Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
166. Dugaan


__ADS_3

Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.


Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.


Cuz ….


z z z z z z


“Satria habis ngelamar cewek,” ujar Zeo.


Dahi Bara berkerut. Ia tidak salah dengar, kan?


Apa anak itu sebegitu inginnya mempunyai istri?


Setelah hendak menikahi Zeo, siapa lagi targertnya sekarang?


Apa dia tidak tahu kalau usianya masih begitu muda? Masa depannya teramat jauh di hadapan!


“Sama siapa?” tanya Bara.


“Tiwi,” jawab Zeo.


“Tiwi temanmu itu?”


Zeo menganggukkan kepala.


“Kok bisa?”


Zeo menggelengkan kepala.


“Beneran Tiwi temanmu yang punya anak seusia Joffy itu, kan?”

__ADS_1


Zeo menggigit bibir. Ia tak berani menggerakkan kepala. Menggeleng adalah kebohongan, sedangkan mengangguk, ia merasa tidak enak hati. Memiliki anak saat masih muda, apalagi di luar pernikahan bukan sesuatu yang patut dibanggakan.


Bara mengembuskan napas beratnya. Satria yang mau menikah, malah dirinya yang mulai kepikiran.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zeo mendapati Bara belum memberikan tanggapannya.


“Jadi kapan mereka menikah?” Bara berusaha mengalah.


“Itulah masalahnya,” timpal Zeo.


Bara mengerutkan dahi.


“Tiwi menolak. Makanya Satria kemari. Dia memintaku untuk membujuk Tiwi agar menerima tawarannya.” Zeo memonyongkan bibirnya, memasang wajah cemberut. “Apa yang harus kulakukan?”


“Lakukan sesuai pilihanmu,” jawab Bara dengan tenang. Tanpa khawatir jika apa yang Zeo pilih adalah kecerobohan.


… Lagi pula ini bukanlah kehidupannya.


Kuharap kalian mau menyisakan waktu untuk meninggalkan like dan komentar dukungan. Sejak ada regulasi baru dari Mangatoon, mood menulisku sudah menurun. Jadi, kalau aku tidak mendapatkan dukungan dari Mangatoon, kuharap para pembacalah yang mau mendukungku.


Terima kasih.“Kayaknya Satria, eh, Tuan Satria udah bilang yang sebenarnya sama lo.” Tiwi memalingkan wajahnya ke samping. Enggan menanggapi permintaan Zeo.


“Dia kan udah kasih lo waktu. Kenapa enggak lo jadiin waktu ini sebagai kesempatan lo buat berpikir?”


Akhirnya Tiwi menoleh. Ia memamerkan kedua alisnya yang tertarik dengan ekspresi protes. “Memikirkan apa? Kenyataannya, enggak akan ada hubungan lebih di antara aku dan Tuan Satria. Aku akan menganggap diriku begitu lancang, bahkan jika aku hanya memikirkannya.”


“Jadi, halangan lo karena itu?” Zeo menebak.


Tiwi menarik alisnya lagi. Masih tak mengerti.


“Kalau lo pikir, status kalian yang berbeda, adalah halangan buat kalian bersama; lo salah. Lo enggak seharusnya pikirin itu. Cukup Satria. Dan Satria enggak berpikir kalau status kalian adalah sesuatu yang memberatkan,” jelas Zeo.

__ADS_1


“Kenapa lo pikir kayak gitu? Apa karena gue cuma pelayan?” Tiwi merasa tersinggung.


“Enggak gitu, Wi.”


Tiwi menarik napas, lalu mengembuskannya berulang-ulang. Kemudian menoleh ke Putri yang hanya bisa menyimak. “Nak. Kamu tunggu di sini sebentar dulu, ya.”


Putri menganggukkan kepala.


Tiwi mengalihkan perhatiannya kepada Zeo. “Ikut gue dulu.”


“Ke mana?”


“Apa lo pikir, pembicaraan kita cocok buat jadi konsumsi pekerja di sini?”


Zeo menoleh ke sekitar. Sebenarnya tidak ada banyak orang. Namun, sesekali ada satu atau dua yang lewat. Tiwi benar. Meski sekilas, orang yang mendengarkannya bisa menjadikan obrolan ini sebagai gosip panas di antara para pelayan.


Zeo pun bangun dan berjalan mengikuti Tiwi. Mereka masuk menuju kamar Tiwi.


-o O o-


o


o


o


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2