PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Penyerangan!!!


__ADS_3

"Apa ini senjata api?"


Tanpa sengaja Viona menemukan S&W 500M diatas meja samping tempat tidur pemuda itu. Kevin mengambil revolver tersebut dari tangan Viona lalu menyimpannya di dalam lagi.


"Bukan, ini hanya barang mainan. Lagipula untuk apa juga aku menyimpan benda yang sangat berbahaya ini." Elak Kevin. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada Viona, jika itu memang senjata api sungguhan.


"Benarkah? Tapi barang itu terlihat seperti asli. Ngomong-ngomong darimana kau mendapatkannya? Sudah lama sekali aku juga ingin membeli barang tiruan seperti itu tapi terlihat seperti asli." Tutur Viona.


"Di luar negeri. Aku membelinya saat berada di luar negeri dulu," jawab Kevin.


"Apa tidak bisa dikirimkan? Aku benar-benar ingin memilikinya," Viona menatap Kevin penuh harap.


"Ck, mana aku tau. Kenapa kau cerewet sekali?! Dan berhentilah memasang wajah menyebalkan seperti itu, menggelikan!!"


Viona mencerutkan bibirnya. Kesal dengan jawaban dan sikap Kevin yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Dan hampir setiap hari Kevin membuatnya kesal setengah mati.


"Dasar kulkas tiga pintu. Kenapa harus sewot, dasar menyebalkan!! Sudahlah sebaiknya aku pulang saja. Terlalu lama disini hanya membuatku darah tinggi,"


Kevin menahan pergelangan tangan Viona ketika gadis itu hendak beranjak pergi. "Apa kau buta?! Diluar sedang hujan lebat dan kau ingin pulang? Malam ini sebaiknya bermalam saja disini, banyak kamar kosong yang bisa kau pakai."


Viona menggeleng."Tidak mau!! Lebih baik aku pulang saja, bagaimana kalau tengah malam tiba-tiba kau menyusul ke kamar dan aku kau apa-apakan?! Kau kan mesum!" Tuding Viona, alhasil sebuah jitakan mendarat mulus di kepala coklat Viona.


"Appoooo!! Kevin, sakit!!" Jerit Viona sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Kevin.


Gadis itu mencerutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan, kenapa kau suka sekali menindasku?! Bagaimana jika aku sampai bodoh karena ulahmu itu," Viona terus saja menggerutu tidak jelas. Lagi-lagi mereka bersikap seperti kucing dan tikus.


Viona meninggalkan Kevin begitu saja. Dari pada semakin kesal dan emosi karena pemuda itu. Lebih baik dia mencari makanan apa yang bisa dimakan di dalam lemari pendingin.


Dorrr...


Prakkkk...


Kevin langsung menyambar tubuh Viona setelah mendengar suara tembakan disusul dengan suara kaca pecah tepat dibelakang Kevin berdiri. Tubuh mereka tiarap dilantai dengan posisi Kevin memeluk dan melindungi Viona.


Dorr...


Dorr...

__ADS_1


Dorr..


Suara tembakan kembali terdengar. Kali ini bukan hanya satu tembakan, tapi secara beruntun. Kemudian Kevin menarik Viona menuju tempat yang aman untuk bersembunyi. Ada sebuah ruangan rahasia di dalam kamar Kevin.


"Tetaplah disini dan jangan coba-coba untuk keluar apapun yang terjadi. Keadaan diluar sangat berbahaya."


"Tapi!!"


"Tidak ada tapi, menurut saja. Jangan sampai mereka melihatmu, karena itu sangat berbahaya. Hanya ruangan ini satu-satunya tempat paling aman di rumah ini."


"Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak ikut bersembunyi denganku saja disini?" Viona menatap Kevin dengan mata berkaca-kaca.


Kevin menggeleng. "Jangan cemaskan aku. Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Lagipula teman-temanku akan segera datang. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja." Kevin mencoba meyakinkan Viona.


"Kau harus berjanji satu hal padaku. Kau harus kembali hidup-hidup,"


"Baiklah, aku berjanji." Ucapnya.


Kevin menutup kembali ruangan itu agar keberadaan Viona tidak diketahui oleh mereka. Akan sangat berbahaya jika mereka sampai menemukan gadis itu. Keselamatan Viona bisa terancam dan dia akan berada dalam bahaya.


