
Kevin menghentikan mobilnya di tepi jalan yang di kiri kanannya ditumbuhi hamparan kuning bunga Canola. Bunga yang muncul hanya saat musim semi saja.
Setelah musim dingin dan tanpa warna, datangnya musim semi adalah pemandangan yang menyenangkan. Bunga-bunga yang cerah dan penuh warna di seluruh negeri menciptakan pemandangan yang menakjubkan ke mana pun kaki melangkah.
Aroma bunga yang harum menguar ke udara baik di jantung kota maupun di desa-desa terpencil, menjadikan musim semi waktu terbaik untuk menikmati masa perkembangan dan pembaruan yang ajaib ini.
Pemuda itu turun dari mobilnya tanpa membangunkan Viona. Melihat gadis itu tidur begitu lelap membuatnya merasa tidak tega. Kevin mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah pematik dari saku celananya. Mengeluarkan satu lalu menyulutnya.
Kepulan asap putih keluar dari sela-sela bibirnya ketika pemuda itu menghembuskan napasnya. Kevin menutup matanya dan mengambil napas dalam-dalam. Suasana yang begitu sejuk dan menenangkan.
"Hah, bukankah ini pulau Jeju?"
Kevin menoleh kebelakang setelah mendengar suara yang sangat familiar itu. Terlihat Viona yang sedang menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah guna memastikan dimana dirinya berada.
Kemudian Viona keluar dari mobil dan menghampiri Kevin. Dia tampak seperti orang linglung. "Apa kita sedang di Jeju?" Sekali lagi Viona memastikan. Dan Kevin hanya menganggukkan kepala, menjawab kebingungan gadis itu.
Mata gadis itu langsung berbinar seketika. Dia terlihat sangat gembira. "Huaa... Kulkas tiga pintu, terimakasih sudah membawaku kemari." Viona berseru sambil memeluk dan mencium pipi Kevin, membuat pemuda itu langsung membeku.
Viona menatap hamparan kuning cantik itu dengan mata berbinar-binar. Sudah sejak lama dia ingin sekali pergi ke pulau ini ketika musim semi tiba. Tapi dia selalu tidak memiliki waktu, ditambah lagi kakeknya yang tak pernah mengijinkan dia untuk pergi sendirian.
Namun hari ini. Keinginannya itu terwujud. Kevin membawanya ke tempat yang sudah sejak lama ingin dia kunjungi ini. Hamparan bunga kuning Canola selalu menghiasi indahnya musim semi di Pulau Jeju.
Di Jeju, musim semi datang lebih awal dibanding dengan wilayah Korea lainnya. Alasan itulah yang membuat Viona ingin sekali datang ke pulau cantik ini. Dan setelah sekian lama, akhirnya kesempatan itu datang juga.
"Ayo," Viona menggenggam pergelangan tangan Kevin dan membawanya ketengah-tengah ladang canola. Mereka berjalan diantara indahnya bunga cantik yang hanya datang di musim semi tersebut.
Kevin menatap datar pergelangan tangannya yang digenggam oleh Viona. Tak ada niat di hati kecilnya untuk melepaskan genggaman gadis itu. Meskipun sebenarnya dia merasa sedikit tidak nyaman. Mungkin karena Kevin jarang berinteraksi dengan perempuan sejak ia putus dengan mantan kekasihnya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, mereka pun duduk di antara bunga-bunga tersebut. Di dunia ini Viona sangat menyukai dua hal. Yakni alam bebas dan hidup bebas.
Seperti yang ia lakukan sekarang, duduk di antara bunga Canola menikmati udara musim semi yang hangat.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menginjakkan kembali kakiku di pulau ini, dulu saat Ibu dan ayah masih ada. Mereka sering membawaku ke tempat ini. Karena mereka tau jika aku sangat menyukai bunga Canola."
