
Levi memandang sahabat tannya itu dengan pandangan bingung. Kai terus menekuk wajahnya sepanjang hari, dan uring-uringan tidak jelas. Levi tidak pernah melihat sahabatnya sekacau itu, kecuali saat ketika Kai putus dari kekasihnya sekitar 3 tahun yang lalu.
Dan saat ini keduanya sedang berada disalah satu club malam yang terletak dipusat kota Seoul. Levi yang mengusulkannya, agar Kai pergi keclub malam untuk menenangkan fikirannya yang sedang kacau.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Kai?" Kai mengangkat wajahnya yang semula tertunduk dan menatap Levin bingung.
"Maksudmu?"
Levi menghela nafas, mengambil gelas winenya lalu meneguk habis isinya. "Kau terlihat kacau, apa kau sedang dalam masalah akhir-akhir ini?" tanya Levi.
Kai tidak lantas menjawab dan hanya menatap sahabatnya itu datar, Ia terlalu malas untuk membahas hal itu karena hanya akan membuat moodnya semakin buruk.
"Tidak, mungkin hanya perasaanmu saja!"
Levi menghela nafas. Memangnya Kai pikir Ia terlalu bodoh dan mudah dibohongi? Levi sangat mengenal Kai dan Ia tau jika saat ini laki-laki itu berada dalam suasana hati yang buruk. Dan Levi berani dipenggal kepalanya jika Ia salah, ia berani bersumpah jika kekacauan Kai ada hubungannya dengan gadis yang pernah Kai ceritakan padanya.
"Apa ini ada hubungannya dengan gadis yang pernah kau ceritakan padaku?" tebak Levi 100%. Kali ini Kai tidak memberikan tanggapan apa pun, dan Levi anggap jika kediaman Kai berarti benar.
Tanpa menghiraukan Levi, Kai bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja . Tak lupa Ia meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar minumannya. Bahkan Kai menghiraukan panggilan Levi yang meminta dirinya untuk berhenti.
Tappp..!!!
Kai menghentikan langkahnya saat mata hitamnya tanpa sengaja melihat siluet seorang gadis yang sangat Ia kenal berada di restoran mewah yang ada diseberang jalan.
Kai mengepalkan tangannya tangannya ketika mengetahui siapa sosok pria yang duduk bersebelahan dengan gadis itu.
Mereka tidak hanya berdua saja, ada orang lain juga disana. Kai menatap pria yang duduk bersebelahan dengan Viona dengan tatapan penuh kebencian. Keinginan untuk menyingkirkan laki-laki itu muncul dibenak Kai, karena dengan begitu tidak akan ada lagi saingan berat untuknya untuk mendapatkan Viona.
"Sudah kuduga, jadi benar! Memang gadis itu alasanmu bersikap tak biasa seperti ini!"
"OMO?" Nyaris saja Kai terkena serangan jantung dadakan karena ulah Levi. "Yaaakkk, apa kau suda bosan hidup eo?" amuk Kai dan berteriak di depan wajah Levi.
Levi menghela nafas, dan menggeleng. "Jika kau memang menyukainya kenapa tidak coba kau ungkapkan saja?" Usul Levi pada Kai.
Kai mendecih dan memandang sahabatnya itu dengan sinis. "Kau pikir itu mudah? Dan bagaimana caranya aku bisa mengungkapkan padanya, jika saat ini dia begitu membenciku!" ujar Kai.
Levi mengerutkan dahinya, mencoba meminta penjelasan lebih pada Kai. "Maksudmu?"
__ADS_1
"Sudahlah. Bisa tidak, kita tidak usah membahas hal ini sekarang? Kau membuat kepalaku semakin ingin pecah. Aku mau pulang!" Kai memasuki mobil mewahnya.
Dan dalam hitungan detik, mobil itu telah melesat jauh meninggalkan area parkiran bar. Lagi-lagi Levi menghela nafas. Ia sudah sangat hafal dengan sikap sahabatnya yang satu itu. Mengangkat bahunya acuh, pria itu kembali memasuki bar, dan melanjutkan pestanya yang tertunda.
-
-
Kevin menghentikan mobil mewahnya di depan pagar kediaman Jung. Viona sendiri yang meminta supaya diantarkan sampai gerbang saja. Diajak masuk juga percuma. Karena Kevin selalu menolak untuk mampir ke rumahnya.
Viona tidak langsung turun. Dia teringat kembali pada apa yang Kevin katakan tadi. Kata-kata itu begitu mengganggu pikirannya. Viona harus bertanya sekali lagi. "Key, soal yang kau katakan tadi. Itu sebenarnya maksudnya apa?" Viona meminta penjelasan.
