PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Tinggal Bersama Kevin


__ADS_3

"KEVIN!!"


Viona memekik sekencang-kencangnya setelah mengetahui jika orang itu adalah Kevin. Jika dia yang menjemputnya, itu artinya dengan Kevin-lah Ia akan tinggal selama meninggalkan rumah.


Kemudian Viona merogoh tas yang tersampir di bahu kanannya, saat ia merasakan ponsel miliknya bergetar yang menandakan ada satu pesan masuk. Mata Viona membulat sempurna setelah membaca pesan tersebut.


Gadis itu mengangkat wajahnya. Vincent dan Kakek Hilman berdiri di balkon kamarnya sambil melambaikan tangan. Rasanya Viona ingin melontarkan sumpah serapahnya pada kakek dan kakak tercintanya itu.


Diatas sana Vincent tersenyum dan memberikan semangat padanya, bahkan Vincent dan Kakek Hilman tidak peduli dengan tatapan nyalang gadis itu.


Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Ia merasa tidak enak pada Kevin karena harus melibatkannya. "Maaf, jika aku harus merepotkanmu! Sungguh, aku tidak tau apa-apa tentang rencana mereka." Viona memberikan penjelasan pada Kevin karena dia merasa tidak enak padanya.


Laki-laki itu mendengus. "Kenapa harus merasa tidak enak segala. Bukankah kita adalah teman, sudah selayaknya saling membantu. Apa hanya ini barangmu!" Viona mengangguk.


Viona meringis ngilu mendengar kata teman meluncur begitu saja dari bibir Kevin. Apa selama ini dia hanya menganggapnya sebagai teman, dan tidak lebih!! Lalu apa yang Viona harapkan dari perasaannya yang ternyata bertepuk sebelah tangan?!


Kevin mengangkat koper milik Viona lalu menyimpannya dijok belakang. Setelah membukakan pintu untuk gadis itu, Kevin kembali ke kursi kemudi. Menoleh sekilas pada gadis disampingnya yang hanya diam saja, dia menghela napas lalu menyalahkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik. Mobil sport mewah itu meninggalkan kawasan elit tersebut.


Hari ini Kevin membawa mobil yang berbeda dari yang biasanya dia bawa, wajar jika Viona tidak tau jika pemuda itu yang menjemputnya. Dan Viona juga tidak tau jika Kevin sudah keluar dari rumah sakit.


Kevin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Viona maupun Kevin. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Sejak mobil itu mulai melaju, tak sepatah kata pun keluar dari bibir Viona.


Kata 'Kita adalah teman' yang Kevin katakan membuat hati Viona tertohok. Ternyata selama ini perasaannya pada pemuda itu bertepuk sebelah tangan saja karena dia hanya menganggapnya sebagai teman.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Tumben hari ini kau sangat pendiam, tidak seperti biasanya."

__ADS_1


Viona menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa sedih, aku teringat pada novel yang ku baca semalam." Jawabnya.


"Novel?" Kevin memicingkan matanya, menatap gadis disampingnya dengan penasaran.


Viona mengangguk. "Ya, dalam novel itu cinta si gadis bertepuk sebelah tangan. Orang yang dia cintai ternyata hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Dan sebagai seorang wanita. Aku bisa merasakan dan memahami betul apa yang dia rasakan. Karena aku juga berada diposisi gadis itu." Tuturnya panjang lebar.


Kevin tidak memberikan respon apapun lagi. Dia kembali fokus pada jalanan. "Oya, Key. Bisa mampir sebentar ke mini market. Ada beberapa barang yang harus aku beli." Kevin menatap Viona kemudian mengangguk.


Kevin menambah kecepatan mobilnya. Mobil sport hitam itu menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya tanpa ragu, beberapa menit kemudian. Mereka tiba dipusat perbelanjaan. Kevin memarkirkan mobilnya dan menemani Viona untuk berbelanja, Kevin juga ingin membeli sesuatu.


