
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
Zeo pun bangun dan berjalan mengikuti Tiwi. Mereka masuk menuju kamar Tiwi.
Tiwi duduk lebih dulu di atas ranjang. Kemudian Zeo mengikuti.
“Gue … gue emang pelayan, Ze.” Tiwi menurunkan intonasi suaranya. Kini, ia bahkan seperti orang yang berbisik. “Tapi gue masih punya harga diri. Apa yang orang lain katakan tentang gue, tentang seorang pelayan yang menikahi majikannya. Apa lo kira ini sinetron Dewi Persik jaman kuno?”
“Mereka akan mengungkapkan kekagumannya sama lo.”
Apa ini begitu mudah bagi Zeo?
“Kenapa lo mikir semudah itu?”
“Karena saat lo udah jadi nyonya, lo udah berdiri jauh di atas mereka, dan mereka bekerja di bawah lo. Mana berani mereka membicarakan hubungan kalian?”
Tiwi menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya Zeo memang tidak tahu apa pun.
“Gue enggak bisa, Ze,” sekali lagi Tiwi memutuskan untuk menolak.
“Seenggaknya pikirin Putri.”
Tiwi menoleh. Dahinya berkerut. Apa hubungannya?
__ADS_1
“Tiwi masih kecil. Dia masih butuh figur seorang ayah,” jelas Zeo.
“Gue bisa jadi ibu sekaligus ayah,” tolak Putri.
“Kesibukan lo bahkan enggak bisa bikin lo jadi ibu yang baik, apalagi ayah,” sindir Zeo.
“Apa lo pikir gue enggak akan bisa?” Harga diri Tiwi merasa tersakiti.
Zeo mantap menggelengkan kepala. Tidak peduli jika itu akan melukai perasaan sahabatnya.
Tiwi terperangah mendapati tanggapan Zeo tanpa rasa bersalah.
“Lo … udah dua kali berbuat egois. Gue harap enggak lagi,” jelas Zeo.
“Apa maksud lo?”
“Bukannya lo yang udah merebut ayahnya Putri? Dua kali: saat lo memutuskan untuk merawat anak lo sendiri dan menolak lamaran dari abang gue.”
Sebelum Tiwi menyelesaikan kalimatnya, Zeo sudah memotong, “Apa pun alasannya, kenyataannya apa yang lo lakuin enggak pernah buat Tiwi. Tapi buat orang lain untuk bahagia sendiri dan buat lo agar tak menyesal nantinya.”
“Ze ….” Tiwi masih berusaha menjelaskan. Namun, Zeo malah bangun.
“Pertimbangkan lamaran Satria. Kalau bukan demi lo, seenggaknya pikirin anak lo,” tutur Tiwi. Kemudian pergi tanpa meninggalkan pamit.
Tersisa Tiwi sendiri di kamar. Kepalanya menunduk. Pikirannya dikeroyok kata-kata Zeo baru saja.
Sebenarnya Tiwi sempat menyesal sebelumnya. Namun ….
… sampai sekarang Tiwi masih menyesal.
__ADS_1
Jadi, keputusan apakah yang seharusnya Tiwi ambil?
-oOo-
Hari telah sore. Tiwi belum kembali ke rumah. Selepas kepergian Zeo, ia menenangkan diri di taman.
Dua anak-anak berlarian di taman itu. Kedua anak itu berwajah mirip. Hanya saja, berbeda jenis kelamin. Satunya perempuan berambut pendek dengan gaun merah muda. Sedangkan yang laki-laki mengenakan kaus hitam dipadukan celana pendek berbahan denim.
“Ma! Mama! Aku sampai duluan, Ma!”
Lamunan Tiwi tersadar. Ia menoleh ke sana kemari. Dikiranya Putri yang memanggil.
“Aku yang sampai duluan!”
“Ih, Kakak! Kakak curang!”
Tiwi mengembuskan napas beratnya. Rupanya kedua anak itu yang berteriak sembari melambaikan tangan ke arah lain.
-o O o-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