggak kenal kamu.”


“Tapi aku kenal Kak Sat.”


“Kalau gitu kenalan sama mereka.”


Ah, sial! Satria sudah berkata, tetapi anak ini terus-terusan menjawabnya.


Satria menyerah. Dia mengembalikan arah pandangnya. Sesampainya di samping motor, Satria langsung menaikkan Joffy ke atas boncengannya. Barulah dirinya menaiki bagian depan Joffy. Mereka pun pulang bersama-sama. Menguatkan rumor yang mengalir di kampus, kalau Satria sudah memiliki anak.


-oOo-


“Cie ….”


Satria baru saja memasuki kamar. Dia tengah melepaskan jaketnya. Entah sedang ap Joffy. Satria tidak tertarik memerhatikannya.


“Kak Kakak,” panggil Joffy.


“Apa?” sahut Satria.


“Kakak habis dapat pengakuan cinta, ya?” tebak Joffy.

__ADS_1


Pengakuan cinta?


Itu, mah, bukan hanya habis, tapi biasa. Satria sudah biasa mendapatkannya.


“Tapi, kok, enggak ada suratnya?” Joffy keheranan.


Satria berbalik. Dia melihat Joffy tengah memegang seikat bunga berwarna kuning.


“Bunga dari mana itu?” tanya Satria.


“Dari sini.” Joffy menunjuk meja di sampingnya.


Satria mengangkat alis kanannya. Dia tidak ingat sudah memesan bunga.


.


.


.


.


.


Cie... dapet bunga. Bunga dari siapa itu, ya 🤔🤔


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2