
Update terakhir malam ini ....
Cuz ....
💃💃💃
Tiwi pergi ke kawasan taman. Padahal ini sudah larut malam. Kebetulan anak-anak sudah tidur. Jika tidak, kepergiannya hanya akan menimbulkan kecurigaan.
Dari belakang, Tiwi melihat punggung laki-laki sudah lebih dulu menempati bangku di sana. Tiwi pun bergegas. Kemudian duduk di samping laki-laki itu.
“A-ada apa, Mas Hendri?” tanya Tiwi mengharapkan inti saja. Dia sadar kalau dirinya tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak hanya untuk berbasa-basi.
Laki-laki itu yang rupanya Hendri menoleh. “Kamu udah datang rupanya,” sambutnya.
Tiwi tak lagi menyahut. Dia hanya menundukkan kepala.
“Di mana Zeo?” tanya Hendri.
“Aku enggak tahu,” jawab Tiwi.
“Bukannya kepergian adikku itu gara-gara kamu?” tuduh Hendri.
Tiwi terkejut. Dia pun menoleh. “Apa maksudmu?” Dia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Hendri.
Hendri tersenyum sinis. Dia menganggap ekspresi lugu yang berada di wajah Tiwi sekadar tempelan.
“Bukannya kamu udah tahu lebih jelasnya?” sindir Hendri.
“Tapi aku enggak mengerti maksud kamu,” jelas Tiwi.
__ADS_1
“Adikku menghilang, itu karena pernikahanmu dan Satria, kan?” tuduh Hendri.
“A-apa?” Tiwi terperangah. Dia kembali menoleh.
“Kalian benar-benar membodohi keluarga kami. Mengatakan kalau adikku pergi untuk menikahi laki-laki lain hanya untuk menutupi pengkhianatan kalian. Aku benar-benar enggak menyangka kalian bisa sejauh ini. Padahal kalian adalah orang-orang terdekat adikku. Sekarang aku bahkan tidak tahu di mana adikku berada. Entah dia masih hidup atau sudah tiada,” tutur Hendri menjelaskan kesimpulannya sendiri.
“Itu enggak benar, Bang. Zeo pergi bukan karena kami!”
… Bahkan pernikahan Satria dan Tiwi bukanlah kebenaran.
“Kalau gitu, kenapa dia pergi? Dia bahkan enggak pernah kasih kabar selain surat dan foto pemandangan. Entah itu benar darinya atau cuma rekayasa kalian.” Hendri semakin memperpedas tuduhannya.
“Bang Hendri nuduh kami …?” Tiwi lebih tidak percaya ini.
“Kalau gitu, katakan, ke mana Zeo pergi?” timpal Hendri.
“Dia ikut suaminya,” ujar Tiwi.
“Aku bahkan baru tahu kalau Zeo ada di Rusia,” jawab Tiwi.
Hendri tertawa pelan. Apa dengan Tiwi berkata begitu, Hendri akan mempercayainya begitu saja?
“Kalau gitu cari tahu di mana dia,” titah Hendri.
“Tapi bagaimana caranya?” timpal Tiwi.
“Aku enggak tahu. Itu urusanmu,” tutur Hendri. Dia pun mengangkat pantatnya. Bersiap untuk pergi.
“Bang!” seru Tiwi merasa keberatan.
__ADS_1
Hendri menoleh. “Aku kasih kamu waktu satu bulan. Kalau dalam satu bulan kamu enggak bisa bawa Zeo pulang ke rumah, aku akan melaporkanmu ke pihak hukum,” ancam Hendri.
“Laporin apa? Kami beneran enggak tahu apa-apa!” seru Tiwi berusaha meyakinkan sebelum semuanya semakin terlambat.
“Penculikan mungkin?” ujar Hendri. Kemudian mulai melangkahkan kakinya dan meninggalkan Tiwi yang terjebak dalam kefrustasian sendiri.
Tiwi mengacak-acak rambutnya sendiri. Kesal akan kehidupannya yang tidak pernah menjadi lebih baik lagi.
Ah, sial! Kenapa semua malah semakin rumit?
Bagaimana Tiwi akan mencari Zeo?
Perempuan sialan itu bahkan mungkin sudah melupakan dirinya sebagai sahabat baik selama beberapa bulan.
Apa Tiwi harus meminta bantuan Satria?
Tidak-tidak. Tiwi malah tidak berpikir baik tentang itu.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