
Setelah satu Minggu menikah. Hari ini Luna memutuskan untuk kembali kuliah. Ken tidak melarang apalagi membatasi kebebasan Luna di luar sana. Selama itu tidak bertentangan dengan isi dalam kontrak pernikahan mereka.
Saat ini Luna tengah berada di kamarnya. Gadis cantik itu tengah menagut dirinya di depan cermin, tubuh rampingnya dalam balutan dress selutut bermotif bunga. Rambut panjangnya yang biasanya digerai, hari ini di ikat ekor kuda.
Wajah cantiknya dipolesi make up tipis, tak tinggalan sepasang anting dan kalung emas putih yang kian menyempurnakan penampilannya.
Setelah dirasa tidak ada yang kurang, luna pun meninggalkan kamarnya. Dari kejauhan, ia melihat Ken dan daniel sedang duduk di meja makan, sudut bibir Gadis itu tertarik keatas. Dengan langkah tenang Luna menghampiri keduanya.
"Selamat pagi," Sapa Luna pada Ken dan Daniel.
"Kakak cantik!!" Daniel berseru Seraya turun dari kursinya."Hua, pagi ini kakak cantik benar-benar terlihat sempurna. Dress itu membuat Kakak cantik, terlihat semakin cantik dan mempesona. Daniel, jadi semakin ingin menikahi kakak cantik saat besar nanti."
"Jangan sembarangan, kau bocah!! Memangnya siapa yang mengijinkanmu menikah dengan istri Papa?!" sahut Ken sambil menatap Daniel tidak suka.
"Memangnya siapa yang bicara dengan, Papa?! Daniel, bicara dengan kakak cantik, tapi kenapa Papa ikut-ikutan bicara?! Seperti burung beo saja!!"
"Bocah, kau sudah bosan hidup ya?! Berani sekali kau bicara seperti itu pada bapak sendiri? Apa kamu ingin Papa hukum?!"
Kemudian Daniel menghampiri Luna dan memeluknya. "Kakak cantik, lihatlah Papa sangat mengerikan. Dia menatap Daniel, seolah-olah ingin menelanku hidup-hidup." adu Daniel pada Luna.
Dan jika sudah begini, Luna hanya bisa menghela napas panjang. Menghadapi Daniel yang manja, dan Ken yang seperti bocah. Membuat kepala Luna menjadi pening.
"Bisakah kalian berdua diam sebentar saja, setidaknya kalau ribut jangan di meja makan." Keluh Luna yang mulai frustasi.
Paman Wang tersenyum melihat kepatuhan Ken dan Daniel, sepertinya tuan muda dan tuan muda kecilnya telah menemukan pawangnya. Orang yang mampu mengatasi mereka berdua.
🌹
🌹
Saat ini Ken sedang dalam perjalanan mengantarkan Luna ke kampusnya. Luna tidak bisa menolak saat Ken menawarkan diri untuk mengantarnya.
Sebuah tanda tanya besar muncul di benak Luna, bukan Ken adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar, lalu kenapa Luna tidak pernah melihat pria itu pergi bekerja?
"Meskipun aku seorang CEO, tapi aku tidak perlu pergi ke kantor setiap hari untuk bekerja. Sudah ada orang lain yang menghandle semua pekerjaanku," ujar Ken seolah mengerti apa yang Luna pikirkan.
__ADS_1
Gadis itu pun menoleh, menatap suami kontraknya itu tak percaya. "Bagaimana kau bisa tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Luna penasaran. "OMO!! Mungkinkah kau memiliki kekuatan untuk menembus pikiran?!" Luna menatap tidak percaya.
Ken terkekeh, lalu menyentil gemas kening Luna. "Dari mana pikiran aneh seperti itu? Lagipula mana ada kekuatan seperti itu di dunia ini?" ujar Ken tanpa menatap lawan bicaranya.
Luna mengangguk, membenarkan apa yang kalian katakan. "Benar juga, sangat tidak masuk akal jika seseorang memiliki kekuatan semacam itu. Oya, arah kampusku di depan belok kanan."
"Aku tahu!! Tanpa perlu kau beri tahu pun, aku tau di mana kau berkuliah!!" jawab Ken menimpali.
"Oh, astaga Bagaimana bisa melupakan hal itu?! Bagaimana aku bisa lupa jika suamiku adalah pengungkit nomor satu di dunia ini, jadi dia tahu segala hal tentang diriku. Bukankah begitu, Tuan Muda Zhao?!"
