
"Sial, apa bajingan ini sengaja melakukannya?! Ken Zhao, kenapa kau tidak menghilang saja dari muka bumi ini. Ya Tuhan, Imanku mulai goyah!! Luna, bumi memanggilmu!!"
Batin Luna terus menjerit. Bagaimana bisa dia mempertahankan pertahannya jika Ken selalu saja melalukan sesuatu yang membuatnya mulai goyah. Antara siap tidak siap, Luna masih merasa ragu untuk menyerahkan semuanya pada Ken.
Dewi batinnya menjerit. Tiba-tiba ada dua peri kecil yang muncul ditelinga kanan dan kiri Luna. Yang satu peri putih sedangkan satu lagi hitam. Dan sebenarnya mereka berdua adalah suara hatinya sendiri.
"Luna, jangan... Kau masih kuliah dan masa depanmu masih panjang, jangan sampai kau tergoda dan jatuh ke dalam pesonanya!!"
"Jangan dengarkan dia, lihatlah betapa tampan dan menggodanya suamimu itu. Sudahlah, sebaiknya segera ganti pakaianmu ini dengan baju h@r@m yang kau beli tadi. Bukankah kau membelinya untuk suamimu juga?!"
"Luna, jangan!! Kau tidak boleh goyah, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari karena telah memberikan segalanya pada pria menyebalkan itu!!"
"Jangan banyak berpikir. Dia suamimu, jika kau terus menahannya, dia bisa berpaling darimu dan kembali pada istri lamanya!! Apa kau siap untuk kehilangannya?!"
Luna menggigit bibir bawahnya. Dua peri itu telah menghilang. Lalu pandangannya kembali bergulir pada Ken yang sedari tadi terus memperhatikannya. Ragu-ragu Luna menghampiri suami kontraknya itu. "Ken, apa kau mau berjanji satu hal padaku. Jika aku memberikan segalanya padamu hari ini?" Luna menatap sepasang manik hitam Ken dengan serius.
"Janji apa yang kau minta dariku?" Jari-jari besar Ken membelai pipi Luna sambil sesekali mencium rambut panjangnya.
Sekali lagi Luna menggigit bibir bawahnya. Dia menatap Ken ragu-ragu. "Aku~" gadis itu menggantung kalimatnya. Kemudian dia mengambil lingerie yang ada di atas tempat tidur dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Entah apa yang Luna pikirkan saat ini. Mungkin saja dia sudah gila, tapi dia ingin Ken menjadi miliknya seutuhnya. Dia tidak rela jika pria itu sampai kembali ke mantan istrinya.
-
-
Selang beberapa saat. Luna keluar dari kamar mandi dengan balutan lingerie super sexy itu. Baju h@r*m yang dia pakai saat ini begitu menonjolkan bentuk tubuhnya, ditambah lagi model transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Kecuali bagian p@yud*ranya.
Ken terpaku ketika melihat Luna keluar dari kamar mandi hanya berbalut lingerie super tipis itu. Membuat l!b!donya naik dengan sesaat. Dia merasakan sesak dibagian bawah tubuhnya. Sial! Gadis ini benar-benar membuatnya gila luar dan dalam.
Ken yang sudah tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi langsung menerjang Luna dan *****@* kasar bibirnya. Bibir Ken terus saja memagut bibir tipis Luna atas dan bawah bergantian. Membuat gadis itu terkejut dan nyaris memekik kencang.
Masih dengan saling bertautan bibir. Ken mendorong Luna menuju tempat tidur lalu menindih tubuh gadis itu. Menempatkan Luna di bawah kungkungan tubuh besarnya. Meskipun sedikit terancam, namun Luna juga tidak bisa menolak ciuman tersebut. Bahkan kedua lengannya kini memeluk leher Ken.
Dengan satu kali tarikan, Ken berhasil melepaskan lingerie itu dari tubuh Luna."Aahh, Ken apa yang kau lakukan?!" Dan membuat si empunya menjerit histeris. Refleks dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya yang hanya tertutup br* hitamnya saja.
