
“Emangnya apa yang udah gue lakuin?” tanya Zeo bersikap bodoh.
“Kenapa lo baru pulang jam segini? Ke mana aja lo?” tanya Satria sinis.
“Itu bukan urusan lo. Jadi lo bisa pulang aja sekarang,” usir Zeo. Dia benar-benar merasa lelah dan ingin segera membaringkan badannya di atas kasur.
“Kenapa itu bukan urusan gue? Asal lo tahu aja, gue udah nunggu lo dari pulang sekolah!” tegas Satria.
Hati Zeo terpengaruh. Dia merasa terharu. “Sebenarnya gue ke rumah sakit lagi,” kata Zeo. Akhirnya dia melanjutkan kebohongannya.
“Apa?!” Suara Satria meninggi. “Jadi lo ke kampung lagi?! Emangnnya tantenya Tiwi enggak punya orang lain selain lo?!” protes Satria.
Zeo langsung membungkam mulut Satria dengan tangannya. “Kecilin suara lo. Kalo Tiwi dengar, gimana?” kata Zeo berbisik.
Satria menjadi tenang. Dia tenang bukan karena apa yang Zeo katakan, melainkan wajah Zeo yang dilihatnya dari dekat. Zeo memang cantik dilihat bagaimanapun. Setelah dilihat lebih dekat seperti ini, Zeo menjadi semakin cantik. Tatapan Satria memang tenang, tetapi di dalam dadanya terjadi keributan.
Zeo menyadari jarak yang begitu dekat itu. Tiba-tiba bayangan Bara di dalam mobil tadi mengisi pikirannya. Seketika Zeo melepaskan tangannya dan menjauhkan diri dari Satria. Lagi-lagi Zeo tidak bisa menyalahkan orang yang menyebabkan kesialan dalam hidupnya. Gara-gara Bara, Zeo bahkan harus merasa canggung dengan orang di sekitarnya.
“Tapi … apa lo benar-benar nunggu gue dari pulang sekolah sampai sekarang?” tanya Zeo dengan suara rendah.
“Iyalah. Lo tiba-tiba aja lari. Gue kan jadi khawatir,” jawab Satria.
Zeo maju dan bersiap memukul kepala Satria, tetapi tidak jadi. “Apa lo gila?! Kalo gue enggak pulang, gimana?”
Satria malah tertawa pelan. “Gue bakal nunggu lo sampai besok, lah,” jawabnya tenang.
__ADS_1
“Dasar, lo emang bodoh! Udah, sana pulang!” usir Zeo.
“Gue nunggu lo lama banget dan gue kedinginan.” Satria malah mengalihkan topik.
“Terus gue harus gimana?” tanya Zeo.
“Lo bisa peluk gue,” canda Satria.
“Aish! Ogah!”
“Canda-canda.” Satria kembali tertawa. “Gue pinjam jaket lo aja, deh.”
“Beneran, ya. Itu doang, terus lo langsung pulang.” Zeo mengacung-acungkan telunjuknya.
Satria mendorong punggung Zeo agar segera pergi ke dalam rumah. Tak lama Zeo keluar dengan sebuah jaket berwarna merah. Dia pun menyodorkan jaket itu ke Satria.
“Besok balikin lho, ya,” titah Zeo.
“Apa maksud lo gue harus ke sini lagi besok?” goda Satria.
“Aish! Ya besok di sekolah!”
“Oke,” balas Satria setuju setelah mengenakan jaketnya.
Satria pun bersiap untuk menaiki motornya. Tiba-tiba dia berbalik untuk memeluk Zeo.
__ADS_1
Zeo terkejut. Dia pun berusaha mengangkat lengan Satria, tetapi tidak kuat.
“Lepasin. Bukannya gue udah putusin lo,” kata Zeo mengingatkan.
“Makanya gue minta kesempatan dari lo.”
Akhirnya Zeo menghentikan gerakannya. Dia pun diam membiarkan Satria melakukan apa pun. Lagipula tidak akan lama.
“Kesempatan apa?” tanya Zeo.
“Buat jadi pacar lo lagi,” jawab Satria.
“Bukannya udah gue bilang kalo gue udah punya pacar,” tutur Zeo.
“Kalo gitu putusin cowok lo dan pindah hati ke gue.”
“HEI!” Akhirnya Zeo berhasil melepaskan pelukannya dari Satria. Kemudian dia tertawa. Dia mengira kalau Satria serius, rupanya laki-laki itu malah bercanda.
“Gimana lo bisa ngomong kayak gitu?” tanya Zeo.
“Karena gue beneran cinta sama lo. Lo cantik, sih,” jawab Satria.
“Kalo cuma karena kecantikan, gimana bisa disebut cinta?” Zeo meragukan.
“Dasar bodoh! Lo harusnya curiga kalo ada cowok yang suka sama lo bukan karena kecantikan lo. Secara … lo itu bodoh, miskin, berengsek lagi. Udah pasti modus itu cowok.”
__ADS_1