Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
91. Puzzle Yang Terlempar 4


__ADS_3

Satria mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Hingga akhirnya berpusat ke Tiwi yang duduk di atas ranjang, dengan melipat lututnya. Putri duduk di depan Tiwi dengan diam. Dia tak berani mengganggu ibunya.


Satria bisa menebak kalau sesuatu yang tidak baik terjadi. Namun, Satria tidak akan menanyakannya. Itu bukan urusannya.


“Lo!” seru Satria memanggil.


Tiwi masih tetap di posisinya. Tanpa sahutan sedikit pun. Rupanya dia benar-benar tenggelam di dalam lamunan.


“TIWI!” kini Satria menaikkan suaranya. Memanggil berulang-ulang dengan suara yang sama hanya akan menjadi pemborosan kata.


Seketika Tiwi terbangun. Dia langsung mendongak. Mendapati majikannya telah berada di dalam kamar, Tiwi pun turun dari ranjang dan bersikap hormat.


“Iya, Tuan,” sahut Tiwi dengan menunduk hormat.


“Ayo ikut gue!” seru Satria.


“Ke-ke mana, Tuan?” tanya Tiwi.


“Ke taman,” jawab Satria.


“Ke taman?” Tiwi mengulangi perkataan Satria. Dia menjadi lebih lemas.


“Iya. Soalnya Joffy ingin ke sana,” jelas Satria.


“Tuan ….” Tiwi memberanikan diri mendongakkan kepala. “Sepertinya saya enggak bisa ikut,” Tiwi juga memberanikan diri mengatakan itu.

__ADS_1


“Aku yang bayar kamu, masak aku yang jaga mereka?” sindir Satria.


Tiwi mengepalkan kedua tangannya. Berusaha mengunci kelemahannya. Dia memang tidak mau pergi ke taman lagi. Kalau sampai ketemu Hendri, bagaimana?


Namun, apa yang Satria katakan tadi lebih benar. Tiwi berada di sini untuk bekerja dan dia bekerja di sini untuk membayar utang. Dia tidak bisa memilih selama majikannya tidak memberikan pilihan.


“Baik, Tuan.” Pada akhirnya Tiwi setuju sembari menganggukkan kepala.


Satria dan Joffy pun keluar dari kamar itu. Memberikan waktu bagi Tiwi untuk membersihkan diri. Jika Joffy bilang Tiwi terus diam selama ini, berarti dia tidak mandi juga, kan?


-oOo-


Meski awalnya ketakutan, Tiwi bisa bernapas lega di taman. Pasalnya, ini sudah satu jam berlalu, tetapi dia tidak menemukan tanda-tanda kehadiran Hendri di sini. Kini dia bisa menikmati betapa menyenangkan melihat kebahagiaan kedua anak itu saat bermain. Sedangkan Satria malah sibuk memainkan ponsel, dalam duduknya di samping Tiwi.


Tiwi hanya berani melirik saja tanpa bersuara. Keakraban di masa lalu lenyaplah sudah. Satria tidak pernah berubah dan Tiwi sadar benar akan jarak di antara pelayan dan majikan.


Tiwi menertawai itu. Tiwi bahkan tidak pernah berteman dengan Satria. Kalau bukan karena rasa kasihan Satria, Tiwi mungkin sudah terlunta-lunta di luar sana.


“Kak Kakak,” panggil Joffy yang tiba-tiba datang mendekat.


Dengan terpaksa Satria menoleh. “Ada apa?” sahutnya.


“Pengen es krim kayak itu.” Joffy menunjuk seorang pedagang es krim keliling yang berada di pinggir jalan.


“Tunggu sebentar,” timpal Satria. Dia pun bangun.

__ADS_1


Sepertinya pikiran Satria sedang tenang sampai mau menerima permintaan Joffy begitu saja.


Satria pun pergi ke sana.


“Mbak Tiwi Mbak Tiwi,” kini gantian Joffy memanggil Tiwi.


“Apa?” sahut Tiwi.


“Pengen duduk di samping Mbak Tiwi yang cantik,” ujar Joffy.


Digoda anak kecil, Tiwi malah tertawa pelan. Joffy benar-benar menggemaskan. Dia pun menggendong Joffy dan memberikan duduk di sampingnya. Kedua orang itu, kini bersama-sama melihat Putri yang bermain seluncuran sendiran.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2