
Zeo berjalan mendekat. Dia memegang tangan Hendri lalu menariknya sehingga terduduk di sofa yang sama. Kemudian Zeo meletakkan kantong plastik itu ke atas meja. Dia mengeluarkan seluruh isinya. Kemudian mengambil beberapa lembar kapas dan sebotol obat antibiotik.
Tidak perlu bertanya, Hendri sudah tahu apa yang akan Zeo lakukan kepadanya. Perempuan itu hendak mengobati lukanya rupanya.
“Maafin Abang. Abang tadi kelepasan,” tutur Hendri dengan suara melemah.
“Enggak papa, Bang. Lagian Abang enggak sepenuhnya salah, kok,” timpal Zeo.
Hendri bernapas lega. Rupanya Zeo tidak hanya membela Tiwi sebagai sahabatnya.
“Abang juga udah salah paham. Abang kira kamu pergi dari sini gara-gara pernikahan mereka. Ternyata kamu beneran nikah sama orang lain,” imbuh Hendri.
Zeo menghentikan gerakan tangannya. Dia melihat Hendri dengan dahi yang berkerut. Tidak mengerti apa maksud perkataan Hendri sebenarnya.
“Apa maksudmu, Bang? Pernikahan? Siapa?” tanya Zeo.
“Selain ngaku-ngaku Joffy sebagai anaknya mereka, mereka juga ngaku-ngaku jadi sepasang suami istri. Jadi, aku ngiranya mereka udah nikung kamu dari belakang. Karena sakit hati, kamu jadi pergi ke luar negeri.” Hendri memalingkan wajahnya. Dia merasa malu telah dibodohi oleh mereka berdua. “Ah, sial! Aku prihatin kalo kamu sampai patah hati, malah kamunya enak-enakan di luar negeri.”
“Jadi, yang Abang bilang ke aku kemarin soal ini?” tebak Zeo. Akhirnya dia mulai berhasil menyatukan satu per satu puzzle yang berpencar.
“Iya,” jawab Hendri.
Kini Zeo yang merutuki dirinya sendiri. Rupanya dia sudah salah paham kepada Tiwi. Lalu dengan amarah yang berapi-api dia menyerang Tiwi dan Satria sampai mereka kebingungan mau menjawab apa. Tentu saja mereka bingung. Mereka, kan, tidak melakukan apa-apa.
-oOo-
Tok tok tok!
“Ummms ….”
“Aaaahs ….”
Sayang sekali, desahan itu belum berhenti sehingga membuat suara ketukan pintu itu tenggelam.
__ADS_1
Tok tok tok!
“Ummms ….”
“Aaaahs ….”
Percuma saja. Suara desahan yang memenuhi kamar ini lebih keras dibandingkan ketukan pintu yang berada di bagian rumah paling depan.
“BRAK!”
“BRAK!”
“BRAK!”
“DOR!”
“JDAR!”
“Shit!” umpat Shira.
“Ada apa?” tanya Alex.
“Sepertinya ada anjing kelaparan yang memakan pintuku,” jawab Shira.
“Mana ada anjing yang seperti itu?” elak Alex.
“Dengarkan saja. Mana ada manusia yang mengetuk pintu seperti kuli yang mau menghancurkan rumah?” sindir Shira.
“BRAK!”
“DOR!”
Suara itu belum berhenti juga.
__ADS_1
“Bangunlah!” titah Shira sembari mendorong dada kekar yang berada di atasnya. Namun, laki-laki yang masih menindihinya itu lebih kuat. Dia belum juga melepaskan kuncian tangannya.
“Tinggal sedikit lagi,” pinta Alex memelas.
“Saat hasratmu terpenuhi, saat itulah rumahku hanya tersisa bekasnya saja,” sindir Shira.
“Ah, sial!” umpat Alex. Dengan terpaksa dia melepaskan sesuatunya. Kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa lemah di atas ranjang di samping Shira.
Kini giliran Shira yang bangun. Dia bergegas menutupi tubuh telanjangnya dengan baju tidur kimononya. Dia pun berjalan pergi dari kamar itu dan meninggalkan kekasihnya yang baru dia temui tadi malam di pantai.
Shira membuka pintu. Seketika alis kanannya terangkat. Dia tidak salah lihat, kan? Bara kembali mengunjunginya setelah kekacauan yang terjadi sebelumnya.
“Ada apa?” tanya Shira.
Bara langsung memperbaiki penampilannya. Sebenarnya, menunggu pintu ini terbuka membuatnya kehilangan banyak tenaga.
“Menemuimu,” jawab Bara.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1