PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Kucing Liar..


__ADS_3

Tatapan penuh kebencian sangat jelas di tunjukkan oleh Amelia dan putri bungsunya, Minna, pada Viona. Meskipun tidak mengatakan secara langsung. Namun tatapan mereka membuktikan jika mereka sangat tidak menyukai kehadiran Viona dalam keluarga itu.


Melia terutama, karena menurutnya kedatangan Viona hanya akan menghambat rencananya untuk menguasai harta suami dari almarhum bibinya tersebut.


Namun hal itu bukanlah sesuatu yang bisa Ia raih dengan mudah, karena seluruh harta Jung Hilman telah di alih namakan menjadi Viona. Dan itu artinya, mereka tidak mungkin bisa mendapatkan sepeser pun harta Kakek Hilman tanpa persetujuan dan stempel dari Viona.


"Ibu, sebenarnya siapa gadis itu? Kenapa tua bangka itu memperlakukannya dengan sangat manis?" tanya Minna setengah berbisik.


Amelia segera menginjak kaki putri bungsunya dan ketika Minna menoleh, untuk melayangkan protesnya. Dia langsung di hadiahi tatapan tajam oleh ibunya itu.


"Pelankan suaramu, bodoh. Dia adalah Jung Viona, cucu bungsu dari tua bangka itu. Kau harus bersikap baik padanya agar kau bisa mengambil hatinya, dia adalah pewaris tunggal seluruh harta 'Jung Hilman." tutur Amelia memaparkan.


"Cihh, sungguh merepotkan!" Minna mendengus kasar.


"Ekhemmm,"


Trangg..!!


Viona meletakkan sendok dan garpunya dengan sedikit sentakan hingga menimbulkan suara yang cukup membuat semua orang terkejut. Gadis itu berdehem rendah, meletakkan kedua tangannya di atas meja lalu menatap Amelia dan Minna secara bergantian.


Dan apa yang Viona lakukan kini menjadi pusat perhatian. Kakek Hilman dan Kai sama-sama meletakkan sendok dan garpunya.


"Yakkk, kenapa kau menatapku seperti itu?" amuk Minna yang tidak suka dengan tatapan Viona padanya.


Gadis berparas barbie itu mendesah panjang. Viona menatap Minna datar. "Apa kalian tidak memiliki sopan santun? Ini adalah meja makan, tidak seharusnya kalian berbincang dan membicarakan orang lain!" ujar Viona menegaskan.


Viona bangkit dari duduknya. "Kakek, aku sudah selesai," katanya dan berlalu begitu saja. Jung Hilman mendesah panjang, ternyata cucu kesayangannya itu tidak pernah berubah.


Viona meninggalkan mansion mewahnya sambil terus berkomat-kamit tidak jelas. Sampai-sampai dia tidak menyadari akan keberadaan sebuah mobil mewah yang terparkir di depan pagar rumahnya.


Orang yang bersandar pada mobil mewah itu mendengus melihat tingkah gadis bermarga Jung tersebut. "Bagus sekali, sudah terlambat satu menit lebih 20 detik, dan sekarang malah meninggalkanku begitu saja!!" Seru orang itu yang pastinya adalah Kevin.


"Omo!! Bagaimana ada setan disiang bolong begini!!" Kaget Viona. Gadis itu celingukan mencari dari mana asal suara itu berada. Dan ketika dia berbalik, sebuah sentilan keras malah mendarat pada keningnya. "Aaahh,"

__ADS_1


"Sudah membuatku menunggu, dan kau masih berani menyebutku setan?! Bagus sekali, Viona Jung. Hukumanmu akan semakin diperberat hari ini!!"


Sontak kedua mata Viona membelalak. "Hu..Hukuman apa?" Bingung gadis itu.


Viona mundur beberapa langkah saat melihat Kevin mendekat padanya. Dia menoleh kebelakang, dan mentok pada pohon besar yang ada dibelakangnya. Gadis itu menutup matanya melihat Kevin mendekatkan wajahnya. Karena dia berpikir jika pemuda itu akan menciumnya.


Kevin memicingkan matanya. Pemuda itu menyeringai. "Kenapa kau menutup mata? Apa yang kau pikirkan?! Kita sudah terlambat, kemudian mobilnya." Kevin melemparkan kunci mobilnya pada Viona dan pergi begitu saja.


Viona pun langsung memerah karena malu. Dia pikir Kevin akan menciumnya, ternyata tidak. Gadis itu berkomat-kamit tidak jelas. Dia berjalan sambil menundukkan kepalanya, Viona benar-benar kesal setengah mati.


.


.


