
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
Tiwi menoleh. Sepasang suami istri berjalan mendekati kedua anak itu. Kemudian sang ayah menggendong salah satunya sehingga membuat satu anaknya menjerit karena iri.
Melihat keharmonisan keluarga itu, seperti sebuah benda tajam memasuki dadanya. Putri pasti akan bahagia jika memiliki orang seperti itu.
Menjadi ayah dan ibu?
Haha. Tiwi tertawa mengingat betapa angkuhnya dia memamerkan keputusannya dulu. Kenyataannya, Zeo benar, Tiwi bahkan tidak mampu menjadi ibu yang baik. Ia sibuk mengurus ini dan itu sampai kesulitan memberikan waktu untuk bermain bersama anaknya.
Tiwi mengangkat kepalanya ke atas. Melihat langit putih yang memudar terusir jingga menjadi latar belakang sekumpulan burung walet.
Apa langit itu bisa kugapai?
Apa aku tidak gila telah memikirkannya?
-oOo-Tiwi menggigit bibir kirinya. Ia merasa gugup. Sepertinya ia benar-benar gila.
Tangan Tiwi terangkat. Ia hendak mengetuk pintu di depannya. Namun, gerakannya berhenti. Seolah kedinginan membukannya.
Tangan Tiwi menurun. Sedangkan kepalanya menoleh ke sana kemari. Tidak ada siapapun di sekitarnya.
Tiwi menghela napas lalu mengembuskannya. Berusaha menguatkan diri. Lagi pula tidak akan ada yang melihatnya. Jadi, apa yang ia ragukan?
__ADS_1
Tiwi kembali mengangkat tangannya. Sebelum kepalan tangannya mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka dari dalam. Tangan Tiwi membeku dengan matanya yang melebar.
Satria yang berada di dalam melihatnya dengan alis kanan terangkat.
Tiwi langsung mundur beberapa langkah. Ia menundukkan kepala.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Satria.
Tiwi menggigit bibitnya. Lidahnya keluh sekadar mengungkapkan kata-kata.
“Wi,” panggil Satria.
“A … a … aku ….” Ini benar-benar sulit.
“Kamu kenapa?” tanya Satria.
“A … aku …. Aku tidak sengaja lewat,” akhirnya Tiwi mengelak.
“Sepertinya aku melihatmu mau mengetuk pintu kamarku,” tuduh Satria.
Mati kamu, Tiwi!
“E-enggak, kok,” elak Tiwi.
Satria mengembuskan napasnya. “Kalau ada yang mau kamu bicarain, gak papa. Mumpung aku belum pergi.”
Kedua tangan Tiwi mengepal erat di bawah. Terus saja meyakinkan dirinya untuk mewujudkan tujuannya. Namun, ia masih tidak mampu. Ia pun memilih pergi meninggalkan Satria.
“A-aku ada urusan,” pamit Tiwi sebelum pergi. Sedangkan Satria melihat tindakan anehnya keheranan.
__ADS_1
Setelah masuk kamarnya sendiri, Tiwi menutup pintu. Kemudian menyandari pintu itu hingga bersimpuh di bawahnya. Berusaha menormalkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Jika ia benar-benar mengatakannya, mungkin ia akan jatuh pingsan di hadapan Satria.
Setelah merasa dirinya lebih tenang, Tiwi memukul kepalanya pelan-pelan. Ia mengumpati diri sendiri dalam hati.
“Gila-gila-gila … aku udah gila ….”
Tok tok tok.
Gerakan Tiwi dihentikan suara ketukan pintu di belakangnya. Ia menoleh. Kemudian bangun dan membuka pintu itu.
Tiwi menjadi gugup saat menemukan Satria berdiri di hadapannya.
Ah, sial! Tiwi mengumpat dalam hati.
“Hai,” sapa Satria sembari mengangkat tangannya.
Ada apa ini? Tiwi keheranan akan aksi yang Satria berikan.
-o O o-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