PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Karena Dia Adalah Ken!!


__ADS_3

"Kau mau pergi?"


Ken menatap Luna yang berjalan menghampirinya. Wanita itu terlihat anggun dalam balutan celana putih dan turleneck hitam bermotif bunga berbahan brukat halus. Rambut panjangnya di gulung ke atas dengan sebuah tusuk konde berhias bunga sakura.


"Aku harus menjemput Tiffany di bandara. Dia sahabat kentalku selain Chia dan Sunny serta Joy. Hari ini dia kembali dari California." Jelas Luna.


"Perlu aku temani? Kebetulan hari ini aku free dan tidak ada kerjaan. Ngomong-ngomong sahabatmu itu sudah memiliki kekasih belum?" Tanya Ken. Luna memicingkan matanya.


"Kenapa kau bertanya begitu? Jangan bilang jika kau ingin menikah lagi?!" Tebak Luna asal.


Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus di kepala coklat Luna. "Sembarangan!! Jujur saja aku sangat kasihan pada Devan, dan aku berencana mencarikan jodoh untuknya." Jawab Ken memberi penjelasan.


"Aku kira kau mau menikah lagi. Kebetulan belum, dan saat ini dia memang sedang mencari jodoh. Tiffany baru putus dari kekasihnya beberapa bulan lalu, kalau begitu kau hubungi dia dan ajak kak Devan untuk ikut bersama kita." Ujar Luna.


"Baiklah, aku ganti pakaian dulu."


"Aku tunggu di mobil."


Langkah Luna terhenti ketika dia melihat kedatangan Aldo. Setelah dua hari dua malam, pemuda itu akhirnya pulang ke kediaman Zhao. Tapi Luna tidak mau ambil pusing. Dia melanjutkan langkahnya dan melewati Aldo begitu saja.


Grep..


Namun langkah Luna berhasil ditahan oleh Aldo. Pemuda itu mencengkram pergelangan tangan Luna lalu menghimpit wanita itu di tembok.


"Aldo, apa yang kau lakukan?" Tanya Luna tak bersahabat.


"Katakan padaku, Luna. Apa yang harus aku lakukan supaya hubungan kita bisa seperti dulu lagi? Kenapa, Luna, kenapa dari semua pria yang ada di dunia ini harus dia? Kenapa harus Pamanku yang kau nikahi, KENAPA?!" teriak Aldo di akhir kalimatnya.


Luna menyentak tangan Aldo dan membalik posisi mereka. Luna menghimpit Aldo di tembok dengan sebelah lengannya yang mengunci leher pemuda itu. "Kau ingin tau apa alasanku lebih memilih Pamanmu dibandingkan dirimu?" Luna menatap Aldo yang juga menatap padanya. "Baiklah, akan aku katakan!!"


Aldo menatap Luna begitu serius. Dia tidak sabar menunggu kalimat demi kalimat yang akan terlontar dari mulut wanita di depannya ini. "Kenapa, Aldo? Apa kau begitu penasaran untuk mengetahui apa alasanku menikahi Pamanmu?" Luna menyeringai.

__ADS_1


"Jangan bertele-tele, katakan saja kenapa kau lebih memilih menikahinya dibandingkan diriku?!"


"Pertama, dialah orang yang menyelamatkanku ketika keluarga William hendak menjual ku pada rekan bisnisnya dengan dalih perjodohan. Kedua, dia adalah satu-satunya pria yang selalu ada dan tidak pernah meninggalkanku ketika aku terpuruk. Ketiga, karena dia Ken Zhao. Pria dingin yang penuh kelembutan dan kehangatan. Apa kau puas!!"


"Sebaiknya mulai sekarang jangan pernah mengganggu dan mengusik hidupku, apalagi ikut campur dalam kehidupan rumah tanggaku dengan pamanmu. Karena aku tidak akan tinggal diam. Dan sebaiknya hal ini jadikan pelajaran serta pengingat. Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang dengan tulus mencintaimu, karena belum tentu selamanya dia akan berdiri di tempat yang sama!!"


Luna melepaskan kuncian lengannya pada leher Aldo dan pergi begitu saja.


Tanpa keduanya sadari, seseorang tengah memperhatikan dan menatap mereka dari kejauhan. Orang itu menyeringai lebar, dengan tenang dia menuruni tangga melingkar kediamannya.


