
Satria menutup pintu kamar itu. Dia sudah cukup puas dengan apa yang dia lihat. Namun, dia tak langsung pergi. Satria malah asyik berdiri bersandar dinding di samping itu. Dia malah tertawa dengan suaranya yang pelan. Rupanya kehidupan ini hanyalah lelucon. Satria mencari Zeo ke setiap bagian dunia, tapi perempuan itu malah bersembunyi di dalam rumahnya.
Lalu Tiwi ….
Apa benar seperti ini Tiwi yang Satria kenal?
Satria merasa khawatir akan kemarahan Tiwi, tetapi perempuan itulah yang mempermainkan dirinya.
-oOo-
Tiwi mengangkat tangan kanannya yang mengepal. Dia hendak mengetuk pintu kamar Satria, tetapi berulang-ulang urung. Dia sedikit ragu. Baru kali ini Satria memanggilnya masuk ke kamar.
Usai mengembuskan napas beratnya dan menenangkan diri sendiri, Tiwi pun mengukuhkan tekadnya. Lagi pula tidak ada yang bisa dia tolak dari seorang majikan.
Tok tok tok, suara ketukan pintu akhirnya.
“Sat. Ini gue,” imbuh Tiwi.
Tak lama, pintu itu terbuka. Laki-laki yang mengenakan kaus biru tua itulah yang membuka.
“Masuk,” kata Satria dengan ekspresi wajahnya yang dingin. Tidak seperti biasanya.
Meski merasa ragu, akhirnya Tiwi melangkahkan kakinya masuk.
Satria mempersilakan Tiwi duduk di atas sofa.
“Ada apa?” tanya Tiwi terus terang. Pintu kamar yang akhirnya menutup menambah ketidaknyamanannya. Kalau sampai ada pekerja yang melihat, apa yang akan mereka pikirkan tentang dirinya?
__ADS_1
“Ada yang mau gue tanyain ke lo,” sahut Satria.
“Apa itu?” Dahi Tiwi mengernyit.
“Lo pasti marah, kan, sama abangnya Zeo. Tapi kenapa di taman waktu itu, lo malah terus diam?” tanya Satria.
“Apa maksud lo?” tanya Tiwi.
“Masak enggak jelas aja, sih?” timpal Satria.
“Gue agak enggak jelas. Tapi gue enggak pernah marah sama Bang Hendri,” ujar Tiwi.
“Masa?” Satria ragu.
“Buat apa gue marah?” Tiwi malah bertanya.
“Lo sama dia, kan ….”
“Kalo Bang Hendri udah hamilin gue?” sahut Tiwi melanjutkan ucapan terpotong Satria.
Satria mengangguk. “Iya, Itu,” jawabnya.
“Gue emang marah, tapi bukan sama Bang Hendri, melainkan diri gue sendiri,” tutur Tiwi.
Satria mengernyitkan dahi. Jawaban itu sangat aneh bagi pikirannya.
“Iya. Dia emang hamilin gue. Tapi gue juga enggak nolak itu,” ujar Tiwi.
__ADS_1
“Tapi, cowok berengsek itu, kan, udah ninggalin lo,” tukas Satria.
“Putus atau nyambung, berpisah atau bersama, itu udah biasa dalam hubungan. Dan dia juga enggak kasih gue komitmen apa pun,” jawab Tiwi.
“Terus soal anak lo ….”
“Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup gue,” ujar Tiwi. Tiwi menghela napas sedalam-dalamnya. Kemudian mengusir rasa sesak dengan embus yang keluar dari mulutnya. “Bang Hendri bahkan enggak tahu kalau dia punya anak dari gue.”
“Kenapa dari tadi lo malah belain laki-laki sialan itu, sih?” Malah Satria yang tersulut emosinya.
“Kenyataannya cuma gue yang salah—CUMA GUE!” seru Tiwi. Terbawa oleh suasana, dia mulai menjatuhkan air mata.
“Gue yang egois enggak mau kasih tahu dia soal anak ini dan gue juga yang egois karena bunuh figur seorang ayah dari anak gue,” rengek Tiwi.
Itu hanya air mata yang sedikit. Namun, saat melihatnya, Satria merasa hatinya mendapat hujaman dari hujan tombak. Dia tidak mengerti Tiwi, tetapi dia merasakan rasa sakit sendiri.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