
Malam sudah semakin larut, namun Luna masih tetap terjaga. Wanita itu begitu sulit untuk menutup matanya, meskipun kenyataannya ia sudah sangat mengantuk.
Luna meninggalkan kamarnya dan juga Ken yang sedang tertidur pulas. Dengan kaki telanjang, wanita itu berjalan menuju balkon. Semilir angin malam yang dingin namun terasa sejuk langsung menyambutnya di sana.
Luna mengangkat wajahnya, kepalanya mendongak menatap langit malam bertabur bintang. Langit terlihat lebih cerah dari malam-malam sebelumnya. Bulan bersinar terang, membagi cahayanya pada sebagian bumi yang dinaungi. Tak ketinggalan manik-manik langit yang berkelip indah memainkan sinarnya.
Malam ini cuaca begitu bersahabat, dan di tengah cuaca seperti ini dulu dia sering menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan di luar menikmati suasana malam yang hening. Namun Luna tidak pernah melakukannya lagi semenjak dia menikah.
Ada saatnya dia merasa Rindu dengan kehidupan lamanya, tapi di sisi lain, dia juga menikmati hidupnya sekarang. Karena kehadiran Ken dan Daniel membawa warna baru dalam hidupnya yang awalnya biasa-biasa saja.
"Ma, apa kau melihat dari atas sana?! Jika saja Mama masih ada, mungkin Hidupku akan terasa lebih sempurna, sayangnya mama pergi meninggalkanku lebih cepat. Aku rindu mama, kenapa Mama tidak pernah hadir lagi di mimpiku, apa Mama tidak merindukanku juga?"
Luna tidak bisa menahan air matanya agar tidak menetes. Hatinya selalu rapuh, jika sudah mengingat tentang ibunya. Luna merindukannya, dia merindukan segala hal yang ada pada ibunya.
Sayang orang yang dia rindukan, tidak bisa lagi ia gapai apalagi ia peluk untuk melepaskan kerinduannya. Karena orang itu, telah hidup di keabadian.
"Ma, pasti kau melihatnya dari surga. Aku dan Papa akhirnya bertemu, aku sungguh tidak menyangka jika keluarga William, bukankah keluarga kandungku. Pantas saja papa tidak pernah memperlakukanku dengan baik, itu karena aku bukan Putri kandungnya."
"Andaikan saja Mama mengatakannya dari awal, aku tidak menyalahkan mama. Mungkin mama memiliki pertimbangan sendiri kenapa tidak mengatakannya padaku."
Derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatian Luna, mengalihkannya dari langit malam. Terlihat sosok Ken berjalan menghampirinya.
"Ken, kenapa kau bangun?" ucap Luna setibanya Ken di depannya.
"Bagaimana aku tidak bangun, saat aku menyadari tiba-tiba istriku menghilang. Dan Apa yang sedang kau lakukan disini, ini sudah larut malam Luna. Sebaiknya masuk dan segera tidur, kau bisa sakit jika kurang tidur."
Luna menggeleng. "Aku tidak bisa tidur, tiba-tiba Aku merindukan mama." jawab Luna sambil tersenyum gamang.
"Apa perlu kita kembali ke Korea untuk mengunjungi ibumu?" Luna menggeleng. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika merindukannya?"
"Memang, aku cukup dengan melihat bintang saja. Itu sudah bisa mengurangi rasa rinduku padanya,"
__ADS_1
Ken maju satu langkah lalu membawa Luna ke dalam pelukannya. "Jika ingin menangis, sebaiknya jangan ditahan. Kau bisa menangis sepuasnya dipundak-ku." Ucap Ken setengah berbisik
Dan ucapan Ken membuat tangis Luna pecah seketika. Apa yang tertahan di hatinya, pecah begitu saja dan berubah menjadi lelehan-lelehan kristal bening yang membasahi pipinya. Disahkannya yang pilu membuat hati siapa pun akan terenyuh kita mendengarnya, tak terkecuali Ken.
Dada Ken terasa sesak mendengar isakan Luna. Tapi setelah menangis, Luna akan merasa lebih baik.
Setelah dirasa Luna mulai tenang, Ken melepaskan pelukannya. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di pipi Luna. "Apa kau sudah merasa lebih baik?" Luna mengangguk. "Ayo sekarang kita masuk, dan aku tidak mau mendengar lagi kata tidak!!" ucap Ken tak mau dibantah. Dan Luna hanya mengangguk, mengiyakan.
