
Ini sudah beberapa hari sejak pertemuan Hendri dengan Tiwi. Namun, ia belum melepaskan Tiwi dari pikirannya. Laki-laki yang baru berkepala tiga itu masih termenung di sofanya. Padahal sudah enam tahun tak bertemu. Namun, pertemuan kali ini melahirkan pertanyaan di kepalanya.
Anak Tiwi dengan siapa itu?
Kedua anak itu sama-sama besar. Salah satunya malah mengenakan seragam TK. Padahal anak Hendri sendiri masih berusia empat tahun.
Kapan Tiwi menikah?
Kenapa Hendri tidak pernah mendengarnya?
Setelah enam tahun, rupanya baru sekarang Hendri terusik oleh Tiwi. Sebelumnya Tiwi bahkan tidak pernah menjadi apa-apa baginya, selain barisan perempuan yang mengisi masa lalunya.
“Yah,” panggil suara perempuan yang terdengar tidak asing.
“Oh, iya, Kira,” sahut Hendri usai menoleh, menemukan seorang perempuan berambut pendek yang berjalan ke arahnya, dengan memegang segelas kopi.
Kirana meletakkan kopi itu ke atas meja. “Minumlah,” katanya.
Hendri tersenyum dan mengangguk.
Kirana duduk di samping Hendri. Ia memeluk lengan laki-laki itu dengan manja.
“Apa yang kamu pikirkan sedari tadi?” tanya Kirana.
“Ha?” Alis kanan Hendri terangkat.
“Aku ada di sini. Untuk apa berpikir lagi,” timpal Kirana.
Hendri tertawa pelan. Kemudian mengusap kepala Kirana dengan penuh kasih sayang.
Benar, Hendri. Istrimu ada di sampingmu. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan sedari tadi?
Tiwi hanya berada di masa lalu. Bukan apa-apa, sekadar butiran debu.
__ADS_1
-oOo-
“Kakak ….”
“Kakak ….”
“Kakak ….”
Ah, sial! Joffy terus merengek dengan menarik-tarik tangan Satria sedari tadi. Satria yang tengah berusaha menarik mimpi, harus terus mengurungkan niatnya sedari tadi.
Satria menarik tangannya dengan kasar. “Apaan, sih!” sentaknya.
Joffy tidak lagi menjawab. Ia malah memanyunkan bibirnya dengan bola mata berkaca-kaca.
Ah, sial! Kenapa harus wajah itu lagi, sih?
Akhirnya Satria bangun. Untuk sejenak, ia menormalkan pernapasannya dulu. Menenangkan emosinya yang seola-olah akan mengobarkan api di mana-mana.
“Mbak Tiwi enggak mau keluar kamar,” tutur Joffy melaporkan.
“Kenapa?” sahut Satria.
Joffy menggelengkan kepala. “Enggak tahu. Setelah pulang dari taman, Mbak Tiwi terus diam di kamarnya.”
“Enggak mungkin, lah. Kalau Tiwi terus diam, terus gimana buang air kecilnya?”
Joffy mengerucut kesal. Apa sekarang waktunya bercanda?
“Ayo ajak Mbak Tiwi keluar,” ajak Joffy.
“Itu bukan urusanku. Jadi, ajak aja sendiri,” tolak Satria.
“Mbak Tiwi enggak mau kuajak,” jelas Joffy.
__ADS_1
“Kalau gitu, ajak yang lain,” dalih Satria.
“Enggak mau. Soalnya Putri cuma mau keluar kalau ada Mbak Tiwi,” elak Joffy.
“Putri itu siapa?” tanya Satria.
“Itu, lho, anaknya Mbak Tiwi,” jawab Joffy.
Bolehkah Satria menyebut ini sebagai modus?
Ah, tidak-tidak. Usia Joffy masih terlalu di bawah umur.
Satria mengembuskan napas beratnya. Sepertinya tidak ada salahnya menerima tawaran Joffy. Lagi pula dia sedang membutuhkan hiburan. Rupanya Satria sudah mulai bosan dengan perempuan.
“Ya udah. Ayo,” tutur Satria mengeluarkan keputusannya.
Satria bangun. Dia mulai beranjak dari kamarnya diikuti si bocah kecil. Sesampainya di kamar Tiwi, lagi-lagi Satria membuka pintu itu tanpa permisi. Tidak mengetuk pula. Lagi pula Joffy sendiri yang mengatakan kalau Tiwi terus diam saja. Jadi, Tiwi tidak mungkin mandi saat ini.
Oh, Satria .… Ini bukan kebiasaan yang baik, Nak.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1