
Berhari-hari telah terlewati. Tak terasa tiga hari hari ujian telah tiba. Sedangkan dua hari ke depan adalah hari libur. Bara sungguh orang yang profesional. Dia tidak mau bekerja di hari itu. Dia ingin bersantai-santai saja.
“Sekarang hari terakhir ya, Pak?” kata Zeo usai menutup bukunya. Wajah masamnya tidak terlihat karena tertimpa petang.
“Iya. Dan mulai besok seterusnya, kamu enggak akan pernah ganggu saya lagi,” sahut Bara merasa lega.
“Apa Bapak segitu merendahkan saya?” Zeo merasa tersinggung.
Zeo langsung bangun. Dia merasa kesal karena Bara terus meremehkannya. Padahal dia sudah berusaha keras untuk sampai di sini. Dia bersiap pergi pulang. Tiba-tiba langkahnya berhenti karena Bara memeluknya dari belakang. Ini benar. Memang Bara yang memeluk Zeo.
“Untuk yang terakhir,” kata Bara lirih.
Zeo mendengar itu. Seketika amarahnya hilang. Dia malah tertawa pelan. “Tenang aja, Pak. Ini enggak aka jadi yang terakhir. Karena saya akan pastikan untuk mendapatkan nilai itu,” sahut Zeo yakin.
Zeo tersenyum sangat lebar. Dia bahkan tidak tahu kalau nilai itu tidak akan mempengaruhi apa-apa. Enam puluh atau delapan puluh, pelukan itu akan menjadi yang terakhir baginya.
__ADS_1
***
Di hari pengumuman nilai ujian, Zeo benar-benar seperti siswi teladan. Dia mendatangi sekolah dengan tas besar dan kacamata. Rambutnya terkuncir rapi. Dia melakukan itu agar tidak mendengar teman-temannya mengatakan, “Kok bisa, sih? Apa dia pakai susuk?” Zeo berusaha membuat mereka percaya saat nilainya benar-benar keluar.
“Hari ini kok masih pakai susuk, apa kata dunia?”gumam Zeo.
Banyak anak berkumpul di depan papan pengumuman. Saling berdesak-desakkan tidak sabar. Zeo menggeleng-gelengkan kepala. Itu bukanlah cara yang baik untuk menyingkirkan lawan.
“Kalian semua hanya akan saling menyakiti …,” gumam Zeo.
“ … Jadi biar gue aja yang menyakiti,” gumam Zeo menambahi dengan tersenyum miring.
Zeo mencium kedua tangannya. Baunya sungguh … berbeda-beda tapi tetap satu.
“Gue harap gue enggak bakal dapat sesuatu yang mengecewakan setelah perjuangan gue buat sampai ke sini,” gumam Zeo bersabar.
__ADS_1
Pandangan Zeo segera berkeliling naik turun untuk mencari namanya. Biasanya dengan mudah Zeo menemukan karena nilainya selalu berada paling ujung—bawah. Namun, kini namanya tidak ada di bawah, apalagi di atas. Nama Satria masih bertengger gagah di atas sana.
Tak lama, Zeo pun menemukan namanya bertengger di tengah-tengah. Dia langsung meloncat-loncat di antara kerumunan itu sampai menyakiti kaki teman-temannya. “Hore!” teriaknya. Dia tidak peduli pada hujatan yang dilemparkan teman-temannya.
Rasa sakit yang dirasakan teman-temannya otomatis membuat mereka menjauhi Zeo. Zeo pun keluar dengan mudahnya. Setelah bebas, loncatannya semakin tinggi saja. “HORE! Delapan puluh dua!” teriaknya kegirangan.
Lekas Zeo berlari mencari Bara di mana-mana. Ruang guru, seluruh kelas, perpustakaan, bahkan atap. Namun, aroma Bara bahkan tak tercium sedikit pun. Akhirnya langkah Zeo berhenti di parkiran. Bukannya menemukan Bara, dia malah bertemu Satria. Entah sudah berapa minggu tak bertemu.
“Hai,” sapa Satria dengan mengangkat telapak tangannya.
“Ha-hai …!” balas Zeo merasa tidak nyaman. Ini bukan yang diinginkannya.
“Ngapain lo di sini?” tanya Zeo.
“Nunggu lo,” jawab Satria.
__ADS_1