Dia tidak ingin berdebat dengan suaminya karena hal sepele. Dan Luna memilih untuk mengalah.
-
-
"Ken?"
Luna bangun di pagi hari, dan mendapati tempat tidur disampingnya telah kosong. Yang artinya, Ken telat bangun lebih dulu darinya wanita itu, menyibak selimutnya lalu berjalan keluar dengan kaki tel*njang.
Rumah dalam keadaan legang, hanya ada beberapa pelayan dan batang hidung Ken tidak terlihat sama sekali. Luna tidak tahu ke mana perginya suaminya itu.
"Paman, Liu!! Kemana perginya suamiku, pagi-pagi sekali dia sudah tidak ada di rumah? Apa dia sedang pergi keluar?" tanya Luna memastikan.
"Saya tidak tahu kemana Tuan pergi. Beliau hanya berpesan, ketika Anda bangun. Tidak perlu menunggunya untuk sarapan, Tuan meminta supaya anda untuk sarapan lebih dulu,"
"Aku masih belum lapar, nanti saja." ucap Luna dan pergi begitu saja.
-
-
Dua orang pria saling menodongkan senjatanya. Dan saling menatap dengan tatapan membunuh. "Aku tidak akan memperpanjang masalah ini, jadi sebaiknya katakan siapa sebenarnya dalang dibalik kecelakaan yang menewaskan Seluruh keluargaku?!"
__ADS_1
"Kau pikir aku bodoh sehingga harus memberitahumu!! Dan meskipun kau membunuhku, aku tetap kita akan memberitahumu siapa dalang dibalik kematian orang tuamu dan seluruh keluarga Zhao!!"
Ken menyeringai dan menatap pria itu dengan sinis. "Oh, jadi itu pilihanmu?! Sayangnya bukan kau yang akan ku Habisi, tapi wanita itu!!" tunjuk Ken pada seorang wanita yang saat ini sedang menangis ketakutan dibawa ancaman salah seorang anak buah Ken.
Mata laki-laki itu membelalak melihat istrinya berada dalam bahaya. "Bajingan!! Apa yang sebenarnya kau inginkan?!" seorang pria itu marah.
"Bukankah sudah sangat jelas Orang aku inginkan, yakin kau bukan orang yang bodoh dan dungu sehingga masih harus bertanya lagi?!" jawab Ken dengan seringai yang sama.
"Pria itu mengepalkan tangannya. Kau memang iblis, Ken Zhao!! Bagaimana bisa kau menggunakan istriku untuk mengancamku?!"
"Keputusan ada di tanganmu, memberitahu atau tetap tutup mulut dengan resiko istrimu yang menjadi taruhannya!! Bagaimana adil bukan?!" Ucap Ken dengan seringai yang sama.
"Sebaiknya kau mati saja, Ken Zhao!!"
Dorr..
Satu tembakan berhasil Ken belokkan. Dan senjata ditangan pria itu lepas dari genggamannya. Ken melepaskan tembakan keduanya dan bersarang pada paha kanannya. Membuat pria itu ambruk seketika, tapi masih bernyawa karena yang Ken tembak bukanlah di titik vitalnya.
"Jangan pernah menguji kesabaran ku!! Katakan sekarang atau nyawa wanita itu akan melayang detik ini juga?!" Ken mulai kehilangan kesabarannya.
Lalu pria itu mengangkat wajahnya dan menatap sang istri yang masih terus menangis ketakutan. Air mata membahasi wajah cantiknya, dia juga melihat cairan merah segar mengalir dari leher putihnya yang sedikit tergores.
Tatapannya mengisyaratkan jika dia meminta sebuah pertolongan. Dan pria itu luluh seketika. Dia tidak mungkin membiarkan nyawa istrinya sendiri dalam bahaya. "Baiklah, aku akan memberitahumu siapa orang yang memerintahkan ku waktu itu. Dia adalah..."
DORR...
Tubuh pria itu ambruk seketika, dia telah merencanakan untuk membunuh dirinya sendiri. Dan lagi-lagi Ken tidak berhasil mengetahui siapa dalang dibalik kecelakaan hari itu.
"SIAL!! LAGI-LAGI AKU GAGAL!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.