
Hendri malah meringis tanpa rasa bersalah. Dia masuk lalu langsung duduk di atas sofa di depan Zeo. Dia meletakkan mainan itu ke atas meja.
“Hei, Joffy!” panggil Hendri, “itu Om bawakan mainan untukmu.”
Hendri mengangkat kepalanya sehingga pandangannya mengarah ke Zeo. “Apa dia udah tidur?” tanyanya.
Zeo menggelengkan kepala. Kemudian dia memberikan isyarat bagi Joffy untuk menoleh.
Joffy sendiri mengumpat dalam hati. Mainan berwarna merah muda itu tidak ada keren-kerennya. Sepertinya mainan itu akan berakhir di tangan Putri.
Joffy mendongak. Dia hendak melihat wajah pamannya yang selalu mamanya ceritakan sebagai manusia paling berbahaya, seolah monster corona.
“Eh, Om, kan ….” Joffy mengangkat telunjuknya dengan dahi berkerut, Dia berhasil mengenali Hendri.
Dahi Hendri juga melahirkan kerutan di wajahnya. Lalu telunjuknya turut terangkat dan mengarah ke arah Joffy. “Kok anaknya Tiwi sama Satria ada di sini?”
Terakhir, Zeolah yang melukis kerutan di dahinya.
“Anaknya Tiwi?”
… Dengan Satria lagi.
Lelucon macam apa ini?
Hendri menganggukkan kepala dengan lugunya.
__ADS_1
“Tapi ini anakku, Bang,” ujar Zeo.
Hendri terperangah. “Padahal jelas-jelas Tiwi sama Satria yang bilang gitu di taman,” jelas Hendri.
Permainan macam apa ini?
Apa yang tengah Satria dan Tiwi mainkan tanpa sepengetahuan Zeo?
Kenapa mereka tidak mengatakan apa pun sampai Zeo tidak tahu.
Ah, sial! Setelah enam tahun berlalu, apa mereka berganti posisi menjadi pembuat ulah?
Belum lenyap ekspresi terkejut di wajah Zeo, kini dia terperangah saat mengangkat kepala, malah menemukan dua orang yang tergesa-gesa memasuki pintu.
Rupanya Tiwi dan Satria yang sudah berdiri di tengah pintu dengan ekspresi wajah seolah mengatakan, “Mati aku!”
Tepat di depan mereka, Hendri, Zeo, dan Joffy duduk bersama. Tidak perlu bertanya atau dijelaskan, mereka sudah mengerti alur cerita yang sudah berjalan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Zeo jadi kebingungan sendiri. Dia pun menoleh ke arah Joffy. Sepertinya hanya anak kecil ini satu-satunya orang yang bisa dia percayai.
“Apa kamu tahu sesuatu, Joffy?” tanya Zeo.
Joffy menggelengkan kepala. “Waktu di taman, Mbak Tiwi sama Kakak Sat bilang kalo aku anaknya mereka ke Om ini—“ Joffy menunjuk Hendri “—Tapi aku enggak tahu apa-apa. Jadi aku diam,” ujar Joffy.
Kini Zeo mengerti apa yang telah terjadi. Dia hanya tidak mengerti apa yang menjadi alasan kedua temannya ini bersikap seperti itu.
__ADS_1
“Kalian berdua, duduk!” titah Zeo. Usai melihat ke arah Tiwi dan Satria, dia memindah penglihatannya ke arah sofa lain di sebelahnya.
Tiwi dan Satria sebenarnya merasa ragu. Mereka sempat senggol-senggolan siku satu sama lain. Pada akhirnya mereka berjalan pelan bersama ke arah sofa itu. Hendri terus menatap ke arah mereka. Makanya kedua orang itu hanya menunduk.
“Jelasin apa yang terjadi!” titah Zeo, “kenapa Bang Hendri sampai ngira kalo Joffy anak kalian dan kenapa kalian juga ngaku-ngaku soal itu. Jangan mengelak karena aku percaya penuh sama anakku.”
“Ze … semua terjadi gitu aja,” ujar Tiwi dengan suara lemah.
“Mana ada sesuatu yang terjadi gitu aja. Semua perlu niat dan rencana,” elak Zeo.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1