Saat ini keduanya sedang berada di pusat perbelanjaan, Kevin mendorong troli dan Viona berjalan disampingnya. Tidak banyak yang Viona beli. Hanya pemb*Lut, peralatan mandi, makanan ringan dan buah-buahan segar. Sedangkan Kevin membeli minuman bersoda serta puluhan mie instan.


"Tolong dipisah ya!" kata Viona pada kasir di depannya.


Kevin menahan tangan Viona saat gadis itu hendak memberikan ATM-nya pada wanita yang berdiri dibalik meja kasir. Lalu ia mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya lalu memberikan golden card pada kasir tersebut.


Viona terkejut, gadis itu hendak membuka mulutnya namun tatapan dingin Kevin membuat ia kembali bungkam. "Ayo!" kata Kevin dan menyadarkan Viona dari lamunannya.


Gadis itu sedikit tersentak saat Kevin meraih dan menggenggam tangannya. Rasanya tidak seperti biasanya, mungkin dulu karena Viona berpikir jika Kevin menyukainya juga .


"Ada lagi yang ingin kau beli?" Kevin menoleh, membuat mata mereka saling bertemu.


Viona menggeleng. "Tidak ada, aku sudah mendapatkan semua yang ingin aku beli. Tapi, Key. Apa benar-benar tidak merepotkan jika aku numpang tinggal di rumahmu? Jujur saja aku merasa tidak enak padamu."


"Kenapa masih harus dibahas lagi. Tentu saja tidak apa-apa. Vincent ingin supaya aku menjagamu, jadi mana mungkin aku tidak menyetujuinya. Sekarang apa lagi yang kau pikirkan?!"

__ADS_1


Viona menggeleng. "Aku hanya tidak ingin ada yang salah paham hubungan kita. Aku tidak ingin membuat orang lain sakit hati," ia menundukkan wajahnya.


"Jadi kau tidak ingin jika teman dekatmu atau mungkin orang yang kau sukai salah paham dengan hubungan kita?" Ujar Kevin sedikit datar.


"Bukan aku, tapi kau. Bagaimana dengan gadis yang saat itu datang ke cafe bersamamu. Jika dia melihat kita, pasti akan salah paham dan mengira kita ada hubungan apa-apa." Viona menggigit bibir bawahnya.


"Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Dia mantanku, dan dia sudah meninggal. Sekarang apa lagi yang membuatmu ragu?" Viona menggeleng. "Ya sudah, sepertinya kau turun hujan. Kita harus bergegas." Ucap Kevin yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.


-


-


Viona memicingkan matanya. Ini bukan rumah pribadi milik Kevin yang dia datangi sebelumnya. Rumah itu juga sama megahnya dan memiliki halaman yang luas. "Ini rumah siapa?" Viona menatap Kevin penasaran.


"Rumahku juga, mulai hari ini kau akan tinggal disini. Rumahku yang sebelumnya sedang renovasi dan mungkin baru selesai akhir bulan ini. Untuk sementara kau tinggal saja disini." Ujar Kevin menuturkan.


Viona ingat jika Kevin memang hendak merenovasi rumahnya. Rumah masa depan yang akan dia tinggali bersama pasangannya kelak. Viona tersenyum pahit, Kevin sudah memikirkannya dari sekarang. Pasti sangat beruntung orang yang akan menjadi pendampingnya kelak.


"Aku iri pada istri masa depanmu. Wanita yang menikah denganmu kelak pasti akan sangat beruntung memiliki suami sepertimu. Dan sebagai seorang teman aku hanya bisa mendoakan semoga menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus dan apa adanya." Ujar Viona tanpa melunturkan senyum tipis dari bibir ranumnya.


"Apa yang kau bicarakan?! Bahkan aku sudah menemukan siapa gadis itu. Hanya tinggal mengatakan padanya bersedia untuk menikah denganku atau tidak. Oya, aku harap kau bisa nyaman berada di rumah ini, karena sesekali teman-temanku akan datang untuk menginap."


Viona mengangkat bahunya. "Tidak masalah." Ucapnya. Lalu keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2