Mereka tiba di kantor 20 menit kemudian. Kedatangan Viona tak disambut baik oleh beberapa karyawan Kevin yang menaruh hati pada atasannya tersebut. Mereka menunjukkan tatapan kebencian sambil mengibarkan bendera perang secara terang-terangan.


Namun Viona tak mau terlalu ambil pusing. Dia tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan tatapan-tatapan itu.


"Segera siapkan file untuk rapat pagi ini. Dan kau tidak perlu ikut rapat, aku tidak mau kau mengacau seperti sebelumnya!!"


Kevin mendengus berat. "Siapkan kopi untukku, lalu foto copy file-file ini. Selesaikan kurang dari 15 menit!!" Viona menatap Kevin tak percaya. Membuat kopi dan memfoto copy file sebanyak itu kurang dari 15 menit. Apa dia bercanda?!


Kesal dengan sikap semena-mena Kevin padanya. Viona menyambar vas bunga yang ada di atas meja lalu melemparkan pada Kevin, dan vas itu mendarah mulus pada keningnya, membuat pelipisnya robek dan berdarah. Tapi Viona sama sekali tidak peduli.


"Viona, kau cari mati ya?!" Geram Kevin dengan mata berkilat tajam.


"Bodoh amat!!" Jawab Viona dan pergi begitu saja.


Viona benar-benar tidak peduli meskipun melihat Kevin berdarah-darah karena dirinya. Dia terlalu kesal dengan tingkah pemuda itu. Dengan seenak jidat Kevin memintanya untuk melakukan ini dengan waktu yang sangat terbatas.


Pintu ruangan Kevin tiba-tiba di buka dari luar. Sosok Devan masuk ke dalam sambil membawa dua porsi sarapan. Rencananya dia ingin mengajak Kevin sarapan bersama, karena keponakannya itu tidak sempat sarapan tadi pagi.


Namun setibanya di sana, dia malah disuguhi sebuah pemandangan yang sedikit mengerikan. Dimana Kevin yang berdarah-darah. Meskipun lukanya tidak seberapa, namun luka di area kepala membuat darahnya keluar lumayan banyak.

__ADS_1


"Kevin, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" Panik Devan.


"Karena kucing liar,"


"Biarkan Paman lihat," ucap Devan. "Lukanya perlu dijahit. Kita ke rumah sakit saja, biar lukamu cepat diobati."


"Tidak perlu. Jangan berlebihan, ini hanya luka kecil. Cukup kasih obat dan tutup perban, beres." Jawab Kevin.


Setelah mengobati dan menutup luka itu dengan perban. Kevin pergi ke ruang istirahat untuk mengganti kemejanya yang kotor oleh noda darah. Karena tidak mungkin dia menghadiri rapat dengan kemeja kotor seperti itu.


BRAKK...


Dobrakan keras pada pintu membuat Devan yang ada di dalam terlonjak kaget. Dia menoleh dan mendapati seorang gadis cantik memasuki ruangan Kevin sambil membawa kopi dan tumpukan keras di pelukannya.


Devan tidak tau siapa gadis cantik itu. Tapi entah kenapa dia yakin jika kucing liar yang Kevin maksud adalah gadis ini. "Jadi kau kucing liar itu?" Ucap Devan tanpa basa basi.


Viona memicingkan matanya. "Kucing liar?!"


Devan mengangguk. "Kevin bilang jika dia terluka karena kucing liar."


Mendengar hal itu membuat Viona kembali meradang. Dia meninggalkan Devan lalu masuk ke ruang istirahat dan menghampiri Kevin yang sedang mengancingkan, kancing pada Vest hitamnya.


"Kevin Zhao, apa maksudmu menyebutku sebagai kucing liar?"


Kevin melirik gadis itu dari ekor matanya."Lalu apa sebutan yang cocok untuk gadis bar-bar sepertimu!!" Jawabnya datar. Viona menghampiri Kevin, tapi sialnya dia malah terjegal kakinya sendiri. Akibatnya tubuh Viona langsung roboh ke depan dan menimpa Kevin.


Posisi mereka tumpang tindih dengan posisi saling berhadapan. Viona berada di atas tubuh Kevin. Kedua tangannya bertumpu pada dada bidang itu, sementara tangan Kevin memeluk pinggang Viona. Mata mereka saling bersirobok dan menatap satu sama lain. Selama beberapa saat.


Kedua mata Viona membelalak saat merasakan sebuah benda lunak dan basah menyentuh dan menyapu permukaan bibirnya. Diikuti lum*tan dan pagutan. Antara percaya dan tidak percaya, Kevin menciumnya... Tepat di bibirnya....


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2