
Kelahiran pun tak bisa terhindarkan lagi. Ken yang hanya bertiga, dikeroyok sedikitnya 15 orang. Ken dan kedua anak buahnya menghalau setiap Serangan yang mengarah pada tubuh mereka.
Meskipun mereka kalah jumlah, kedua anak buahnya tentu bukan orang berkemampuan rendah. Ken terutama, dia menguasai sedikitnya 5 sampai 6 teknik beladiri. Sedangkan anak buahnya adalah orang-orang yang terlatih.
Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, Ken dan kedua anak buahnya berhasil menumbangkan lebih dari setengah dari jumlah mereka. Sedikitnya 9 orang terkapar di lantai dalam keadaan babak belur.
Hanya tersisa 7 orang lagi, termasuk Dion Kim. Melihat anak buahnya dihabisi oleh Ken dan kedua orangnya membuat Dion mulai was-was, sepertinya dia harus mengambil Jalan aman, yakni meninggalkan lokasi sebelum dirinya menjadi korban.
Dia harus segera melaporkan insiden ini pada bos besarnya. Agar Bosnya bisa segera bertindak dan memikirkan cara untuk menghancurkan Ken.
"Urusan disini aku serahkan pada kalian berenam, aku harus kembali untuk melapor pada bos besar."
"Baik ketua, kami mengerti!!"
Meskipun melihat pria itu pergi tapi Ken tidak berusaha untuk menghentikannya. Dia membiarkan Dion pergi, dan melapor pada Bos besarnya. Ken ingin melihat apa yang bisa dilakukan oleh pria itu.
"Jangan kau pikir kau sudah menang, Ken Zhao. Lihat Bagaimana aku akan menghabisi mu!!"
"Besar mulut!!"
Usai berkata demikian, Ken mundur beberapa langkah kebelakang saat pria itu menerjang ke arahnya.
Dengan kecepatan gerakan yang sukar untuk diikuti mata pria tersebut, Laki-laki beriris hitam itu telah mencengkeram pergelangan tangan lawannya. Pria berkacamata dan berjas itu lantas terperanjat bukan main melihat hasil serangannya.
Ken menarik sudut bibirnya. Dia menyeringai dingin.
Bukk! Bukk!
Ken dengan cepat menghantamkan kakinya ke perut lawannya sehingga dia terhuyung mundur sambil meringis memegangi perutnya.
Buagh!
Dess!
Ken belum selesai, ia mendaratkan pukulannya dengan cepat di pelipis pria itu dan di lanjutkan kembali dengan tendangannya yang menghantam dadanya. Pria itu terpelanting ke lantai.
Ken pun ingin segera menyelesaikan pertarungan itu selekas mungkin, segera memburu lawan-lawannya dengan serangan ganasnya. Namun dengan sisa-sisa tenaganya, pria itu menghindar dengan melompat mundur.
Meski sempat bernafas lega karena berhasil menghindar, tapi itu hanya sesaat saja, karena pada saat itulah Ken mendaratkan serangannya di dada dan pelipisnya dengan tepat.
__ADS_1
Buagh! Bukk!
Dan pria itu kembali telempar dan jatuh akibat hantaman Ken yang keras. pada saat dia terjatuh dan berguling, Ken kembali mendaratkan tendangannya sehingga pria itu pun berhenti bergerak. Dia Pingsan.
Ken tanpa peduli pada korbannya, ia melenggang pergi. Puas. Begitupula dengan kedua anak buah Ken, mereka berdua juga berhasil mengakhiri perkelahian tanpa sedikit pun luka.
🌹
🌹
Ken memasuki sebuah klub malam yang berada di pusat kota. Iya mendapatkan telepon dari teman lamanya dan mereka mengajaknya berkumpul di sana.
Memang sudah lama Ken tidak berkumpul dengan teman-teman lamanya, bola ini masih terlalu siang untuk pulang.
Beberapa pasang mata terus mengikuti kemana sang adonis melangkah. Tatapan liar penuh nafsu, mengiringi setiap jejak langkahnya. Tapi Ken tidak peduli.
Secantik apapun mereka, tapi dimatanya mereka tadaklah lebih dari sekumpulan sampah yang tidak berguna.
"KEN!!"
Seorang pria bertubuh jangkung terpihat melambaikan tangannya sambil menyerahkan nama 'Ken' kemudian Ken menoleh dan mendapati keberadaan 3 orang yang tak asing sama sekali.
