
Ken mengangkat kepalanya saat mendengar ketukan pada pintu ruang kerjanya. Pintu itu dibuka dari luar, dan terlihat sosok Mir berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah dokumen yang kemudian dia berikan pada Ken.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu? Apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?"
"Maaf, Bos. Hanya itu informasi yang berhasil saya dapatkan. Tidak ada keterangan apapun tentang wanita bernama Jessline Jung." jawab Mir.
"Baiklah kau boleh pergi," Mir membungkuk lalu meninggalkan ruangan Ken begitu saja.
"Kemungkinan besar dia adalah Luna yang sedang hilang ingatan, Ken." ucap Devan memberi komentar.
Ken menggeleng. "Aku tidak tahu, kita hanya bisa mengetahuinya dengan melakukan tes DNA. Untuk itu, aku akan meminta papa Valentino datang kemari." ujar Ken menanggapi.
Sebenarnya bisa saja Ken meminta Aiden yang melakukannya. Tapi sayangnya golongan darah mereka tidaklah sama, karena golongan darah Aiden sama seperti mendiang ibunya.
"Sebaiknya lakukan dengan segera Ken, karena lebih cepat lebih baik." saran Devan.
"Ya, itu juga yang aku pikirkan."
Devan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian pria itu bangkit dari duduknya dan berpamit pergi karena masih banyak pekerjaan di kantornya yang harus diselesaikan. Begitu pula dengan Ken.
-
-
Ken hanya menatap datar pada tiga pria yang tersungkur di bawah kakinya. Sekujur tubuh mereka penuh luka dan berdarah. Ren dan Jimin tidak hanya membuat mereka babak belur saja, tapi juga mematahkan kaki dan tangannya.
Darah segar membuat pakaian mahal mereka menjadi tidak bernilai lagi dan jabatan tinggi mereka tampak begitu rendah di mata Ken.
Alih-alih merasa iba dan kasihan pada mereka bertiga. Ken terlihat menyeringai tajam. Seperti ada kepuasan tersendiri dalam hatinya ketika melihat mereka tidak berdaya.
Ken beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka bertiga sambil menghisap rokoknya yang hanya tinggal setengah. Lagi-lagi seringai tajam meremehkan tersungging di bibir kiss ablenya.
"Inilah harga mahal yang harus kalian bayar karena sudah berani bermain api denganku. Dan bagus aku tidak langsung mem*nggal kepala kalian bertiga. Aku akan memberi kesempatan terakhir pada kalian. Katakan ... " Ken mengambil jeda dalam ucapannya.
Tangannya mencengkram rahang salah satu dari ketiga pria itu. "Kenapa kalian mengkhianatiku dan mencuri uang-uangku dengan dalih bisnis properti?"
__ADS_1
"....."
Tidak ada jawaban. Pria itu memilih bungkam. Iris hitamnya yang sayu menatap Ken dengan tajam dan penuh kemarahan. 'Chuiii' mata Ren dan Jimin membelalak melihat pria itu dengan beraninya meludahi wajah Ken dan berteriak.
"KAU BENAR-BENAR IBLIS, KEN ZHAO!!"
Ken mendengus. Pria itu berdiri sambil mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Auranya menggelap dan kemarahan terpancar jelas dari sorot matanya yang tajam dan terlihat semakin berbahaya.
Ken berbalik dan ... 'CRASS' Darah segar menyembur dari mulut pria itu setelah mendapatkan tendangan telak pada dada dan mulutnya. Ken yang diliputi kemarahan mengulurkan tangannya tanpa menatap pria dibelakangnya.
"Ren, berikan k*pak itu padaku." Pinta Ken dingin. "Manusia seperti dia memang tidak layak dibiarkan untuk tetap h!dup." Ren dan Jimin segera menutup matanya karena tidak sanggup melihat kesadisan Ken saat memb*nuh pria malang itu.
Ken membuang kapaknya begitu saja seraya meninggalkan ruangan yang lantainya hampir menjadi lautan darah. "Selesaikan sisanya." Ucapnya tanpa menghentikan langkahnya.
Aroma mirip besi berkarat menguar dari tubuh Ken yang berlumur darah korbannya. Pria itu melepaskan jas hitamnya dan membuangnya begitu saja, tersisa sebuah kemeja putih yang mengikuti lekuk tubuhnya.
🌹
🌹
Jessline segera beranjak saat menyadari kedatangan seseorang. Tidak ada niatan untuk dia menyambut atau sekedar menyapanya karena hal itu tidak akan ada gunanya. Dia tidak bisa bicara, dan Jessline tidak ingin mengambil resiko dengan memaksakan diri.
