
"SETAN!!!"
Luna berteriak histeris saat keluar kamar dan mendapati sosok berwajah putih keluar dari kamar Aiden. Dan sosok berwajah putih itu langsung panik setelah mendengar teriakan Luna, dia juga terlihat ketakutan.
"Se...Setan, di..dimana setannya?" Tanya sosok berwajah putih itu sambil celingukan mencari setan yang Luna maksud. Sepertinya dia tidak sadar jika setan yang Luna maksud adalah dirinya sendiri.
Mendengar suara yang begitu familiar itu membuat Luna segera tersadar, jika yang ada dihadapannya ini bukanlah setan melainkan Aiden. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada sulung keluarga Valentino tersebut.
"Aiden gila!! Apa kau sengaja ingin membuatku mati muda ya?! Bagaimana jika aku sampai jantungan dan mati ditempat, apa kau mau bertanggung jawab?!" Teriak Luna tepat di depan muka Aiden, dia benar-benar kesal setengah mati
"Dasar Luna bodoh. Apa kau tidak lihat jika aku sedang melakukan perawatan rutin? Bagaimana jika aku mengalami penuaan dini jika mukaku yang tampan ini tidak dirawat dengan benar. Dan satu hal lagi, seharusnya kau bangga memiliki kakak yang cinta ketampanan sepertiku ini!!" Oceh Aiden panjang lebar.
Luna memutar jengah matanya. Dia benar-benar capek mendengar ocehan Aiden yang menurutnya unfardah itu. Luna melanjutkan langkahnya dan pergi begitu saja.
Sebenarnya Luna keluar karena merasa lapar dan haus. Luna memang selalu terbangun saat malam hari, dia sering kelaparan dan keahuasan.
Makan dimalam hari seolah-olah sudah menjadi rutinitas Luna setiap malamnya. Dan ketika dia bangun, Ken tidak pernah ada disampingnya. Luna tidak tau kemana perginya suaminya itu.
Tapp... Tapp... Tapp..
Luna menoleh saat mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang datang. Bukan hanya satu orang, tapi dua orang. Alih-alih menyapa dan menyambut mereka berdua, Luna malah bersikap dingin dan acuh.
"Aromanya sangat lezat. Adik ipar, sebenarnya apa yang sedang kau masak? Aromanya sangat menggugah selera, bisakah kau memasaknya untukku juga?" Tanya orang itu yang pastinya adalah Devan.
__ADS_1
Luna melirik sekilas pada kakak iparnya itu dengan tatapan tajam ."Bukankah kedua tanganmu masih utuh, jika lapar masak saja sendiri!!" Sinis Luna dan meninggalkan Devan begitu saja. Bahkan wanita itu tidak melirik sedikit pun pada Ken yang berdiri di samping lemari pendingin.
Devan yang penasaran segera menghampiri Ken yang tampak kebingungan. "Ada apa dengan, Luna? Tidak biasanya dia bersikap sedingin itu padaku? Bahkan sejak mengenalnya, aku tidak pernah mendengar dia berkata kasar begitu, dan aku lihat dia juga acuh meskipun melihat keberadaan mu?" Ujar Devan. Ken menggeleng.
"Aku sendiri tidak tau. Seingatku sore ini dia masih baik-baik saja. Bahkan sebelum tidur dia masih sempat bermanja. Aku akan coba bicara dengannya." Ken meletakkan kaleng sodanya di atas kulkas dan melenggang pergi.
-
-
Setibanya di kamar. Ken mendapati Luna yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil membaca sebuah novel. Wanita itu tetap bersikap acuh dan dingin padanya. Ken mendesah berat, dengan kasar dia merebut novel dari tangan Luna.
"Yakk!! Apa yang kau lakukan, Ken?!" Bentak Luna marah.
Ken melempar novel itu keluar melalui jendela. Emosi terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam. "Sekarang jelaskan, ada apa denganmu malam ini? Kenapa kau bersikap dingin dan acuh padaku, bahkan kau bicara dengan nada tajam pada Devan?"
