
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
“Memberikan tujuan buat Putri.”
Tiwi tertegun.
“Lo masih egois, Wi. Lo lebih mementingkan diri lo dibandingkan kebahagiaan Putri.”
“Emang tahu apa lo soal gue?”
“Gue udah tahu banyak. Termasuk asal uang yang lo kasih ke Satria.”
“Gue enggak seperti yang lo bayangin. Soal uang itu ….”
“Gue enggak bayangin apa pun soal lo. Gue cuma tahu apa yang terjadi, bukan pikiran atau perasaan lo. Apa pun itu enggak bisa dijadiin alasan buat lo melupakan kebahagiaan Putri. Lo bahkan meninggalkan anak lo gitu aja ke gue. Lo … udah gagal jadi orang tua, Wi. Gue harap lo mau merubahnya.”
“Gue hanya berusaha yang terbaik.”
__ADS_1
“Lo hanya berusaha yang terbaik buat lo bukan buat anak lo. Dulu lo nolak lamaran Satria karena takut orang-orang melihat lo dengan rendah di samping Satria. Itu sama aja kayak lo takut berjuang. Semua enggak ada yang mudah, Wi. Kalau lo milih jalan mudah, terlalu sulit buat lo dapatin kebahagiaan. Jadi, Wi. Ayo balik ke rumah Satria.”
“Tapi, Ze ….”
“Ayolah, Wi. Anggap aja ini demi Putri.”
Tiwi mengembuskan napas beratnya. Mungkinkah ini iya?
-oOo-
Langkah Tiwi berhenti di depan pintu. Untuk sejenak, ia merasa ragu. Sekali saja ia melangkah, kehidupannya akan meloncat terlalu jauh. Apa Tiwi akan sanggup menanggungnya?
Tidak, Wi! Kamu harus sanggup! Ini demi Putri! Ya. Hanya untuk anak itu.
Tiwi membeku. Ia tidak pernah membayangkan bisa mendapat perlakuan seistimewa ini. Rupanya Satria memang tidak sekadar ucapan mencintainya.
Jantung Tiwi berdegup kencang. Seolah kakinya akan luruh saat itu.
Namun, bukan itu semua yang paling hebat sekarang, melainkan keberanian Tiwi menatap Andi yang duduk di sofa di belakang Satria.
Tentu saja Andi tidak terlihat senang dengan kedatangan Tiwi. Laki-laki paruh baya itu tidak akan menyambut pelukan Tiwi dengan tepuk tangan. Dia memalingkan tatapannya. Enggan melihat pemandangan memuakkan ini. Jika bukan karena permintaan Satria, Andi tidak akan mau melihat Tiwi.
Berulan-ulang Tiwi mengembuskan napas beratnya. Berusaha menguatkan diri agar tidak kalah dalam prasangka buruknya sendiri.
__ADS_1
Setelah pelukan itu terlepas, Tiwi izin ke kamar untuk merapikan barang-barangnya sendiri. Sedangkan Andi memilih pulang. Tidak ada obrolan sok akrab di antara mereka berdua.
-oOo-
Pernikahan Tiwi dan Satria digelar tidak terlalu mewah. Hanya membuat acara sederhana di aula kecil atas permintaan Tiwi. Tiwi tidak mau menjadi pusat perhatian banyak orang. Ia belum terbiasa dengan itu.
Tidak ada pre wedding dan tidak ada bulan madu. Mereka berdua memutuskan untuk menjadi orang tua Putri sebaik mungkin. Menjaga dan memberikan didikan yang selayaknya. Sedangkan Satria memutuskan akan bekerja bersama Andi selepas pernikahan ini.
-oO o-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1