
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
Zeo mengeratkan pelukannya. “Kamu cemburu, ya, sama Satria,” godanya. Tangannya bergerak menjawil pipi Bara yang mulai kecokelatan. Maklum saja, bertani bersama ayahnya membuat Bara lebih sering tercumbu terik dibandingkan ciumannya. Zeo tidak peduli jika beberapa ibu-ibu menggeleng-gelengkan kepala saat melihat tingkahnya di tempat umum ini.
“Enggak,” elak Bara. Ia melirik ke arah samping.
“Jagan cemburu, dong!” paksa Zeo.
“Enggak, kok, enggak!” Bara menegaskan.
“Kalau gitu jangan ngambek,” paksa Zeo lagi.
“Bodo amat,” timpal Bara.
“Ya udah. Kalau gitu biar aku larinya ke Bara,” ancam Zeo.
Bara mendorong tangan Zeo sehingga pelukan itu terlepas. Akhirnya ia menghadapkan pandangannya menuju Zeo.
“Sekarang aku udah lihat kamu: puas kamu!” seru Bara mengungkapkan rasa kesalnya.
Zeo meletakkan tangannya di depan bibir. Ia cekikikan.
“Iya. Aku sangat puas sekarang,” Zeo malah menimpali tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Bara mengembuskan napas beratnya. Ia tak mau berkutat pada rasa kesalnya terus menerus. Ia memilih menyudahi masa ngambeknya.
“Tapi … Satria ke mana? Dia enggak ke sini juga?” tanya Bara.
“Dia udah pulang malah,” jawab Zeo.
“Dasar anak sialan itu!” seru Bara mengungkapkan rasa kesalnya.
“Jadi kamu ngaku kalau Satria itu anakmu?” Zeo cekikikan lagi.
“Emangnya kapan aku enggak ngaku? Anak sialan itu yang terus-terusan menentang takdirnya sebagai anakku,” timpal Bara.
“Tapi Satria bukan anak sialan, kok. Dia anak yang baik, cerdas, dan mandiri,” bela Zeo.
Bara melirik sinis. “Tuh, kan …. Lagi-lagi kamu bela dia,” sindirnya.
Zeo cekikikan. “Hihihihi …. Iya, lah. Dia kan anakku.” Ia menyetujui.
Zeo menghentikan tawanya. “Ini kan salahmu yang mau menikahiku,” balas Zeo.
“Kok salahku? Kan aku udah nolak! Kamu yang maksa!” Bara menegaskan.
“Pada akhirnya kamu mau. Inti kenyataan tidak bisa berubah. Huahaha ….” Zeo berhasil membuat Bara tak bisa membalasnya.
“Terserah, lah! Terserah!” Bara tidak mau peduli.
“Jangan ngambek lagi, dong …,” rayu Zeo.
Bara tak menyahut.
__ADS_1
“… Ingat umur! Ingat umur! Bentar lagi nimang cucu!” canda Zeo. Ia cekikikan.
“Yaaaish!” akhirnya Bara mengeluarkan suaranya. Ia tidak kuat mendengar kebodohan terus terngiang-ngiang di telinga. Entah dosa apa dirinya di masa lalu sampai memiliki istri tak berotak seperti ini? Apa dulunya dia terlalu menyukai otak keledai?
“Tapi buat apa anak itu menemuimu? Apa ada masalah?” Bara mengganti topik ceritanya ke mode serius.
Zeo menurunkan senyumnya. Ia tidak yakin harus menceritakan ini.
“Ze!” panggil Bara membuyarkan lamunan Zeo.
Zeo mengembuskan napas beratnya. Ia tidak mau menyimpan rahasia apa pun dari Bara. Lagi pula Bara adalah ayahnya Satria. Sudah sepantasnya laki-laki itu mengetahui apa saja yang masuk dalam kehidupan putranya.
“Satria habis ngelamar cewek,” ujar Zeo.
Dahi Bara berkerut. Ia tidak salah dengar, kan?
-o O o-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