Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
78. Kekejaman Ibu Tiri


__ADS_3

Mama Zeo balik lagi 🤗🤗🤗


Selalu tinggalkan like dan komen biar Mama Zeo makin semangat ngisruhnya 😁😁


Cuz ....


💃💃💃


“Lo sewa tempat ini?” tanya Satria.


“Enggak,” jawab Zeo.


Satria mengernyitkan dahi. Kenapa keadaan ini terlihat tidak masuk akal?


“Kalau bukan lo yang sewa, terus kenapa tempat ini sepi banget?” tanya Satria.


“Kan, lo yang sewa,” celetuk Zeo.


“Kapan?”


“Nanti … waktu lo bayar.”


Satria berdengus kesal. Memangnya apa yang bisa diharapkannya dari perempuan ini?


Zeo menarik sebuah kursi, di mana dua gelas kopi sudah mengisi meja di depannya. Zeo pun duduk di kursi itu, lalu mempersilakan Satria untuk duduk di kursi di depannya.


Satria ikut menarik kursi itu dan duduk seperti yang Zeo katakan.


“Sekarang balikin kunci gue,” pinta Satria. Dia menyodorkan telapak tangannya.


“Enggak mau. Nanti lo langsung kabur lagi,” tolak Zeo.


“Jadi, lo enggak percaya gue?” tanya Satria.

__ADS_1


“Kalo lo tanya itu ke gue waktu enam tahun lalu, mungkin gue bakal iya. Tapi kalo sekarang enggak. Karena waktu bisa merubah orang dengan hebatnya,” tutur Zeo.


Tentu saja waktu memang merubah manusia. Karena Satria tidak akan melihat Zeo berkata seperti itu saat enam tahun yang lalu.


“Jadi, ada apa?” Satria langsung menanyakan intinya.


Zeo merogoh sesuatu dari tasnya. Kemudian menyodorkan tiga lembar foto ke Satria.


Satria menerima foto itu. Foto itu berisi gambar yang tidak asing baginya.


“Apa ini?” tanya Satria.


“Bandung, Lombok, dan Bali,” jawab Zeo.


“Terus?”


“Pilih salah satu.”


“Jadi, lo mau ngajak gue liburan?” tebak Satria.


“Enggak gitu maksud gue,” tutur Zeo.


Alis kanan Satria terangkat. Memangnya seorang Satria bisa salah?


“Gue, kan, enggak pernah ngerasain jadi pengantin baru sama bokap lo. Jadi, gue pengen ngerasain itu sekarang. Dan gue berniat bulan madu dalam waktu dekat. Sedangkan gue bingung mau pilih tempat mana yang cocok,” rengek Zeo.


Satria langsung bangun. Apa-apaan Zeo ini? Apa Satria sekadar lelucon? Berani-beraninya dia membicarakan laki-laki lain dengan masa lalu mereka yang tidak pernah terhapus?


“Gue enggak tertarik,” tutur Satria.


Zeo ikut bangun. Dia langsung menahan tangan Satria yang hendak pergi.


“Jadi, lo masih marah sama gue?” tebak Zeo.

__ADS_1


Satria menoleh. Dia langsung mengibaskan tangan Zeo darinya.


“Apa lo enggak pernah tahu itu atau lo pura-pura bodoh?” sindir Satria.


“Gue tahu lo emang bodoh. Tapi gue enggak yakin kalo lo emang sebodoh itu,” imbuh Satria.


“Tapi, kan, itu udah lama banget,” bela Zeo.


“Buat nyembuhin luka, bukan seberapa waktu lamanya, tapi selama-lamanya. Kalo lo mau gue ngelupain itu semua, seharusnya lo enggak muncul di hadapan gue sekarang,” tegas Satria.


“Waktu selama-lamanya, cuma cukup buat melupakan, bukan menyembuhkan. Lo bakal terluka lagi saat secuil kenangan muncul di depan lo,” timpal Zeo.


“Emangnya apa urusannya sama lo?” sindir Satria.


“Karena gue peduli sama lo dan gue pengen nyembuhin luka yang sekadar lo tutupin aja,” timpal Zeo.


“Gue enggak butuh!” seru Satria.


Satria melangkah untuk keluar dari area meja. Terserah dengan kunci motornya. Lagi pula dia tidak kekurangan uang untuk membeli seratus motor yang baru.


.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapam baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2