
Zeo berbelok. Kini langkahnya mendekati mereka bertiga.
“Ma!” seru Joffy kegirangan. Dialah yang melihat Zeo pertama kali.
Seketika bola mata Tiwi membelalak. Dia pun memberanikan diri menoleh. Benar. Zeo memang berada di belakangnya. Seketika dia merasa gelisah.
“Ze-ze-ze ….” Tiwi memaksakan diri untuk memasang senyum, meski tergores tipis.
Tiwi langsung bangun. Sedangkan Joffy langsung berlari untuk memeluk lutut ibunya.
“Mama. Kenapa pergi enggak bilang-bilang. Joffy, kan, carinya ke mana-mana,” protes Joffy. Dia mendongak dan mengedip-edipkan kelopak matanya. Memamerkan wajah imut yang sudah Zeo rindukan selama beberapa hari ini.
Zeo mengukir senyum di wajahnya. Dia juga menumpulkan tajamnya pedang di matanya. Kini dia terlihat ramah. Seolah-olah amarah dalam hatinya tak pernah ada. Kemudian dia menaikkan Joffy dari tanah, dengan menggendong anak kecil itu.
“Makanya Mama ke sini. Buat jemput kamu,” timpal Joffy.
Mata Joffy mengeluarkan binar-binar. “Beneran, Ma? Apa kita akan pulang? Joffy udah rindu salju,” tutur Joffy begitu senang.
Tangan Zeo bergerak mengusap-usap rambut anaknya. “Enggak, Sayang. Buat sementara waktu, kita akan tinggal ke rumah kakek kamu. Dia udah nunggu dari kemarin-kemarin buat ketemu kamu,” ujar Zeo.
“Kakek?” Dahi Joffy mengernyit. Dia menggaruk-garukkan kepala di bagian atas telinganya, meski tidak gatal. “Kakek yang mana?” tanyanya. Dia tidak ingat bertemu laki-laki tua yang menyandang status sebagai kakeknya.
“Kakeknya Joffy dari Mama. Nanti Joffy pasti tahu kalo udah ketemu,” timpal Zeo.
Zeo menurunkan Joffy ke tanah lagi.
__ADS_1
“Putri!” panggil Zeo pula.
Putri berjalan mendekati Zeo. “Iya, Tante,” sahutnya.
“Kamu pergi ke sana dulu, ya, sama Joffy,” pinta Zeo. Dia menunjuk sebuah pohon besar yang sangat jauh jaraknya, dari posisinya.
Jika Putri menganggukkan kepala, Joffy malah menggelengkan kepala tidak setuju. “Enggak mau,” tolaknya, “nanti Mama tinggalin Joffy lagi.” Joffy mengerucutkan bibirnya sehingga terlihat begitu imut.
Zeo tetap tersenyum. Dia membungkuk untuk menyamai tingginya dengan kepala Joffy. Kemudian tangannya bergerak naik turun mengusap kepala anak tunggalnya itu.
“Enggak, kok. Mama cuma mau bicara aja sama Tante Tiwi. Mama, kan, ke sini emang buat jemput Joffy,” bujuk Zeo.
Joffy diam untuk beberapa saat. Dia tengah menimang keputusannya.
“Baiklah,” timpal Dodik. Akhirnya dia memilih untuk mempercayai ibunya.
Zeo menganggukkan kepala.
Puas dengan jawaban Zeo, Joffy pun menarik tangan Putri dan mengajaknya pergi ke tempat yang Zeo tunjukkan. Mereka pun bermain lari-larian di sekitar sana.
“Ze,” panggil Tiwi saat hanya tersisa mereka berdua saja di sana.
Zeo memusatkan perhatiannya ke Tiwi. Kini, dia terus terang menampilkan ekspresi tidak suka di wajahnya.
“Apa lo enggak terburu-buru? Joffy masih nyaman, kok, di sini,” ujar Tiwi berusaha membujuk Zeo untuk mengurungkan niatnya. Dia dan Satria masih belum memiliki rencana. Mungkin hanya sampai di sini saja yang bisa dia perjuangkan.
__ADS_1
“Gue kecewa sama lo,” tutur Zeo terus terang.
Tiwi menjadi gugup. Dia tidak siap dengan komentar Zeo yang seperti ini.
Apa Zeo sudah tahu tentang kebohongannya kepada Hendri?
Apa Hendri juga sudah tahu kebenarannya?
Ah, sial! Ke mana, sih, kamu Satria?
Tolong jangan biarkan Tiwi kesulitan sendirian di sini!
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