"Nona, apa itu, Tuan Muda?" tanya seorang pelayan pada Jessline yang baru saja menginjakkan kakinya di dapur.
Wanita itu mengangguk. "Kalau begitu saya akan menyiapkan kopi untuk, Tuan. Apakah Nona ingin saya buatkan juga?" tanya pelayan itu memastikan. Jessline menggeleng. "Kalau begitu sebaiknya Anda kembali ke dalam karena tuan muda bisa marah besar pada saya jika tau Anda ada di sini."
Jessline lantas menggeleng. "Tidak apa-apa, aku yang akan menjelaskan padanya jika dia bertanya." ujar Jessline dengan bahasa isyarat, dia terlalu malas untuk menulis di buku kecilnya. "Bibi, sebaiknya kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Dan biar aku saja yang menyiapkan kopi untuknya. Aku baru ingat jika ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya."
Pelayan itu ingin menghentikan Jessline, tapi sosok wanita itu sudah menghilang dari jangkauan matanya.
Dari jarak lima meter. Jessline melihat seorang pria yang tengah duduk di sofa ruang tamu dalam posisi memunggungi. Wanita itu menghentikan sejenak langkahnya dan menghela nafas panjang. Padahal hanya ingin bertemu dengan Ken saja tapi rasanya seperti akan ikut acara uji nyali.
"Baiklah, nanti akan aku hubungi lagi." Kemudian Ken memutuskan sambungan telfonnya saat dia menyadari kedatangan seseorang. Pria itu mengangkat wajahnya dan mendapati Jessline berdiri dihadapannya.
Ken memicingkan mata kanannya melihat tatapan Jessline yang tiba-tiba menjadi serius."Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
Jessline mengangguk ragu-ragu. "Tidak perlu ragu, katakan saja dan kau bisa mengunakan bahasa isyarat tanpa harus repot-repot menulis di bukumu itu."
"Aku ingin mengunjungi makam anakku, bisakah besok kau mengijinkan aku pergi?"
"Aku akan menemanimu karena tidak baik jika kau pergi sendirian saja setelah semua yang kau alami selama ini."
Jessline menggeleng. "Apa tidak terlalu merepotkan? Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu jika kau pergi denganku?"
"Masih ada kakakku yang bisa mengurusnya, jadi kau tidak perlu cemas. Segera ganti pakaianmu aku akan membawamu makan malam di luar. Aku akan bersiap juga." Ujar Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Jessline.
-
-
Selang beberapa saat Jessline datang dengan pakaian yang berbeda. Sebuah dress hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang seputih porselen memagut tubuh rampingnya. Dari kejauhan dia melihat Ken yang sedang berdiri di depan jendela sambil bersidekap dada.
Sebuah tank top hitam dipadu dengan leather vest dan jeans yang berwarna hitam juga. pricing yang menghiasi telinganya juga terlihat berbeda dari yang dia pakai sebelumnya. Dan untuk sesaat Jessline melupakan bagaimana caranya untuk bernafas melihat bagaimana tampannya pria bermarga Zhao tersebut.
Dengan jantung berdebar kencang. Jessline menghampiri Ken yang langsung menyadari kedatangannya. Lantas pria itu menoleh, untuk sesaat dia terpaku menatap sosok jelita yang berdiri dihadapannya. Tanpa berkata-kata, Ken menarik tengkuk Jessline dan menciumnya.
Entah setan apa yang merasuki diri Ken sampai-sampai dia nekat melakukannya. Sedangkan Jessline hanya bisa diam terpaku dengan kedua mata membelalak sempurna. Terkejut dan tidak percaya bila Ken akan menciumnya, tepat di bibirnya.
Kedua mata Jessline perlahan tertutup saat merasakan ciuman Ken yang semakin dalam. Anehnya Jessline tidak berusaha untuk berontak bahkan dia tidak merasa terancam sedikit pun dengan apa yang Ken lakukan. Dia merasa begitu familiar dengan ciuman tersebut. Bibir Ken terasa begitu hangat dan basah.
Dan beberapa saat kemudian Ken langsung melepaskan ciumannya setelah dia menyadari kesalahannya. "Maaf atas tindakan lancang ku." Ucapnya datar.
"Bi-bisakah kita berangkat sekarang. Cacing-cacing dalam perutku sudah meronta-ronta minta segera di isi." Jessline menundukkan wajahnya, suaranya terdengar begitu lirih dan nyaris tidak terdengar.
Ken membaca pergerakkan bibir Jessline dan mengangguk paham. Jessline masih merasa sangat gugup atas insiden yang baru saja terjadi.
"Baiklah."
-
-
__ADS_1
Bersambung.