"Heh, berani sekali kau mencari perkara denganku, Luna William. Untuk itu kalau perlu dihukum," Ken menyeringai.
Ken menepikan mobilnya dan membuat Luna terkejut. "Tunggu, Ken!! Kau mau apa? Kenapa tiba-tiba menghentikan mobilnya?!" Luna mendorong tubuh Ken ketika pria itu mendekat.
"Apa lagi? Tentu saja untuk memberimu hukuman. Karena berani menyebutku sebagai penguntit!!" Jawab Ken dengan seringai mautnya.
"Tunggu dulu, Ken. Aku tadi hanya.. emmpphh!!" Kalimat Luna terpotong oleh tindakan Ken.
Pria itu menarik tengkuk Luna dan mencium bibirnya. Luna yang merasa terancam mencoba untuk memberontak, tapi tidak bisa. Ken melepas sabuk pengaman Luna lalu menarik gadis itu untuk duduk di pangkuannya.
Kedua tangan gadis itu memeluk leher Ken, mata hazel nya tertutup rapat. Sadar Luna membalas ciumannya, Ken pun berusaha mendapatkan lebih. Pria itu menekan bibir Luna dengan lidahnya.
Tau apa yang suami kontraknya itu inginkan, kemudian Luna membuka bibirnya dan mempersilahkan lidah Ken untuk masuk dan menginvasi bibirnya.
Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Dan Ken baru mengakhirinya satu menit kemudian, saat kebutuhan Oksigen mulai mengambil alih.
"Wow, ternyata kau lebih hebat dari yang aku bayangkan, Sayang." Ken menyeringai, jari-jarinya menghapus sisa liur di bibir Luna.
"Jangan meledekku, begini-begini aku juga pernah pacaran. Tapi putus, pacarku selingkuh dengan temanku sendiri, dan parahnya lagi ternyata aku adalah pacar ke 10 nya. Padahal dia mengatakan jika aku satu-satunya, ternyata aku yang ke 10. Mulut lelaki memang tidak bisa dipercaya. Licin dan berbisa." Ujar Luna panjang lebar.
"Ralat, tidak semua. Karena aku berbeda dengan mereka!!" Sahut Ken menimpali.
"Ya, aku harap begitu. Dan bisakah sekarang kita lanjutkan perjalanan. Aku sudah hampir terlambat,"
"Baik, Tuan Putri!!"
__ADS_1
🌺
Mereka tiba di kampus 15 menit kemudian. Ken menahan Luna dan tidak mengijinkan gadis itu untuk tidak langsung turun. "Ingat pesanku, Luna Zhao!! Jangan genit pada pria lain, jangan dekat dengan pria lain, jangan ijinkan pria lain mendekatimu!!"
Luna mendesah berat. "Aku mengerti, dan tidak perlu kau ingatkan lagi, Tuan Zhao yang posesif!! Aku tidak pikun, jadi tidak perlu mengingatkanku sampai berkali-kali. Dan bisakah sekarang kau biarkan aku turun?" Luna menatap Ken dengan pandangan memohon.
"Tidak, sebelum kau meyakinkan aku jika kau hanya milikku!!"
Lagi-lagi Luna mendesah berat. Luna menangkup wajah Ken lalu mencium bibirnya, ciuman itu tak lebih dari 10 detik. "Sudah puas kan?"
"Belum!!"
Ken menarik tengkuk Luna dan kemudian balik menciumnya. Ciuman Ken lebih dalam menuntut, tapi ciuman itu juga begitu singkat."Sekarang turunlah, kau pulang jam berapa nanti? Aku akan menjemputmu."
Luna menggeleng. "Aku juga tidak tau, mungkin jam 2 atau jam 3. Kau tidak perlu menjemputku, aku bisa pulang sendiri."
"Dan aku tidak suka penolakan!!" Sahut Ken menegaskan.
"Huft, baiklah. Dasar Tuan Muda pemaksa!!"
Ken terkekeh. Dia menangkup wajah Luna lalu mencium keningnya lama. "Jangan lupa untuk makan siang. Aku pulang dulu." Luna mengangguk. Dan Ken baru pergi saat melihat Luna sudah masuk ke dalam kampusnya. Sedangkan Ken, ada urusan yang perlu dia selesaikan.
-
Bersambung.
Bonus Visual Ken, Luna dan Daniel...
__ADS_1