
“Gue kasih lo waktu sepuluh menit buat ngomong sesuatu ke gue,” jelas Satria.
“Tapi, ngomong apa, Tuan?” Tiwi kebingungan sampai menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
“Ya, terserah kamu!” seru Satria.
“Tapi, apa, ya?”
“Satu menit udah berlalu.”
Tiwi pun diam. Dia berusaha benar-benar memikirkan. Akhirnya dia mengatakan sesuatu, “Terima kasih, Tuan.”
Satria menoleh. “Untuk apa?” tanyanya.
“Udah jaga anak saya,” jelas Tiwi.
“Terus?”
“Udah.”
“Cuma itu aja?”
Tiwi menganggukkan kepala.
“Lo enggak mau bilang sesuatu yang lain gitu?”
Gantian kepala Tiwi yang menggeleng. “Kan, waktunya udah habis,” jawabnya dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Ah, sial! Satria terus-terusan mengumpat dalam hati. Entah apa yang dia harapkan dari perempuan bodoh ini.
Satria pun bangun. Kemudian pergi begitu saja tanpa meninggalkan pamit. Kepala seolah akan meledak karena kebodohan Tiwi.
-oOo-
Zeo menoleh ke belakang sekali lagi. Bara yang berada di dalam mobil malah menggerakkan jemarinya ke arah depan, memberikan isyarat pengusiran kepada Zeo dengan tenangnya.
Ah, sial! Apa yang sebenarnya Zeo harapkan dari laki-laki tidak peka itu!
Zeo membalikkan tubuhnya lagi. Kini bibirnya mengerucut sebal. Dia melangkahkan kakinya lebih cepat. ke depan. Entah laki-laki macam apa suaminya ini ….
Mana ada laki-laki yang menyuruh istrinya untuk menemui selingkuhannya?
… Hanya Bara seorang!
Ya. Malam ini Zeo berjalan pergi untuk menemui Shira: seorang selingkuhannya Bara dan pelakornya Zeo. Entah penjelasan apa yang akan Zeo dapatkan dari perempuan itu, Zeo benar-benar muak dengan semua ini!
Ah, sial! Baru saja Zeo memikirkan, kini dia sudah melihat perempuan itu.
Tampak Shira tengah menikmati segelas jus buah di tengah-tengah sebuah rumah makan. Rumah makan itu tampak sepi, hanya terisi oleh Shira sendiri. Entah Bara atau Shira yang mengeluarkan uang untuk menyewa tempat ini, orang itu benar-benar tidak berguna. Menghabiskan uang seenaknya saja. Padahal Zeo kemarin sampai kesulitan hanya untuk pulang.
Tanpa sengaja pandangan Shira berhasil menangkap Zeo. Perempuan itu melambaikan tangannya seolah sudah akrab dan tanpa rasa bersalah. Apa dia pikir rumah tangga Zeo dan Bara adalah permainan seperti hubungan mereka berdua di masa lalu?
Heh! Zeo menenangkan diri sendiri. Di sini tidak ada Bara, jadi dia harus tenang atau gelas di tangan Shira akan melayang sampai merusak senyum penuh kelicikannya.
Zeo masuk ke tempat itu. Dia langsung duduk tanpa senyuman atau balasan sapaan.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Zeo tidak mau bertele-tele.
“Ayolah, tersenyumlah! Atau kamu takkan pernah bisa mengalahkan kecantikanku,” ejek Shira.
Zeo hanya melirik sinis. Tidak ada gunanya menyahuti gurauan Shira.
“Ternyata kamu orangnya enggak asyik juga, ya?” Shira malah tertawa sendiri.
Heh. Zeo mengembuskan napasnya. Kemudian mengangkat segelas jus di depannya. Tidak perlu dipersilakan, Shira tidak mungkin akan meminum kedua minuman itu, kan?
Setelah meminumnya, Zeo meletakkan kembali gelas itu. “Jadi, apa yang mau kamu jelaskan?” tanyanya lagi.
“Suamimu terus memaksaku dan memohon-mohon untuk menjelaskan ini. Jadi, baiklah. Sebenarnya malam itu, antara aku dan Bara—“
“Tidak terjadi apa-apa,” ujar Zeo memotong ucapan Shira.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