"Tapi setelah mereka pergi, aku tidak pernah datang lagi ke tempat ini. Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan jika orang yang paling aku sayangi sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Setiap kali menutup mata, aku selalu berharap semoga yang menimpaku hari itu hanyalah mimpi buruk disiang hari. Tapi kenyataan menamparku dengan keras, jika semua itu bukanlah mimpi." Viona menutup matanya. Setitik kristal bening mengalir dari pelupuk matanya.
Kevin tak memberikan respon apa-apa. Dia hanya diam sambil menatap gadis disampingnya. Dia melihat sisi lain dari seorang Jung Viona, ternyata dibalik sifatnya yang ceria dan bar-bar, ternyata dia menyimpan luka yang begitu dalam.
Viona menyeka air matanya. "Maaf, aku malah curhat padamu. Aku ingin berjalan-jalan sebentar, kau bisa menungguku disini." Ucap Viona seraya bangkit dari duduknya.
Baru saja ia hendak melangkah pergi, namun tarikan pada lengannya membuat tubuh Viona terputar ke depan.
Entah apa yang mendorongnya, Viona mengangkat sebelah tangannya dan memegang lengan Kevin, kedua matanya tertutup rapat. Viona tidak bisa menolak apalagi menghentikan ciuman tersebut.
Dan Kevin baru melepaskan ciumannya beberapa saat kemudian. "A..Aku akan jalan-jalan sekarang. Kau disini saja." Viona buru-buru pergi dan meninggalkan Kevin begitu saja. Dia benar-benar gugup, dan Viona sungguh merutuki apa yang baru saja terjadi.
Kevin menyeringai tipis. Dia memegangi bibirnya yang masih terasa basah. Ternyata bibir Viona manis juga, dan entah sejak kapan bibir itu sudah menjadi candu untuknya.
-
-
"Pak guru, Pak guru. Telor apa yang sangar?"
__ADS_1
Cello menghentikan gerakan tangannya saat salah satu muridnya memberikan tebakan teka-teki. Ini adalah akhir pekan, seharusnya anak-anak libur. Tapi mereka menolak libur dan memilih belajar dengan pak guru ganteng namun menggemaskan.
Guru tampan itu tampak berpikir. Memangnya telor apa yang sangar? Setahu dia tidak ada telor yang sangar. Tapi mungkin bisa dicoba jawaban yang dia miliki ini. "Telor mata sapi, kan bentuknya seperti mata sapi."
"Salah, yang benar adalah... Telor asin karena ada tatonya. Hahaha..."
Cello menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sungguh tidak kepikiran dengan jawaban aneh bin nyeleneh tersebut. "Pak guru, Pak guru. Burung apa yang sering masuk WC?"
"Burung yang sering masuk WC? Burung apa ya? Mungkin kelelawar."
"Salah, tapi burung Pipit. Hahaha."
"Pak guru, Pak guru. Buah apa yang cocok buat para jomblo?"
Cello berpikir keras kali ini. Masa iya dia kalah sama anak-anak. Tapi buah apa yang cocok buat para jomblo? Rasanya tidak ada. Cello menggeleng, dia tidak tau jawabannya.
"BUAHAHAHA..."
Satu kelas tertawa keras. Sedangkan Cello langsung beringsut dan bersembunyi di bawah meja. Seluruh kelas menertawakannya, karena mereka tau jika sampai sekarang dia belum memiliki pasangan. Bukan karena Cello tidak mau, tapi belum menemukan jodoh yang tepat saja.
Lagi-lagi anak didiknya membuat dirinya terkena mental. Dan ini bukan pertama kalinya mereka melakukannya. "Baiklah anak-anak. Pelajaran kita akhiri sampai disini ya, bubar." Cello pun buru-buru meninggalkan kelas. Dia tidak mau sampai di kerjai anak-anak lagi. Mereka masih kecil tapi sangat mengerikan.
"Dasar anak jaman sekarang. Pinter banget bikin gurunya kena mental. Benar-benar generasi micin!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.