
Bara menoleh. Seketika dia terperanjat dan langsung melompat sampai terjatuh di samping ranjang. Padahal bola matanya sudah membundar sempurna, tapi kenapa dia bisa melihat seseorang yang tak seharusnya bersamanya.
“Shi-shira!” pekik Bara menyebut nama itu.
Pergerakan Bara yang keras membuat perempuan yang tadinya terlelap di sampingnya turut terbangun. Shira menggeliatkan tubuhnya sehingga dalaman yang terbalut gaun tidur kimononya terpamerkan.
“A-apa yang kamu lakukan di sini?!” seru bara dengan mengangkat telunjuknya. Saat itulah dia sadar kalau kemeja biru tua yang dia kenakan, seluruh kancingnya terbuka sehingga dadanya yang sedikit kecokelatan itu terbuka.
Bara langsung mengunci kemejanya dengan tangan kanan, tanpa memasang setiap kancingnya. Lalu mengedarkan seluruh pandangannya ke sekitar.
“Bagaimana aku enggak di sini; ini, kan, rumahku,” tutur Shira. Kemudian dia menguap.
Kini Bara menyadari kenapa dinding cokelat ini terlihat asing. Rupanya dia tidak sedang berada di kamar sendiri. Lalu bagaimana dia bisa ada di sini?
Bara berusaha mengingat. Namun, kepalanya malah terasa sangat sakit. Kakinya terasa lemas. Seketika Bara bertekuk lutut di atas lantai. Tangannya berusaha menahan rasa sakit di kepalanya, sehingga kemeja itu terlepaskan dan kembali memamerkan dadanya yang bidang.
Shira langsung beranjak dari ranjang. Ekspresi wajahnya menjadi khawatir. Dia pun mendekati Bara.
“Apa kamu baik-baik aja?” tanya Shira.
Shira hendak membantu Bara. Namun, saat tangannya hendak menyentuh Bara, Bara langsung mengusirnya. “MENJAUH!” teriak Bara seolah singa yang tengah marah.
Bara benar-benar merasa frustasi. Dia kesulitan dalam mengingat kejadian kemarin malam. Sebenarnya apa yang terjadi? Bara sungguh ingin tahu itu?
__ADS_1
Meski ditolak, senyum Shira malah semakin merekah. Sudah lama dia tak melihat wajah menderita ini.
Samar-samar Bara mengingat sesuatu. Sebuah bayangan yang berada di atas tubuhnya. “Aku Shira …,” suara itu berdengung di kepalanya.
Seketika bola mata Bara membelalak. Dadanya terasa amat sesak. Sedangkan tubuhnya terasa kaku. Seolah semua hal yang dia inginkan, malah menjadi sebaliknya.
Apa yang sebenarnya terjadi persis seperti yang Bara pikirkan?
Tidak-tidak! Itu tidak mungkin terjadi! Kalau iya, Bara sudah pasti mengingatnya.
Bara melepaskan kedua tangannya yang turut menjadi lemas. Dia mengangkat kepalanya tanpa menurunkan lebar bola matanya.
“A-apa yang telah terjadi?” tanya Bara.
Ah, sial! Kenapa Bara harus menanyakan itu? Bukankah apa yang dia ketahui seharusnya cukup?
“KUTANYA APA YANG TERJADI?!” sentak Bara. Dia sama sekali tak tertarik dengan teka-teki ini.
“Tepat seperti apa yang ada dalam pikiranmu,” timpal Shira. Kemudian dia mulai tertawa.
Apa yang ada dalam pikiran Bara?
Memangnya apa yang berada dalam pikiran Bara?
__ADS_1
Bagaimana Shira tahu sebelum Bara mengatakannya?
Ah, entahlah. Bara akan berusaha mengingat sendiri nanti. Memangnya jawaban apa yang bisa dia dapatkan dari orang yang tidak lagi bisa dipercaya?
Bara langsung bangun. Ia segera berbalik dan pergi dari tempat terkutuk ini tanpa pamit sembari membenahi pakaiannya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Bara terus terbayang-bayangi bagaimana ekspresi Zeo nanti?
Apa dia akan menangis?
Bara sudah pergi entah berapa lama tanpa pamit atau pun kabar. Bisa-bisa Zeo sangat khawatir kepadanya. Semoga saja perempuan itu tidak sampai mati berdiri.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