Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
100. Menemukan Dering


__ADS_3

Tiba-tiba udah 100 aja, Guys πŸ™„πŸ™„


Moga gak bosen-bosen ama cerita ala sinetronku πŸ˜†πŸ˜†


Cuz ....


Btw, aku kasih kabar sekarang, cerita ini udah hampir tamat. Enggak tahu kapan, karena belum selesai ngetik. Sebenarnya aku enggak tertarik buat nambahin cerita pernikahan buat Zeo. Cuma, aku pengen bangun sebuah cerita spin off beralur unik. Dan buat itu, aku harus menuntaskan kisahnya Zeo dan kawan-kawan dulu πŸ˜†πŸ˜†


Spin off itu beda sama squel, ya. Kalau squel, itu kelanjutan cerita sebelumnya dengan tokoh utama yang sama. Tapi kalau spin off, itu seperti dunia lain dari cerita sebelumnya, yang artinya, tokoh utamanya udah beda. Kira-kira karakternya siapa, ya, yang mau kubikinin cerita? πŸ€”πŸ€”πŸ€” ada yang mau kasih saran? 😁😁


Cuz ...


πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


Tak lama, akhirnya Bara sampai di depan sebuah kursi tunggu. Dia berhasil menemukan ponsel Zeo. Namun, dia tak berhasil menemukan keberadaan Zeo.


Pandangan Bara berputar ke sekeliling. Ke mana sebenarnya Zeo pergi. Kenapa dia begitu terburu-buru sampai meninggalkan ponsel itu di sembarang tempat?


Bara tidak memiliki sumber petunjuk lain lagi. Dia hanya bisa menyerah dengan kakinya yang terasa lemas. Dia menyesal telah meninggalkan Zeo begitu saja. Seharusnya dia tidak pergi ….


… Bahkan jika itu demi kebaikan Zeo sendiri.


Kenyataannya, tidak ada kebaikan yang melebihi kebersamaan.


-oOo-


Satria melirik ke jam yang melingkar di atas pergelangan tangannya. Benda itu sudah mengatakan kalau waktu telah berlarut dalam malam. Namun, Satria tetap kukuh. Dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Tiwi.


Seperti biasa, Satria membuka pintu itu tanpa ketukan. Bedanya, dia tidak langsung masuk, malah langsung menutup.

__ADS_1


Satria menyandarkan kepalanya di pintu itu. Berusaha menormalkan pernapasannya.


Tidak-tidak. Apa yang Satria lakukan baru saja tidak pernah terjadi. Hanya dirinya yang tahu.


Brak! Pintu itu membanting karena terdorong tubuh Satria sebelum dikunci. Satria sendiri membanting ke lantai.


β€œWAAA!” jeritan Tiwilah yang menyambut Satria.


Tanpa berani menoleh, Satria langsung keluar dari kamar itu dan menutupnya.


β€œMaafkan aku!” teriak Satria dengan mendekatkan bibirnya ke pintu.


Kini Satria melangkah menjauh. Dia menyesali apa yang telah dia lakukan. Bahkan dia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya lagi dari Tiwi. Setelah ini, Satria tidak akan bertindak ceroboh lagi. Dia benar-benar menyesal!


Tak lama, Tiwi pun keluar dalam balutan gaun biru tua yang panjangnya sampai di bawah lutut, dengan kepala menunduk. Wajahnya masih memerah. Dia hanya berdiri di belakang Satria. Tidak berani berdiri di sisinya.


β€œTu-tuan,” panggilnya lirih.


β€œMaafin gue soal tadi. Gue enggak tahu kalo lo lagi ganti baβ€”β€œ


β€œUdah,” kata Tiwi berusaha memotong nasi yang sudah menjadi bubur. Mengingatnya saja sudah memalukan, apalagi kalau sampai dikatakan.


β€œGue … gue cuma cariin Joni. Soalnya ada yang mau gue tanyain,” ujar Satria menjelaskan niat aslinya.


β€œDia lagi tidur. Apa perlu saya bangunkan?” tanya Tiwi.


β€œEnggak usah. Lagian ini enggak segitu pentingnya, kok,” timpal Satria.


β€œKalo gitu … gue balik dulu,” pamit Satria. Dia langsung melangkahkan kakinya ke sembarang arah, asal bukan ke Tiwi. Dia tak mau kalau perempuan itu sampai melihat wajahnya yang memerah.

__ADS_1


Satria menggeleng-gelengkan kepala.


Dasar Tiwi! Memangnya mau ke mana dia sampai mengganti baju di tengah malam? Dia tidak akan tidur dengan mengenakan baju itu, kan?


Ah, sial! Kenapa Satria harus memikirkan itu? Dia bahkan tidak berani menanyakannya.


Sudahlah, Satria. Sebaiknya kamu tidur saja. Entah bisa ataukah tidak.


Sepertinya amat sulit bagi Satria untuk tidur nyenyak dengan apa yang membayang-bayangi pikirannya ….


-oOo-


Kaki Tiwi terasa berat sedangkan tubuhnya terasa lemah. Namun, Tiwi tetap harus mengangkatnya. Membawa beba berat dalam hatinya menuju sebuah tempat yang sudah dijanjikan.


Meski pergi keluar dari kediaman Satria, Tiwi tidak berdandan cantik layaknya perempuan-perempuan seusianya. Dia malah tidak berdandan. Penampilan berbeda hanya akan menambah kecanggungannya.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih πŸ€—πŸ€—


__ADS_2