
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
“Maka, kalian menikahlah. Jangan pikirkan apa pun. Om yang akan mengurus semua dan mengatur resepsinya.”
Satria tersenyum semringah. Ia kira pamannya akan menentangnya, atau setidaknya akan mempersulit dirinya. Namun, tidak. Laki-laki paruh baya itu terlihat sangat mendukungnya.
“Terima kasih, Om,” ujarnya. Kemudian menutup sambungan telepon itu.
Satria bergegas keluar dari kamar untuk mencari Tiwi dan menyebarkan kabar menyenangkan ini. Keberuntungan apa bagi Satria yang melebihi ini?
Setelah bersusah payah menggoyahkan hati Tiwi, akhirnya perempuan itu mau menerimanya.
Satria mengetuk pintu. Namun, tidak ada balasan. Satria tidak berani membuka pintu itu sembarangan lagi. Mungkin saja Tiwi sedang tidak berada di kamar mandi atau sedang berganti pakaian.
Satria memilih menunggu. Namun, pintu belum juga terbuka.
Seorang pelayan lewat di depan Satria. Pelayan itu menunduk. Satria langsung menghentikannya, “Tunggu!”
Pelayan itu menoleh dengan ekspresi keheranan.
“Apa kamu melihat Tiwi?” tanya Satria.
“Tidak, Tuan. Udah dari kemarin saya enggak lihat. Apa ada sesuatu?” timpal pelayan itu.
__ADS_1
“Oh, tidak. Kamu bisa pergi.”
Pelayan itu pun pergi.
Dahi Satria berkerut. Ke mana Tiwi sebenarnya sampai tidak bekerja?
Satria khawati kalau Tiwi tiba-tiba jatuh sakit tanpa ada seorang pun yang tahu. Ia pun nekat membuka pintu di belakangnya.
Sekali lagi Satria dibua heran. Tempat itu hanya berisi kekosongan. Segalanya terlihat rapi. Namun, kerapian ini tidak seperti terakhir kali dilihatnya. Tempat ini tidak berisi banyak barang. Seolah-olah seseorang tengah bersiap mengungsi.
Perhatian Satria tertarik pada sebuah tas besar di atas ranjang. Alis kanannya terangkat. “Apa Tiwi mau pergi?” Ia pun berjalan mendekat.
Satria menemukan secarik kertas yang ujungnya ditindih tas itu. Ia mengambil tas itu.
Aku pergi karena aku sudah bisa melunasi utangku.
Terima kasih untuk segalanya.
-oOo-
Zeo keheranan karena pagi-pagi seseorang sudah mengetuk pintunya berkali-kali. Keluarganya bahkan belum ada yang bagus. Kebetulan Zeo pergi ke kamar mandi tadi.
Zeo semakin heran saat menemukan Putri berdiri sendirian di depan pintu. Anak itu membawa sebuah tas yang entah penuh isi apa.
“Putri? Kamu ke sini, Nak?” sambut Zeo.
Putri menganggukkan kepala.
Zeo menoleh ke sana kemari. “Di mana ibumu?” tanyanya.
__ADS_1
Putri menggelengkan kepala.
“Apa maksudmu, Nak?”
“Ibu menyuruhku tinggal di sini untuk beberapa hari. Katanya, dia akan mencari rumah untuk tempat tinggal kami.”
“Rumah tempat tinggal?? Apa kalian udah enggak tinggal di rumah Satria lagi?”
Putri menganggukkan kepala.
“Tapi kenapa?”
Putri menggelengkan kepala.
Zeo membawa Putri masuk dan menyuruh anak itu duduk lebih dulu di sofa. Kemudian pergi keluar untuk mencari Tiwi di sekitar. Zeo membutuhkan penjelasan Tiwi. Dia yakin Tiwi lah yang mengetuk pintu tadi. Tangan kecil Putri tidak bisa bisa mengeluarkan suara ketukan sekeras tadi.
Sayangnya Zeo gagal. Ia kehilangan jejak Tiwi. Zeo hanya menunggu dengan harapan, Tiwi akan memberikannya kabar segera.
-oOo-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