
Tiwi menoleh ke kanan kiri. Akan sangat tidak nyaman kalau sampai ada yang melihat dirinya, meski tidak ada yang terjadi di sana.
Setelah dirasa keadaan aman, Tiwi pun melangkahkan kakinya memasuki tempat itu.
Satria menutup pintunya kembali. Kemudian mempersilakan Tiwi untuk duduk di sofa.
“Jangan salah paham. Gue cuma bantu lo aja tadi. Gue tahu benar kalau lo enggak nyaman gara-gara cowok itu, tadi,” ujar Satria sebelum Tiwi melontarkan pertanyaannya.
“Iya. Saya tahu itu. Tapi ada hal lain yang harus Tuan jelaskan kepada saya,” sahut Tiwi.
“Apa?”
“Apa Tuan tahu sesuatu tentang saya?” Tiwi memberanikan diri menanyakan itu.
“Soal itu adalah bokap anak lo?” timpal Satria. Dia tersenyum sinis. Dikiranya apa. Ekspresi di wajah Tiwi begitu serius.
Tiwi menjadi terkejut. “Gimana Tuan bisa tahu?”
“Zeo udah cerita dulu,” tutur Satria tanpa rasa bersalah.
Tiwi mengepalkan tangannya yang tersembunyi.
__ADS_1
Ah, Zeo ….
Dasar perempuan sialan!
Apa dia tidak sekalian menceritakan kisah Tiwi ke satu negara?
“Jangan berburuk sangka ke Zeo. Dia cuma cerita biar gue bisa jaga lo,” tutur Satria berusaha meredam kekesalan Tiwi.
Untuk sejenak, Tiwi memerhatikan Satria yang mewarnai ketampanan wajahnya dengan senyuman. Sudah lama Tiwi tak melihat wajah yang akrab itu. Satria begitu baik. Dia bahkan masih membela Zeo setelah apa yang Zeo lakukan kepadanya. Tiwi benar-benar setuju kalau Satria akhirnya melepaskan Zeo. Karena Zeo bukanlah perempuan yang baik untuk Satria.
Tiwi percaya kalau Satria pantas mendapatkan perempuan yang sama baik dengan diri Satria.
Satria menaikkan alis sebelah. “Buat apa?”
“Soal yang tadi ….”
Meski Tiwi sendiri tidak yakin, apa bantuan Satria tadi akan membantunya atau malah membuat masalahnya semakin lebar saja.
-oOo-
“Apa kita benar-benar akan melakukan ini?” tanya Bara merasa keberatan.
__ADS_1
Zeo malah tersenyum lebar. Seolah-olah hidup ini seringan bulu ayam. Dia tak merasa bersalah sama sekali setelah apa yang dia lakukan kepada Bara. Kini dia malah mengusap-usap boneka telinga panjang yang berada di atas kepala Bara.
“Imutnya …,” puji Zeo.
Zeo melepaskan tangannya. Kini dia menyalakan kamera dari ponselnya.
Bara kembali mengembuskan napas beratnya. Saat Zeo menyuarakan hitungan ketiganya, tangannya bergerak menarik sesuatu dengan hati yang amat berat. Seketika telinga panjang tadi berdiri, persis seperti telinga yang juga menempel di atas kepala Zeo. Kilat yang berasal dari kamera Zeo pun menyala.
Setelah puas mengambil beberapa gambar, Bara langsung membuang benda itu. Itu adalah impiannya sepanjang satu jam ini.
“Kok, dibuang? Kalau aku mau ngambil gambar lagi gimana?” tanya Zeo dengan nada manja.
“Enggak sudi!” seru Bara. Kini dia malah menginjak-injak telinga itu dengan kejamnya.
Zeo mengerucut kesal. Bara benar-benar tidak tahu bagaimana caranya bersenang-senang.
Hari ketiga berada di tanah Bali, Zeo memutuskan untuk berjalan-jalan. Sekalian membeli oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia. Belum juga membeli satu barang pun, Zeo sudah berbuat ulah. Dia memaksa Bara untuk mengenakan topi bertelinga panjang dan mengambil gambarnya.
Kalau bukan karena cinta, demi Tuhan, Bara tidak akan melakukan hal konyol itu, bahkan untuk sedetik saja.
Kedua sudut bibir Zeo menaik. Dia puas dengan gambar-gambar yang berhasil diambilnya. Bara terlihat begitu imut dengan penampilannya. Kapan lagi bisa begitu?
__ADS_1