
Tiba-tiba udah 100 aja, Guys ππ
Moga gak bosen-bosen ama cerita ala sinetronku ππ
Cuz ....
Btw, aku kasih kabar sekarang, cerita ini udah hampir tamat. Enggak tahu kapan, karena belum selesai ngetik. Sebenarnya aku enggak tertarik buat nambahin cerita pernikahan buat Zeo. Cuma, aku pengen bangun sebuah cerita spin off beralur unik. Dan buat itu, aku harus menuntaskan kisahnya Zeo dan kawan-kawan dulu ππ
Spin off itu beda sama squel, ya. Kalau squel, itu kelanjutan cerita sebelumnya dengan tokoh utama yang sama. Tapi kalau spin off, itu seperti dunia lain dari cerita sebelumnya, yang artinya, tokoh utamanya udah beda. Kira-kira karakternya siapa, ya, yang mau kubikinin cerita? π€π€π€ ada yang mau kasih saran? ππ
Cuz ...
πππ
Tak lama, akhirnya Bara sampai di depan sebuah kursi tunggu. Dia berhasil menemukan ponsel Zeo. Namun, dia tak berhasil menemukan keberadaan Zeo.
Pandangan Bara berputar ke sekeliling. Ke mana sebenarnya Zeo pergi. Kenapa dia begitu terburu-buru sampai meninggalkan ponsel itu di sembarang tempat?
Bara tidak memiliki sumber petunjuk lain lagi. Dia hanya bisa menyerah dengan kakinya yang terasa lemas. Dia menyesal telah meninggalkan Zeo begitu saja. Seharusnya dia tidak pergi β¦.
β¦ Bahkan jika itu demi kebaikan Zeo sendiri.
Kenyataannya, tidak ada kebaikan yang melebihi kebersamaan.
-oOo-
Satria melirik ke jam yang melingkar di atas pergelangan tangannya. Benda itu sudah mengatakan kalau waktu telah berlarut dalam malam. Namun, Satria tetap kukuh. Dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Tiwi.
Seperti biasa, Satria membuka pintu itu tanpa ketukan. Bedanya, dia tidak langsung masuk, malah langsung menutup.
__ADS_1
Satria menyandarkan kepalanya di pintu itu. Berusaha menormalkan pernapasannya.
Tidak-tidak. Apa yang Satria lakukan baru saja tidak pernah terjadi. Hanya dirinya yang tahu.
Brak! Pintu itu membanting karena terdorong tubuh Satria sebelum dikunci. Satria sendiri membanting ke lantai.
βWAAA!β jeritan Tiwilah yang menyambut Satria.
Tanpa berani menoleh, Satria langsung keluar dari kamar itu dan menutupnya.
βMaafkan aku!β teriak Satria dengan mendekatkan bibirnya ke pintu.
Kini Satria melangkah menjauh. Dia menyesali apa yang telah dia lakukan. Bahkan dia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya lagi dari Tiwi. Setelah ini, Satria tidak akan bertindak ceroboh lagi. Dia benar-benar menyesal!
Tak lama, Tiwi pun keluar dalam balutan gaun biru tua yang panjangnya sampai di bawah lutut, dengan kepala menunduk. Wajahnya masih memerah. Dia hanya berdiri di belakang Satria. Tidak berani berdiri di sisinya.
βTu-tuan,β panggilnya lirih.
βMaafin gue soal tadi. Gue enggak tahu kalo lo lagi ganti baββ
βUdah,β kata Tiwi berusaha memotong nasi yang sudah menjadi bubur. Mengingatnya saja sudah memalukan, apalagi kalau sampai dikatakan.
βGue β¦ gue cuma cariin Joni. Soalnya ada yang mau gue tanyain,β ujar Satria menjelaskan niat aslinya.
βDia lagi tidur. Apa perlu saya bangunkan?β tanya Tiwi.
βEnggak usah. Lagian ini enggak segitu pentingnya, kok,β timpal Satria.
βKalo gitu β¦ gue balik dulu,β pamit Satria. Dia langsung melangkahkan kakinya ke sembarang arah, asal bukan ke Tiwi. Dia tak mau kalau perempuan itu sampai melihat wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Satria menggeleng-gelengkan kepala.
Dasar Tiwi! Memangnya mau ke mana dia sampai mengganti baju di tengah malam? Dia tidak akan tidur dengan mengenakan baju itu, kan?
Ah, sial! Kenapa Satria harus memikirkan itu? Dia bahkan tidak berani menanyakannya.
Sudahlah, Satria. Sebaiknya kamu tidur saja. Entah bisa ataukah tidak.
Sepertinya amat sulit bagi Satria untuk tidur nyenyak dengan apa yang membayang-bayangi pikirannya β¦.
-oOo-
Kaki Tiwi terasa berat sedangkan tubuhnya terasa lemah. Namun, Tiwi tetap harus mengangkatnya. Membawa beba berat dalam hatinya menuju sebuah tempat yang sudah dijanjikan.
Meski pergi keluar dari kediaman Satria, Tiwi tidak berdandan cantik layaknya perempuan-perempuan seusianya. Dia malah tidak berdandan. Penampilan berbeda hanya akan menambah kecanggungannya.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku πππ
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih π€π€