Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
17. Kejutan


__ADS_3

Eh? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kursi ini berjalan sendiri? Bagaimana itu mungkin?


Zeo menunduk untuk melihat bagian bawah mobil itu. Dia semakin keheranan. Kursi itu tidak memiliki kaki, tetapi dia yakin benar kalau tempatnya duduk tengah bergerak.


“WAAA!” jerit Zeo saat menoleh malah menemukan Bara duduk di sampingnya dan tengah memutar setir mobil.


“Apa yang kamu lakukan?!” tanya Zeo dengan degup jantung yang begitu kencang.


Bara malah tersenyum. Zeo terlihat manis dengan wajah terkejutnya itu. “Justru sayalah yang bertanya, apa yang kamu lakukan?” Bara membalikkan pertanyaan. “Kenapa kamu melihat ke bawah kursi segala?”


Pandangan Zeo berputar ke sekitarnya. Kini dia sadar kalau dia berada di dalam mobil yang berjalan … sebuah mobil. Kemudian dia memukul dahinya sendiri. “Aku gila … aku gila … aku gila …,” gumamnya.


Tiba-tiba Bara menyentuh tangan Zeo untuk menahan tingkahnya itu. Seketika Zeo melemparkan tangan Bara dan menjauhkan tangannya sampai menabrak pintu mobil. Rasa kaget Zeo belum hilang. Bara malah tertawa pelan. Zeo terlihat semakin manis.

__ADS_1


“Apa dahimu enggak sakit?” tanya Bara perhatian.


“Oh ….” Zeo melihat ke atas enggak. “Enggak kok. Sa … sa ….” Zeo merasa kebingungan. “Ah ….” Tiba-tiba ide mendatanginya. “Saya cuma pusing. Saya emang suka mukul-mukul kepala kayak gini kalo lagi pusing,” kata Zeo berbohong sembari memukul-mukul dahinya lagi, bahkan lebih keras dari pukulan yang sebelumnya.


“Udah. Berhenti. Kepalamu bisa terluka nanti,” kata Bara melarang. Dia ikut meringis melihatnya meski hanya sekilah.


“Enggak papa, Pak. Saya suka kok. Rasanya lebih baik,” tolak Zeo.


“Bagaimana rasanya?” tanya Bara yang akhirnya membuyarkan lamunan Zeo.


“E-e-eh ….” Zeo memikirkan maksud perkataan Bara. “Ah ….” Akhirnya dia mengerti. “E-enak. Ta-tapi, kamu enggak perlu ngelakuin ini.”


“Katanya kamu pusing? Waktu saya masih muda, kata ayah saya pijatan saya ini yang terbaik,” timpal Bara membanggakan pijatannya.

__ADS_1


“Ma-maksud saya … kamu, eh, maksud saya, bapak kan guru dan saya murid. I-inikan bisa disebut kalo saya enggak sopan?”


“Lagipula kamu udah ngelakuin banyak tindakan enggak sopan ke guru-guru lain, termasuk saya,” sindir Bara.


Ah, sial! Setelah banyak tindakan tidak sopan yang dilakukan Zeo, untuk pertama kalinya Zeo menyesali itu.


“Di luar sekolah kamu enggak perlu panggil saya bapak lagi. Panggil om enggak papa. Tapi jangan panggil mas. Itu enggak sopan buat laki-laki yang udah punya keluarga,” tambah Bara.


“Tapi Bapakkan duda?” Entah apa yang dipikirkan Zeo sampai berani menanyakan itu.


Tiba-tiba tangan Zeo yang memegang kursi terpeleset. Dia terjatuh dengan kepala menatap pintu mobil. Bara yang belum melepaskan tangannya dari Zeo ikut terjatuh menindih Zeo.


***

__ADS_1


__ADS_2