"Tidak masalah sama juga baru tiba. Pesan apapun yang kau inginkan, hari ini Mister dolar kita sedang bahagia dan ingin mentraktir kita semua." Ucap si Jangkung sambil menatap pria disampingnya, misterius.
Mendengar julukannya disebut pria itu pun lantas menoleh."Tunggu!! Memangnya kapan aku pernah mengatakan akan mentraktir kalian semua?" protes pria itu sambil menatap pria Jangkung disampingnya.
Chan, nama pria jangkung itu. Dia mendekati si Mr.Dolar lalu merangkul pundaknya. "Ayolah, jangan pelit-pelit jadi orang. Apa kau lupa, dengan film yang kita tonton semalam. Orang yang pelit maka kuburannya sempit."
"Oh ya, tadi pagi aku melihat berita di TV. Orang pelit mati ketabrak kereta!!" sahut Alex menambahkan. "Dan ada pula orang kaya raya Jatuh Miskin karena terlalu pelit." Imbuhnya.
"Apa-apaan kalian berdua ini memangnya siapa yang pelit, tidak ada kamusnya dalam hidupku, Jika seorang Mr.Dollar itu pelit. Baiklah kalian boleh memesan minuman apapun, biar aku yang membayarnya!!"
"Nah ini yang baru namanya Mr.Dolar." Chan merangkul bahu Suho sambil tersenyum penuh kemenangan.
Dan sementara itu...
Ken melihat obrolan konyol ketiga sahabatnya ini hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Saat berkumpul seperti ini, ada saja hal konyol yang selalu menjadi topik utama pembicaraan.
Ken memeriksa ponselnya. Dan ada beberapa panggilan tak terjawab dari Luna, juga dua pesan masuk yang belum dia baca. Setelah membaca pesan itu, kemudian Ken bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Malam ini biar aku saja yang mentraktir. Selamat bersenang-senang. Aku pergi dulu." Kemudian dia pergi begitu saja.
🌹
🌹
Ken turun dari mobilnya dan menghampiri Luna yang sedang mondar-mandir di teras depan. Dan Luna yang menyadari kedatangannya segera menghampiri Ken dan memeluknya.
"Huhuhu... Ken, aku takut." Luna terisak dalam pelukan Ken.
Pria itu memicingkan mata kirinya. "Takut, apa yang kau takutkan? Memangnya ada apa, Luna? Dan kenapa kau berdiri di sini?" Tanya Ken kebingungan.
Luna mengangkat wajahnya yang penuh air mata untuk menatap wajah Ken. "Huhuhu, aku takut Ken. A..Aku mendengar suara aneh di kamarku. Ba..Bagaimana kalau itu suara hantu yang sedang menggaruk jendela?"
Lagi-lagi mata Ken memicingkan matanya.'Hantu, rasanya mustahil. Mana mungkin ada hantu di mansion mewahnya ini?' ujar Ken membatin. Ken memeluk Luna, meyakinkan jika tidak ada apa-apa dan mungkin Luna hanya salah dengar saja.
"Jangan takut, sebaiknya kita lihat sama-sama." Ucap Ken yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna.
Ken dan Luna berjalan beriringan menuju kamar mending orang tua Ken yang sejak beberapa hari lalu di tempati oleh Luna. Luna buru-buru bersembunyi dibelakang Ken ketika mereka masuk ke dalam.
Luna mencengkram pakaian Ken, tanpa peduli jika kain berharga mahal itu akan kusut karena ulahnya.
Kretek...
Kretek...
"KYYYAAA!!!" Luna langsung melompat ke atas punggung Ken setelah mendengar suara yang membuatnya sangat ketakutan itu."Huhuhu, i..itu pasti hantu. A...Aku yakin itu adalah hantu penghuni mansion ini."
Ken melirik Luna yang ada di atas punggungnya dan menyeringai. "Aku rasa juga begitu. Sebaiknya mulai malam ini kau tidur di kamarku saja. Tapi jika kau tidak setuju juga tidak apa-apa, mungkin kau ingin hantu penghuni kamar ini terus mengganggumu!!" Ujar Ken dengan seringai yang sama.
"Tidak, tidak, tidak... A..Aku tidak mau tetap di kamar ini. Ba..Baiklah aku akan tidur di kamarmu saja."
"Pilihan yang tepat."
Sepertinya Ken ingin memanfaatkan ketakutan Luna untuk membuat gadis itu lebih dekat dengannya. Ken tau betul jika tidak ada hantu di kamar ini. Ia yakin jika itu adalah suara ranting pohon yang bersentuhan dengan kaca jendela.
-
-
__ADS_1
Bersambung.