Kevin membuang muka ke arah lain."Lupakan, dan anggap aku tidak pernah mengatakannya. Masuklah ini sudah malam!"
Viona menekuk wajahnya. "Dasar kulkas tiga pintu menyebalkan. Bagaimana bisa kau mengatakan sebuah kalimat ambigu yang tidak aku mengerti sama sekali," dia menggerutu.
"Kau saja yang lamban berpikir, dasar tidak peka."
"Huh, menyebalkan. Ngomong-ngomong terimakasih untuk malam ini, karena sudah membawaku mendatangi taman yang sangat indah!" Ucap Viona diiringi senyum manisnya.
Viona mengangguk antusias mendengar penawaran yang Kevin berikan. "Tentu saja aku mau!" jawabnya cepat. Kevin tersenyum tipis.
"Aku pulang dulu!" Dan dalam sekejap mata mobil mewah itu telah melesat jauh dan sosok Kevin tidak lagi terjangkau oleh mata Amber nya.
Viona memasuki rumahnya dengan hati berbunga-bunga.
Tappp...!!
Gadis itu menghentikan langkahnya saat mata indahnya tidak sengaja melihat sosok pria yang sedang berbincang dengan kakeknya. Viona mengenali siapa orang itu, itu adalah Vincent yang tak lain dan tak bukan adalah kakaknya '.
"Kakak!"
Merasa terpanggil, Vincent pun menoleh kebelakang dan mendapati adik kesayangannya itu berlari kearahnya. Sudut bibirnya tertarik keatas, laki-laki itu lekas berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.
Mempersilahkan Viona untuk masuk ke dalam pelukannya. "Kakak aku merindukanmu, kapan kau datang!" Viona melonggarkan pelukannya dan menatap sang kakak penuh tanya.
"Sekitar 1 jam yang lalu, bagaimana dengan kencan mu? Apakah berjalan lancar?"
__ADS_1
Viona benar-benar melepaskan pelukannya dan menatap Vincent penuh tanya. "Tunggu, bagaimana Kakak bisa tau jika aku sedang pergi dengan seseorang? Dan siapa bilang jika kami sedang berkencan? Aku dan dia hanya berteman saja!" Ujar Viona menjelaskan.
"Benarkah? Kakek pikir pemuda tampan itu adalah kekasihmu," sahut Kakek Hilman.
Viona memiringkan tubuhnya, karena keberadaan sang kakek terhalangi oleh tubuh Vincent yang menjulang tinggi di depannya, dan menatapnya penasaran.
"Apa maksud Kakek, siapa juga yang sudi menjadi kekasih pria dingin mirip kulkas tiga pintu seperti dia," ucap Viona .
"Oh,Kakek pikir kalian berdua berkencan. Tapi dia boleh juga loh, sangat tampan." Ucapnya.
Lalu fokusnya kembali pada ponselnya. Kakek Hilman tersenyum dan sesekali terkikik geli setiap kali melihat foto-fotonya dengan sang pujaan hati yang ada di ponselnya.
Vincent mengernyitkan dahinya, membalikkan tubuhnya dan menatap kakeknya penuh kebingungan. "Apa kakek baik-baik saja?" tanya laki-laki itu memastikan.
Viona mengangkat bahunya "Aku rasa orang waras bisa menjadi gila jika sudah berhubungan dengan yang namanya cinta!" tandasnya.
Muncul perempat siku-siku di kening Vincent. Dia butuh penjelasan sekarang. "Maksudmu?"
Viona menghela nafas panjang. "Dasar tidak peka. Kakak, Kakek kita sedang jatuh cinta!" Ucap Viona.
"Haaahh..." Vincent melongo dan menatap Viona tak percaya. Dan gadis itu mengangguk meyakinkan
"Kakek jadi aneh sejak dia jatuh cinta padanya. Tidak, yang benar mereka berdua saling mencintai. Dan apakah Kakak tau, saat sedang jatuh cinta jiwa muda kakek begitu membara. Dia menjadi seperti anak muda lagi," tutur Viona memaparkan.
"Hahahaha!"
Pandangan Vincent kembali terarah pada kakeknya, laki-laki yang usianya baru memasuki kepala 3 itu menghela nafas dan menggeleng melihat tingkah sang kakek yang seperti orang gila. Terkekeh sendiri dan kadang-kadang tertawa keras.
"Oya, Vi. Sejak tadi aku tidak melihat rubah licik itu. Apa dia dan kedua anaknya juga angkat kaki dari rumah ini?"
Viona menggeleng. "Mungkin mereka sudah tidur, dan putra pertamanya belum pulang, sepertinya. Kakak ada yang ingin aku tunjukkan padamu. Ayo ikut aku!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1