Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
164. Menimbang


__ADS_3

Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.


Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.


Cuz ….


z z z z z z


Langkah Zeo berhenti. Tatapannya menjadi sayu saat melihat kegembiraan yang ada di antara sepasang ayah dan anak yang tengah bermain pancing-pancingan. Ia tahu bahwa dibalik itu tersimpan sebuah kekecewaan.


Padahal Zeo sudah berjanji pada Joffy sejak beberapa hari ini. Namun, ia malah mengingkari.


Senyum pada wajah Bara menurun saat pandangannya bertemu Zeo. Ia segera memalingkan ke arah lain. Seolah menusuk hati Zeo dengan punggungnya.


Zeo menghela napas sedalam-dalamnya. Berusaha menguatkan kakinya untuk mau melangkah mendekati mereka.


“Ma! Mama!” teriak Joffy kegirangan mendapati ibunya telah sampai.


Zeo segera memasukkan wajah sayunya ke dalam saku. Ia menyelimuti wajahnya dengan senyuman pula.


“Joffy … anak Mama …,” sahut Zeo kegirangan.


Joffy mengangkat sebuah ikan-ikanan berwarna biru yang masih menempel pada pancingnya. “Lihatlah, Ma! Aku dapat ikan! Tapi jangan digoreng! Kasihan Mamanya. Nanti jadi gila, lagi ….” Joffy meledakkan tawanya.


Sesampainya di dekat Joffy, Zeo mengusap pelan rambut anak itu. “Mainlah dulu,” ujarnya.

__ADS_1


Joffy pun membalikkan tubuhnya dan kembali fokus pada permainannya.


Zeo melirik ke samping. Namun, ia hanya menemukan punggung yang terbalut kain kemeja biru yang menemuinya. Ia mengembuskan napas. Menguatkan bibirnya untuk menaik lebih tinggi lagi. Kemudian menerkam Bara dalam pelukan dari belakang.


“Kamu ngapain, Sayang?” sapanya.


Bara langsung mendorong Zeo sehingga pantat perempuan itu tercumbu tanah di bawahnya. Zeo meringis tanpa mengeluarkan suara. Ini benar-benar sakit. Namun, ia tidak bisa marah.


Zeo kembali berusil. Ia sengaja menggelitik bagian samping tubuh Bara sehingga laki-laki itu menggeliat karena merasa geli.


Baru saja Zeo hendak mengeluarkan suara tawanya. Namun, Bara malah menangkis tangannya.


Bara membalikkan tubuh. Akhirnya wajah tampannya terungkap pula.


Ekspresi kesalnya itu sudah merubah wajah tampannya menjadi monster.


Ya …. Seorang monster.


“Apa-apaan, sih, kamu!” seru Bara mengungkapkan kekesalannya.


Zeo memonyongkan wajahnya. Memasang ekspresi imut. “Aku kan cuma mau peluk kamu,” jawabnya.


“Bukannya kamu enggak bakal ke sini? Udah, sana! Jauh-jauh dari aku!” usir Bara. Ia kembali memamerkan punggungnya.


Zeo tak mau menyerah. Ia kembali memeluk Bara. “Enggak mau. Maunya deket sama kamu,” gombal Zeo.

__ADS_1


Bara tak lagi menangkis. Membiarkan kera ini bertengger begitu saja di punggungnya.


“Sana-sana! Kamu kan lebih mentingin Satria daripada annakmu sendiri!” tukas Bara.


Zeo malah tertawa pelan. Ia mulai mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Rupanya Bara bukan mengambek karena dirinya telah melanggar janji, tetapi karena laki-laki itu cemburu kepada Satria.


Haha …. Di usia tuanya masih saja bertingkah seperti anak-anak. Untung Zeo Sayang ….


Zeo mengeratkan pelukannya. “Kamu cemburu, ya, sama Satria,” godanya. Tangannya bergerak menjawil pipi Bara yang mulai kecokelatan. Maklum saja, bertani bersama ayahnya membuat Bara lebih sering tercumbu terik dibandingkan ciumannya. Zeo tidak peduli jika beberapa ibu-ibu menggeleng-gelengkan kepala saat melihat tingkahnya di tempat umum ini.


-o O o-


o


o


o


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2