"Kenapa kau selalu pergi saat aku sudah tidur, dan terkadang pulang hampir menjelang pagi. Sebenarnya apa yang kau lakukan di luar sana, Ken?!" Tanya Luna meminta penjelasan.
Alih-alih menjawab dan berterus terang pada Luna. Ken malah menghindar. "Aku hanya sedang menyelesaikan urusan. Bukan hal penting yang harus kau ketahui. Sudah malam, sebaiknya tidur kembali. Aku sangat lelah dan kepalaku sedikit pusing." Ucap Ken dingin dan melewati Luna begitu saja.
"Kau berusaha menghindari ku kan, Ken?! Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?! Aku tidak tau sejak kapan kau terjerumus ke dalam dunia hitam, tapi bisakah kau keluar dari dunia yang penuh bahaya itu?"
"Bukankah dulu kau masuk ke dalam dunia Mafia karena mencari pengalihan saja, tapi sekarang aku sudah kembali. Apa lagi alasan kau masih bertahan di dalam dunia yang penuh dengan dosa dan bahaya itu?!"
__ADS_1
Ken menghindari tatapan Luna. Kemudian pria itu beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. "Aku tidak bisa berhenti sekarang, Luna. Aku tidak bisa meninggalkan dunia hitam untuk saat ini, karena aku masih harus menyelidiki tentang kematian orang tuaku." Jawab Ken tanpa menatap lawan bicaranya.
Luna menghampiri Ken lalu berhenti di samping suaminya. "Bukankah masih banyak cara lain untuk menyelidikinya. Dan bukankah kau bilang mereka meninggal karena kecelakaan?"
"Tapi yang terjadi sebenarnya tidaklah sesederhana itu, Luna!! Awalnya aku memang berpikir jika kematian mereka adalah murni kecelakaan, tapi belum lama ini aku menemukan sebuah fakta jika kematian mereka adalah hasil dari konspirasi seseorang."
"Beberapa hari terakhir ini aku selalu mendapatkan telfon misterius dari orang yang tidak aku kenal. Dia selalu mengatakan kalimat yang sama, maut ku telah kembali. Yang membuatku resah adalah, dia mengetahui titik kelemahan ku."
"Dan jika aku berhenti sekarang, bagaimana aku bisa menemukan orang itu dan melindungi kalian semua, terutama kau dan Daniel?! Aku tidak bisa menempatkan salah satu dari kalian berdua dalam bahaya, apalagi aku sudah pernah kehilanganmu dan aku tidak kau kehilanganmu untuk kedua kalinya." Ujar Ken panjang lebar.
Mendengar apa yang Ken katakan membuat Luna terdiam. Wanita itu bingung harus berkata apa setelah tau alasan Ken tidak bisa berhenti apalagi keluar dari dunia hitam penuh bahaya yang selama ini menjadi bagian hidupnya.
Di satu sisi Luna bisa memahami jika berada di posisi Ken. Tapi disisi lain dia merasa takut, Luna takut jika hal buruk sampai menimpa suaminya itu. Karena dunia Mafia bukanlah dunia yang bersih.
Ken merubah posisinya lalu membawa Luna ke dalam pelukannya. "Aku tau ketakutan mu, Sayang. Kau hanya cukup percaya padaku. Aku pasti akan melindungi diriku sendiri, karena jika aku tidak bisa melindungi diriku sendiri, lalu bagaimana aku harus melindungi kalian berdua." Ucap Ken sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku hanya merasa takut, Ken. Aku takut jika hal buruk sampai menimpa dirimu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku akan berjalan tanpa dirimu di sisiku." Bisik Luna setengah parau.
Ken menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya. "Semua akan baik-baik saja, percayalah. Aku pasti akan selalu melindungi diriku sendiri, selalu." Bisiknya meyakinkan.
Luna semakin mengeratkan pelukannya. Dia hanya perlu percaya pada suaminya ini. Benar apa yang Ken katakan. Dia harus bisa melindungi dirinya sendiri, karena jika Ken tidak bisa melindungi dirinya sendiri, lalu siapa yang akan melindunginya dan Daniel?! Karena hanya Ken yang mampu melakukannya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.