
“Eh, Zeo …,” kata Bara berhasil mengenali Zeo.
“Iya, Pak. Ini saya, Zeo,” sahut Zeo.
Bara mengerutkan dahinya. “Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyanya heran.
“Karena saya ada untuk Bapak …,” begitulah Zeo menjawab.
….
Entah siapa yang dulu, tetapi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, benar-benar terjadi. Sesuatu yang tak pernah Zeo duga dan masuk dalam pikiran Zeo yang lugu, malah membangkitkan ego Zeo yang merasa lelah akan perjuangan, sehingga menginginkan Bara lebih dari sekadar guru dan murid: segalanya.
Mengingat bagaimana Bara menolaknya dan membuatnya termakan sendirian oleh rindu, Zeo tidak mau lagi. Terserah apa yang akan terjadi nanti, jika dia mendapatkan Bara malam ini, dipikirnya akan mendapatkan Bara sepenuhnya.
… Dan akhirnya, Zeo berhasil mendapatkan Bara malam ini. Ranjang luas yang masih bisa ditiduri oleh tiga atau empat orang lagi, malah dikuasai oleh mereka berdua sendiri.
Tidak perlu dijelaskan lebih rinci. Kalian pasti tahu jelas apa yang terjadi saat itu: antara laki-laki dan perempuan yang hanya berdua saja.
Sayangnya, harapan Zeo hanya sekadar harapan. Dia berhasil mendapatkan Bara malam ini, tetapi tidak sepenuhnya. Surga yang berhasil digenggamnya saat itu, pecah begitu saja.
“Maafkan aku …, Dahlia …,” bisik Bara usai memberikan usapan terakhir di lengan Zeo. Nama bunga yang begitu indah itu, terdengar menusuk seperti duri di telinga Zeo.
Da-dahlia?
__ADS_1
Siapa dia?
Perempuan dari mana, dia?
Seketika tubuh Zeo bergetar.
Bukan dari mana perempuan bernama Dahlia itu berasal, tetapi siapa Zeo bagi Bara sampai memaksa masuk dalam kehidupan Bara. Bisa jadi, bukan Dahlia yang tiba-tiba masuk dalam malam Bara dan Zeo; tetapi Zeolah yang mencuri sebuah malam dari kehidupan Dahlia dan Bara. Itu berarti, Zeolah pengacau di sini.
Zeo langsung mendorong tubuh Bara sehingga tubuhnya terbebas. Kemudian segera mengenakan seluruh pakaiannya.
Zeo bergegas pergi dari kamar itu. Penampilannya benar-benar acak-acakan. Seragamnya bahkan tidak terkancing rapi. Sedangkan rambutnya sudah seperti sarang burung. Masih mending sarang burung malahan.
Bukan hanya penampilannya, hati Zeo malah lebih tak keruan. Kaki Zeo menjadi lemas seolah-olah tak mampu lagi berjalan. Namun, dia harus segera pergi dari tempat ini. Karena Zeo sadar betul, rumpah ini bukanlah tempat yang benar baginya.
… Kalimat yang Bara bisikkan di tengah-tengah ketidak-sadarannya ….
***
Benarkah Bara membisikkan itu di tengah-tengah ketidak-sadarannya?
Mungkinkah orang akan mabuk hanya karena segelas minuman?
Tidak! Zeo salah! Segelas minuman tidak cukup untuk membuat Bara tidak sadarkan diri!
__ADS_1
Bara sangat sadar saat itu, termasuk apa yang dia lakukan kepada Zeo.
Bara bukannya dimabukkan oleh minuman itu. Sama seperti Zeo, Bara juga mabuk oleh ego dalam dirinya: ego untuk memiliki Zeo sepenuhnya.
Namun, ini salah!
Bara sangat menyesal karena itu ….
Setelah kepergian Zeo, Bara berulang kali mengacak-acak rambutnya sendiri.
Apa yang kamu lakukan, Bara?
Usia Zeo masih sangat jauh dari tingkatan dewasa. Kehidupan panjang apa yang hampir saja kamu hancurkan?
… Atau sudah Bara hancurkan?
-oOo-
Haduuuh …. Ini aku nekad banget, lho, ambil topik ini. Sebenarnya aku sempat ragu dan bahkan berniat menghentikan cerita ini gitu aja. Waktu aku lanjutin, pun, ceritanya jadi acak-acakan dan enggak jelas. Buat pembaca lama, aku minta maaf karena enggak bisa kasih kalian cerita yang memuaskan. Semoga penyesalanku bisa terbayar dengan revisiku.
Ada salah, ada akibat, dan ada penyelesaian; itu adalah rumus untuk beberapa cerita yang kubuat. Untuk setiap cerita yang kubuat, aku selalu memikirkannya dengan matang-matang, kecuali romance komedi kayak dua cerita di sebelah. Kalau itu kubikin cuma buat hiburan aja.
Jadi, mohon untuk berkomentar baik dan yang mendukung. Karena komentar dari kalian benar-benar segalanya buatku.
__ADS_1