"Apa yang mau kau tutupi dariku, hm?"
__ADS_1
"Ja..Jangan dilihat, milikku sangat kecil. La..Lakukan saja tanpa melepas pengaman ini."
Ken menyingkirkan tangan Luna dari atas bukit kembarnya lalu melepas pengaman itu hingga terpampang jelas sepasang bukit kembar yang seketika membuat diri Ken yang lain berdiri semakin tegak.
"Ken, apa yang kau lakukan?! I...Ini terlalu kecil!!" Luna menundukkan wajahnya.
"Siapa bilang? Lihatlah, mereka sangat pas di dalam genggamanku." Ucapnya dengan seringai yang sama. "Indah." Ken berbisik di atas salah satu puncak p@yud*r@ Luna, napasnya yang hangat menyapa permukaan p@yud*r@nya dan itu membuat put!ngnya mengeras nyaris terasa nyeri.
"La..Lalu apakah adil jika hanya aku saja yang emm...begitulah." Kalimat Luna tertahan di tenggorokannya.
Ken terkekeh, tau apa yang Luna inginkan. Dia pun melepaskan kemeja dan celananya. 'Gluk' susah payah Luna menelan Salivanya ketika melihat benda asing itu terpampang jelas di depan matanya. Dia bersyukur karena milik Ken tidak semenyeramkan yang dia bayangkan tadi.
Mulutnya kembali pada mulut Luna, menc*mbunya seperti tadi. Tangannya menelusuri tubuhnya, membelai mulai dari pipi, tulang sel@ngk@, p@yud*ra, berlama-lama di bagian perut Luna hingga akhirnya ia sedikit terkejut dan perutnya mengejang seketika saat tangannya menyelusup ke dalam dan memasuki cel@n* dal*mnya.
Yang Luna tahu sudah mulai basah sejak pertama kali Ken mencumbunya. Ken mengerang ketika mulutnya terlepas dari mulut Luna, dan jarinya menemukan organ kenikmatannya..
"Oh Tuhan Baby, kau begitu basah dan panas di bawah sini. Dan aku yakin kau akan sangat siap beberapa saat lagi. " Ken mengeram dalam kalimatnya. Itu terdengar liar dan entah kenapa Luna menyukainya.
Ken pun tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Ia menempatkan ujung sosis beruratnya di depan liang kenikmatan Luna. Ia menumpukan kedua tangannya di lutut gadis itu saat mencoba mendorong sosis beruratnya menuju ke dalamknya. Luna memejamkan matanya dan meringis, seketika itu juga gerakan Ke terhenti.
Luna menatap Ken tak percaya. "Lalu menurutmu bagaimana? Tentu saja aku masih perawan, dan kaulah yang mengambilnya barusan!!" Luna memanyunkan bibirnya.
Ken mencium bibir Luna singkat. "Maaf, Sayang. Bukan maksudku untuk membuatmu tersinggung, hanya saja aku terlalu bahagia karena aku yang pertama." Ucap Ken dengan senyum lembut tersungging di bibirnya.
Ken memposisikan ujung pisangnya di pintu masuk Luna. Ketika ujungnya telah berada dipusat nya, Ia kembali membawa mulutnya ke mulut Luna, menciumknya dengan penuh gairah sementara di bawah sana pisangnya mencoba mendorong masuk sedikit demi sedikit.
Ken mengeluarkannya kembali beberapa inci sebelum akhirnya mendorong kembali seluruh batangnya ke dalam diri Luna dan ia menjerit di dalam mulut Ken ketika ia rasakan panas membakar miliknya. Oh tuhan ini sakit sekaligus nikmat.
Ken menghentikan gerakannya ketika seluruh pisangnya mengisi diri Luna. Ia mengecupi bibir ranum itu, saat Luna menyesuaikan keberadaan dirinya didalam diriku.
"Are you okay?" Ken menatapku lembut.