.


.


Satu persatu tubuh lawan tumbang setelah tubuhnya tertembus peluru yang Kevin lepaskan.


Dorr...


Dorr...


Dorr...


Desiran suara peluru yang dilepaskan membuat suasana kian mencekam. Darah segar yang bercampur air hujan menggenang dimana-mana. Mayat-mayat bergelimpangan. Membuat halaman rumah Kevin seketika menjadi lautan darah.


Serangan demi serangan yang menuju ketitik-titik Vitalnya berhasil Kevin gagalkan. Mereka tak hanya saling menembak dan menghabisi, tapi juga memukul, menendang dan membanting.


Perkelahian tak seimbang itu berlangsung semakin sengit. Kevin yang hanya seorang diri dikeroyok lebih dari 30 orang. Namun lebih dari setengah dari mereka berhasil Kevin tumbangkan. Mereka berkelahi dibawah guyuran deras air hujan yang tak kunjung berhenti. Sore yang kelam kian terasa mencekam karena kedatangan mereka.

__ADS_1


Derasnya hujan tidak membantu sama sekali, namun justru membuat luka-luka ditubuh Kevin seperti ditaburi air garam. Luka diperutnya kembali terbuka, namun Kevin tak terlalu menghiraukannya. Hanya tersisa 10 orang lagi.


Semakin lama, tenaga Kevin semakin terkuras. Dia mencoba untuk tetap bertahan. Pukulan demi pukulan menghantam tubuh dan wajahnya. Namun hal itu tak lantas membuatnya tumbang. Dan jika saja saat ini dia tidak dalam keadaan terluka, menghadapi orang-orang itu tentu bukan masalah baginya.


Dorr...


Dorr..


Dorr..


Tiga orang itu tumbang setelah timah panas menerjang tubuh mereka. Sontak Kevin menoleh. Kedua matanya membelalak, Viona berdiri di teras sambil memegang sebuah senjata api ditangannya.


"Gadis bodoh, apa yang kau lakukan?! Bukankah aku memintamu untuk tetap di dalam, apa kau sudah bosan hidup?!" Bentak Kevin penuh emosi.


"Ini bukan saatnya untuk marah-marah. Lebih baik kita atasi mereka terlebih dulu. Polisi akan segera tiba, tapi dimana teman-temanmu?" Viona celingukan mencari teman-teman Kevin.


"Mereka belum datang,"


Brugg...


Viona menendang perut orang yang hendak menyerangnya. Lalu menarik lengannya dan menggunakan senjata ditangannya untuk menghabisi rekan-rekannya yang masih tersisa. Sedikitnya empat orang berhasil Viona tumbangkan. Tersisa tiga lagi, termasuk orang yang berada dalam cengkraman Viona.


Dua yang tersisa tampak ragu-ragu untuk menyerang melihat teman-temannya terbunuh di depan mata mereka. Saat keduanya mencoba untuk melarikan diri, sebuah belati yang telah diolesi racun menancap pada punggung dan tengkuknya. Keduanya pun roboh seketika.


Tersisa satu orang lagi, dan Viona juga tak membiarkannya lolos. "KEVIN!!" Viona memekik kencang sambil menahan tubuh Kevin yang hampir ambruk. Luka diperutnya kembali terbuka dan mengeluarkan banyak darah. Belum lagi luka-luka lain yang dia dapatkan beberapa saat lalu.


Deru suara motor yang memasuki halaman membuat perhatian Viona teralihkan. Sepertinya itu adalah teman-teman Kevin. Lima pemuda menghampiri Kevin dengan wajah panik dan cemas. "Hyung, dimana para penyusup itu?!" Tanya Beni setibanya di depan Kevin dan Viona.


"Kau buta ya?!" Bentak Viona penuh emosi.


"Kumpulkan mereka dan bakar, aku tidak ingin ada jejak apapun!!" Ucap Kevin. "Vi, bantu aku ke dalam." Viona mengangguk. Ia pun segera memapah Kevin ke dalam.


Luka-lukanya mengeluarkan darah dan harus segera ditangani. Karena jika tidak bisa infeksi dan hal itu akan membahayakan nyawa Kevin.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2