"Ingat baik-baik apa yang Luna katakan!!" Orang itu yang pastinya adalah Ken menepuk bahu Aldo dan melewatinya begitu saja.


"ARRKKHH!! KALIAN BERDUA SUNGGUH SANGAT KETERLALUAN!!"


-


-


"Sebenarnya untuk apa kita ke sini? Memangnya siapa yang perlu kita jemput?" Devan menatap Ken dan Luna penasaran.


"Benarkah?" Luna mengangguk.


"Jadi jangan banyak tanya lagi. Sebaiknya kita masuk karena pesawatnya akan segera tiba." Ucap Luna.


Devan yang awalnya malas menjadi begitu bersemangat. Dia sudah sangat-sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan sahabat Luna. Devan ingin tau gadis itu secantik apa. Apa benar-benar cantik seperti yang Luna katakan atau tidak.


Ken yang melihat tingkah saudaranya itu hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Apa dia separah itu dalam hal percintaan? Ken rasa tidak, Devan adalah tipe pria playboy ketika masih muda dulu, saat masih kuliah Devan sering gonta-ganti pasangan.


"Luna...!!"


Panggilan keras itu mengalihkan perhatian ketiganya. Luna menoleh dan mendapati seorang gadis berambut hitam panjang berlari menghampirinya.

__ADS_1


"KYYYA, Fanny!!" Luna merentangkan kedua tangannya dan keduanya kemudian berpelukan. "Aku merindukanmu," ucap Luna sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku juga," balas Tiffany. Kemudian mereka melepaskan pelukannya. Luna mengenalkan Ken dan Devan pada sahabatnya itu. "Jadi rumor itu benar, Sunny dan Chia menghubungiku, mereka memberitahuku jika kau sudah menikah. Awalnya aku tidak percaya, tapi setelah kau mengatakannya langsung dan orang itu ada di depan mataku. Aku jadi percaya." Ujar Tiffany panjang lebar.


Luna terkekeh. "Jangankan kau, aku sendiri rasanya masih belum percaya jika sudah menikah. Apalagi yang menikahiku adalah seorang Duda beranak satu," ujar Luna sambil melirik Ken dari ekor matanya.


"Seharusnya kau bersyukur, meskipun dia duda, tapi setidaknya dia sangat tampan dan berkharisma. Dan poin utamanya dia itu mapan," balas Tiffany menimpali. Luna mengangguk.


Kemudian mereka berempat meninggalkan bandara. Tiffany satu mobil dengan Devan, dan gadis itu tidak menolak ketika Luna memintanya satu mobil dengan pria tersebut.


-


-


Ken menepikan mobilnya dan membuat Luna kebingungan. Wanita itu menoleh dan menatap suaminya penasaran. "Kenapa tiba-tiba berhenti?" Tanya Luna kebingungan.


"Dari pagi aku belum mendapatkan jatahku," jawab Ken lalu menarik kepala Luna dan menyatukan bibir mereka.


Kemudian Ken melepaskan sabuk pengamannya dan Luna agar tidak ada lagi jarak di antara mereka. Luna berpindah ke atas pangkuan Ken dan membalas ciuman pria itu. Kedua lengan Luna memeluk leher suaminya ketika ciuman Ken semakin dalam dan menuntut.


Bibir mereka saling mel*mat dan memagut lebih dalam. Ken tidak memberikan kesempatan bagi Luna untuk bernapas bebas meskipun itu hanya sedetik saja. Sebelah tangan Luna turun menuju lengan terbuka Ken dan merasakan teksturnya. Lengan Ken tidak terlalu besar, tapi cukup kuat untuk di sentuh.


Tak puas hanya mel*mat bibirnya saja. Ken mencoba mendapatkan akses lebih dengan menekan belahan bibir Luna, tau apa yang diinginkan oleh suaminya. Luna segera membuka mulutnya dan mempersilahkan lidah Ken untuk menginvasi seluruh bagian mulutnya.


"Nanti kita lanjutkan lagi," ucap Ken sambil menyeka liur di bibir Luna. Wanita itu mengangguk.


"Baiklah,"


Namun sayangnya pergulatan bibir mereka harus terhenti. Mereka tidak mungkin melakukan hal yang lebih gila karena sadar dimana posisinya saat ini. Ken menyalakan kembali mesin mobilnya dan melanjutkan kembali perjalanan mereka yang tertunda.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2