"Ya." Luna sedikit meringis. "Ini terasa hebat." Lalu ia menambahkan.
Ken menyeringai dan kembali *****@* bibir Luna sementara di bawah sana, Ia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Luna mulai kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan saat ini, Luna menyukai sensasi di mana diri Ken yang lain menghujam ke dalamnya.
"Aaahhh... Aaahhh... Aaahhh...!"
__ADS_1
Des*han dan lengkungan berkali-kali keluar dari sela-sela bibir ranumnya ketika pria bermarga Zhao itu menghujamkan pisangnya ke dalam dirinya semakin keras. Bibir mereka yang membengkak terus bergulat panas dan saling melahap.
Bunyi derit ranjang yang menggema memenuhi seisi ruangan membuat sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta itu tidak lagi memperdulikan sekitar. Baik kondisi ranjang yang tidak lagi karuan, pendingin ruangan yang tidak lagi berfungsi dengan baik atau bahkan dering ponsel yang sejak tadi berbunyi pun tidak mereka hiraukan.
Tubuh wanita itu 'Luna' tersentak-sentak mana kala suaminya menusuknya semakin dalam hingga menyentuh bibir r@h!mnya. Malam yang terasa dingin bagi orang lain justru terasa sangat panas bagi mereka berdua.
Luna mengangkat sedikit kepalanya dan ia berusaha mencari pegangan lain untuk dirinya bertahan selain leher dan rambut sang suami yang saat ini tengah mencumbunya.
Remasan pada sprei semakin menguat seiring tusukan Ken yang semakin dalam , peluh terlihat membahasi sekujur tubuh polos mereka berdua.
"Aaahhh... Aaahh..!"
D*sah@n erot!s yang keluar dari sela-sela bibir ranum Luna terdengar bagaikan sebuah melodi indah ditelinga Ken. Ia begitu menikmati setiap d*sah@n yang keluar dari bibir Istrinya.
Ken terus menghujamkan sosis beruratnya ke dalam Miss Luna tanpa melepaskan tautan bibirnya. Des@h@n kembali terdengar disela-sela ciuman mereka, dan mereka tidak akan berhenti sebelum mencapai puncaknya karena yang terpenting dari semua hal yang mereka lakukan malam ini adalah pelepasan dan... Klim@ks.
"Aaahhh."
Kedua mata Luna yang semula tertutup kembali terbuka ketika mulut Ken beralih meng*lum put!ngnya dengan posesif. Lidahnya bermain-main di atas put!ngnya yang mengeras dengan gerakkan memutar.
Tak ingin dianggurkan, tangan Ken yang satu meremas p@yud*ra kiri Luna sambil memainkan put!ngnya. Tidak hanya dimanjakan, tapi malam ini Ken benar-benar memuaskannya, tidak hanya Luna yang terpuaskan tapi pria itu juga. Malam ini mereka berdua sama-sama saling memuaskan.
Setelah hampir dua jam sejak pertama mereka memulainya, akhirnya percintaan panas mereka mencapai puncaknya. Tubuh Ken ambruk seketika setelah pelepasan, bibirnya kembali pada bibir Luna yang membengkak dan melum@tnya dengan posesif namun penuh kelembutan setelah percintaan panas dan panjang mereka.
Dengan kondisi t*buh masih menyatu, Ken meremas lembut jari jemari Luna yang masih belum sepenuhnya sadar dengan kondisinya.
Sampai dia merasakan sentuhan lembut pada pipinya, Luna benar-benar tersadar terlebih lagi dengan segala kelembutan yang pria itu miliki.
Kedua matanya yang terlihat sayu terbuka sepenuhnya, iris hazel nya terkunci pada sepasang mutiara hitam milik Ken yang menatapnya dengan penuh kelembutan, dan sekali lagi bibir kiss able tersebut menciumnya dan ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman-ciuman mereka sebelumnya.
"Terimakasih telah memberikan segalanya untukku, Sayang. Aku mencintaimu, Luna William. Sangat mencintaimu!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1