
“Ya udah,” jawab Zeo akhirnya mengalah.
“Tapi kalo lo nanti sembuh, gue tetap bakal ajak anak gue ke rumah kakeknya,” tutur Zeo.
Tiwi mengangguk penuh antusias.
Tak lama kemudian, Zeo pun pulang dengan menggeret kopernya. Dia bahkan belum berpamitan kepada Joffy. Dia khawatir kalau Joffy sampai memaksa ikut dengannya.
“Terus kita harus bagaimana?” tanya Satria kebingungan.
“Kok lo tanya gue, sih? Kan, lo yang pinter,” timpal Tiwi.
“Tapi lo yang bikin rencana ini,” tukas Satria.
Ah, sial! Rupanya kedua orang ini sama-sama terlibat!
“Kalo abangnya Zeo sampai tahu kalo Joffy adalah keponakannya dan bukan anak gue, lo yang mati, bukan gue!” seru Satria.
“Lo, sih! Malah ngaku-ngaku jadi suami gue!” tukas Tiwi.
__ADS_1
“Gue, kan, cuma bantu lo,” jelas Satria.
“Apa gue pernah minta bantuan lo?” sindir Tiwi.
“Jadi, maksud lo ini salah gue?” tanya Satria. Dia menunjuk dirinya sendiri.
“Enggak,” jawab Tiwi. Dia memalingkan wajahnya dan menyembunyikan tatapan sinisnya. Lagi pula majikan mana pernah salah.
Heh! Satria mengembuskan napas beratnya. Meski semua kesialan ini hanya akan menimpa Tiwi, Satria turut memikirkan jalan keluarnya.
“Sebaiknya lo istirahat dulu aja, deh. Nanti aja cari jalan keluarnya. Seenggaknya kita butuh pikiran yang tenang,” ujar Satria menyerah. Dia sedang menghadapi kebuntuan rupanya.
Tiwi menganggukkan kepalanya. “Ya udah, deh.” Dia setuju.
-oOo-
Roda kecil itu akhirnya berhenti menggelinding di atas rumputan yang menguasai halaman. Senyum terpancar cerah di wajah Zeo. Bola matanya memantulkan binaran kebahagiaan. Akhirnya ….
Setelah bertahun-tahun tinggal di Rusia, Zeo sendiri tidak menyangka kakinya bisa berpijak di depan rumah yang sudah lama tak terjangkau kedua matanya. Rumah itu berbeda jauh dari terakhir kali dia melihat. Kalau dulu sangat kumuh bahkan terlihat bobrok, lebih terlihat seperti kandang sapi; kini benar-benar terlihat kalau ada manusia yang menghuninya. Cat putihnya begitu bersih. Gentingnya tidak menghitam lagi. Bahkan lantainya memantulkan kilauan. Maklum, tanah yang menjadi alas rumahnya telah ditutupi oleh keramik putih. Sepertinya kakak sialannya telah mencapai kesuksesan. Zeo benar-benar bersyukur untuk itu. Kalau dia sendiri, dia tidak yakin bisa memberikan ini semua kepada keluarganya.
__ADS_1
Zeo sadar kalau dirinya sudah sangat mengecewakan keluarganya. Orang tuanya sudah menyekolahkannya susah payah, bahkan sampai membawanya ke kota, sedangkan Zeo malah membuan kesempatan itu begitu saja. Makanya dia pergi dari Indonesia ini. Dia tidak mau membuat kekecewaan keluarganya semakin bertambah karena fakta kehamilan di luar pernikahannya. Belum lagi, mereka masih harus mendengar apa kata tetangga. Jika Zeo tidak bisa memberikan yang terbaik buat keluarga, bukan berarti dia akan memberikan keluarganya sesuatu yang buruk juga.
Sebelum Zeo melanjutkan langkahnya untuk mengetuk pintu, rupanya pintu itu sudah terbuka. Seorang perempuan dengan beberapa rambutnya yang telah memutih keluar dari sana. Mulutnya membuka. Dia terkejut atas apa yang terlihat oleh kedua matanya. Semua ini seolah mimpi.
Zeo tersenyum. Kemudian memanggil perempuan itu, “Ibu!”
Mata Bu Ani berbinar-binar. Dia menoleh ke arah pintu. “Pak, Bapak!” teriaknya memanggil suaminya.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