Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
128. Titik Terang


__ADS_3

“Ngapain, sih, lo ke sini segala?” tanya Zeo sinis.


Zeo mengembuskan napas beratnya. Entah apa yang sebenarnya mau dua temannya itu lakukan lagi?


Betapa tidak tahu malunya mereka ….


Setelah apa yang mereka lakukan kepada Zeo, kini mereka berniat kemari untuk menemui Zeo, meski ini sudah sangat malam. Sebenarnya Zeo sudah melarang mereka, tetapi kata mereka, mereka sudah hampir sampai kemari.


Ah, sial! Padahal Zeo hanya ingin hidup tenang di sini setelah banyaknya masalah yang mengganggu pikirannya.


Oh, Tuhan. Apa ini kutukanmu kepada Zeo?


Padahal usia Zeo masih sangat muda. Kenapa masalah terus datang silih berganti?


“Ya udah. Tapi jangan lama-lama di sini,” ujar Zeo akhirnya mengalah. Dia pun mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.


Zeo kembali melangkah mendekati anaknya. Rupanya Joffy tengah bermain sendiri dengan kedua tangannya di atas sofa. Zeo pun meletakkan ponselnya di atas meja sebelum duduk di atas sofa.


“Joffy belum mau tidur?” tanya Zeo. Padahal ini sudah malam, tetapi anaknya masih belum mau berhenti bermain. Entah apa yang sebenarnya anak itu tengah mainkan.


Joffy mendongak. Dia menghentikan kegiatannya.


“Tadi siapa yang nelpon, Ma?” tanya Joffy dengan senyum semringah. Seolah bisa menebak siapa sosok di balik sambungan telepon itu.

__ADS_1


“Mbak Tiwi sama Kakak Satria. Katanya mau ke sini,” jawab Zeo dengan senyuman. Berharap semoga kedatangan kedua orang sialan itu mampu membantu rasa bosannya Joffy. Sudah beberapa hari ini Joffy tidak merasa semangat.


Setelah mendengar jawaban itu dari ibunya, Joffy menunduk. Dia mengerucutkan bibirnya. Zeo yang melihat itu jadi keheranan. Kenapa niatnya malah menjadi sebaliknya?


“Kamu kenapa, Nak?” tanya Zeo.


“Papa kok enggak nelpon-nelpon, ya, Ma? Terus ke sininya kapan?” Joffy akhirnya mencuatkan rindu dalam hatinya selama ini.


Seketika senyum Zeo menurun. Mendengar kata ‘papa’ membuatnya merasa tidak nyaman. Di satu sisi, dia juga merasakan hal yang sama seperti Joffy, sedangkan di sisi lain, dia harus berbohong kepada Joffy.


Tangan Zeo bergerak mendorong pelan dagu Joffy sehingga tatapannya terangkat ke arahnya.


“Kan, Mama udah bilang, Papa lagi sibuk kerja di luar kota,” jawab Zeo.


“Mungkin masih satu bulan lagi, Nak,” jawab Zeo sembarangan.


Ekspresi di wajah Joffy malah semakin sebal. “Tapi aku kangennya sekarang, Ma,” rengek Joffy.


Zeo mengangkat senyumnya. Kemudian mengangkat tubuh Joffy dan memindahkannya ke atas pangkuannya.


“Mama juga kangen sama Papa. Tapi untuk sekarang, kita harus bersabar. Karena Papa, nanti bakal datang dengan membawa kehidupan bahagia,” hibur Zeo. Kemudian tangannya bergerak mengusap dahi dan membenahi dahi Joffy. Barulah dia meninggalkan kecupan di sana.


“Selamat malam, Joffy,” ucap Zeo.

__ADS_1


Baru saja Joffy menutup kelopak matanya, tiba-tiba pintu rumah Zeo terbuka.


Ah, sial! Lagi-lagi Zeo lupa tidak mengunci pintunya. Sialnya lagi, Joffy juga tidak jadi masuk ke dalam dunia mimpinya.


“Baaang …,” rengek Zeo kepada laki-laki berkemeja kotak-kotak yang berdiri di tengah pintu dengan seperangkat mainan masak-masakan.


Apa dia akan memberikan mainan itu kepada Joffy.


Dasar kakak sialan! Padahal Zeo sudah bercerita dengan jelas kalau anaknya berjenis kelamin laki-laki. Kakaknya itu benar-benar seseorang yang jail.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2