Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
Bab 169


__ADS_3

Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.


Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.


Cuz ….


z z z z z z


“Hai,” sapa Satria sembari mengangkat tangannya.


Ada apa ini? Tiwi keheranan akan aksi yang Satria berikan.


Suasana menjadi semakin canggung.


“A-ada apa, Tuan?” Tiwi memberanikan diri bertanya.


“Aku tadi menemukan ini.” Satria menyodorkan sebuah kertas yang dilipat. “Kamu yang meninggalkannya tadi.”


Mata Tiwi melebar. Ia menerima kertas itu dengan tangannya yang gemetar. Bibirnya terasa keluh. Ingin sekali meminta penjelasan.


“A-aku ….”


“Aku juga sudah membaca.


Seolah jantung Tiwi berhenti berdegup. Matilah kau, Tiwi!


“Aku-aku ….” Tiwi berusaha menjelaskan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.


Satria malah tersenyum. “Terima kasih.”


“Tapi-tapi ….”

__ADS_1


“Kita akan membicarakan soal pernikahan kita segera,” tutur Satria. Kemudian pergi untuk mengabarkan kabar bahagia ini kepada dunia.


Ia begitu ragu. Namun, sudah tidak bisa merubah keputusannya.


-oOo-


Saat malam hari telah tiba, Tiwi mengendap-endap keluar dari rumah. Tadi siang, Andi, pamannya Satria menghubunginya dan membuat janji untuk bertemu. Sebenarnya Tiwi tidak merasa yakin. Ia merasakan pertemuan ini tidak menghasilkan kebaikan. Jika tidak, untuk apa Andi menyiapkan waktu di malam hari?


Laki-laki tua itu pasti berusaha menyembunyikan sesuatu dari Satria.


Sialnya Tiwi berstatus di bawahnya sehingga tidak bisa menolak. Ia hanya berharap kalau sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya.


Di depan dinding gerbang, sebuah mobil hitam mewah telah terparkir. Tiwi pun memasukinya. Kemudian melaju menjauh dari kediaman Satria. Mobil itu tidak pergi jauh. Hanya menuju jalan raya. Sekadar agar tidak terlihat orang-orang dari rumah.


Andi menyetir mobil itu sendiri. Sehingga hanya ada mereka berdua saja di sana.


“Pergi dari kehidupan keponakanku,” usir Andi tidak mau bertele-tele.


Andi menoleh. “Aku sudah mendengar soal keputusan kalian untuk menikah.”


Tiwi menundukkan kepala. Ia merasa malu. Sudah pasti Andi melihatnya sangat rendah.


“Mungkin ini terdengar kasar. Tapi aku hanya menginginkan yang terbaik untuk keponakanku. Seharusnya kamu sudah mengerti kualifikasi dirimu sendiri. Dan aku ingin dia bahagia. Dia sudah menderita sejak ayahnya meninggalkannya lalu disusul ibunya. Kuharap kamu mengerti itu.”


“Ma-maafkan aku …,” pinta Tiwi.


“Aku sempat ingin melarangnya menikahi Zeo di masa lalu. Hanya saja, semua sudah terlambat, Satria sudah bersikukuh pada keputusannya. Jadi, sebelum dia bertindak sama kepadamu, pergilah dari tempat ini segera. Menjauh dari kehidupan putraku.”


Tiwi menoleh dengan matanya yang melebar. “Pe-pe-pergi?”


“Apa kamu keberatan?” Alis kanan Andi terangkat.

__ADS_1


“Tapi aku tidak bisa pergi.”


“Menurut para pelayan, kamu memiliki masa lalu yang buruk. Tapi aku yakin kamu memiliki hati dan pikiran yang lebih baik dari masa lalumu. Kupikir, aku tidak perlu mengusirmu dengan ancaman.”


“Bukannya aku menolak perintahmu, Tuan. Tapi aku bekerja di sini untuk melunasi utangku. Jika tidak, aku udah pergi dari dulu.”


“Aku yang akan melunasinya.”


“Tapi utangku sangat banyak, Tuan.”


“Aku tidak memperitungkan apa pun jika menyangkut keluargaku. Karena mereka lebih berharga daripada uangku.”


Tiwi mengembuskan napas beratnya. Ia terpojok. Tak bisa mengelak lagi.


-oOo-


-o O o-


o


o


o


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2