PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Dasar Sinting!!


__ADS_3

Bukan Viona namanya jika tidak bisa membuat seorang Kevin Zhao emosi tingkat tinggi. Kali ini yang menjadi biang masalahnya adalah makan siang. Viona tak mau membagi sedikit pun makanan yang ada dihadapannya, padahal itu adalah makan siang milik Kevin dan Viona hanya diajak makan siang bersamanya


Alasan Viona adalah, dia yang membawa makanan itu ke atap gedung sambil menaiki tangga satu persatu. Dia yang lelah kenapa Kevin yang menikmatinya. Bagi Viona itu tidak adil.


"Kevin Zhao, jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku merinding. Dan aku sarankan padamu, jadi orang itu jangan terlalu dingin, orang lain bisa membeku saat berada di dekatmu. Dan satu lagi, jangan terlalu pelit apalagi soal makanan, karena orang pelit itu kuburannya sempit."


"Lalu apa bedanya dengan orang yang rakus!!"


"Jangan salah, porsi makan wanita memang lebih banyak dari pria. Karena bagaimana pun pekerjaan wanita itu lebih banyak dari pria, dan dia lebih sengsara. Buktinya saja banyak wanita yang habis bekerja dan kelelahan, tapi malam harinya masih harus terlentang di atas ranjang."


"Dasar sinting!!"


Kemudian Kevin bangkit dari duduknya dan meninggalkan Viona begitu saja. Pemuda itu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya lalu mengambilnya satu dan menyulutnya. Sebelah lengannya bertumpuk pada besi pembatas gedung. Matanya menatap kota yang masih tampak asing baginya.


Kevin menghiraukan meskipun dia tau jika saat ini ada sepasang mata yang sedang memandangnya. Dan Kevin hanya melirik sekilas dari ekor matanya ketika suara sepatu menggema di telinganya.


"Makanlah," Kevin hanya menatap datar sebuah kotak nasi yang Viona sodorkan padanya. Kotak nasi itu berbeda dari yang dia bawah dari rumahnya. "Ini bekal yang aku bawa dari rumah. Jangan khawatir, tidak ada racunnya di dalam makanan ini yang akan membuatmu mati muda."


Kevin mendecih. Dia membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah lalu mengambil kotak makanan itu dari tangan Viona.


Lama-lama Viona merasa kasian juga pada pemuda bermarga Zhao tersebut. Dari tadi terus saja dia kerjai, mulai dari kopi rasa garam, sampai makan siangnya dia ambil semua. Sekejam-kejamnya Viona, tapi dia masih tetap memiliki hati nurani dan rasa kasihan.


"Ini minum juga kopinya, tenang saja, ini normal rasanya."


"Aku akan menggantungmu hidup-hidup jika rasanya tidak beres!!" Ancam Kevin bersungguh-sungguh.


Glukk...

__ADS_1


Viona menelan salivanya dengan sedikit bersusah payah ketika melihat tatapan Kevin yang berubah tajam dan mengintimidasi. Ditambah auranya yang suram dan berbahaya. Membuat Viona merasa seperti sedang uji nyali. Hingga Viona berpikir, jika Kevin adalah reinkarnasi Raja Iblis.


Ponsel Viona tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk. Gadis itu mendecih sebal lalu menolak panggilan tersebut. "Kadal buntung itu, masih saja terus menggangguku, benar-benar merepotkan!!" Gerutu Viona.


Lalu pandangan Viona bergulir pada Kevin yang sedang menyantap makan siangnya dengan tenang. Pemuda itu terlihat acuh dan tidak peduli, meskipun sebenarnya dia mendengar jelas apa yang Viona katakan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau masih lapar?" Viona menggeleng. "Lantas,"


"Aku perlu bantuan mu, berpura-puralah menjadi kekasihku. Jika kau bersedia, aku akan melakukan apapun untukmu, bagaimana?"


Kevin menjadi tempat kotak makan siangnya lalu menyeringai lebar. "Kedengarannya menarik, baik aku akan membantumu. Aku sudah selesai, bereskan kotak makannya." Ia beranjak dari hadapan Viona dan pergi begitu saja.


Viona merasakan firasat yang tidak baik saat melihat seringai dibibir pemuda itu. Entah benar atau salah dia meminta bantuan pada pemuda bermarga Zhao tersebut. Semoga saja Kevin tidak merencanakan sesuatu yang buruk untuknya.


.


.


Lalu pandangannya bergulir pada Kevin yang masih sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen yang entah kapan akan selesainya.


Gadis itu menghela napas untuk sekian kalinya. Bosan, dia merasa bosan, sangat-sangat bosan malah. Dan rasanya Viona ingin sekali kabur jika saja dia tidak terikat dengan ucapannya sendiri.


Seperti apapun kepribadian Viona. Tapi dia adalah tipe gadis yang tidak pernah ingkar akan apa yang telah keluar dari mulutnya, Viona selalu memegang teguh prinsipnya itu. Karena jika bukan dimulai dari dirinya sendiri, lalu bagaimana mungkin orang lain akan mempercayai dirinya?!


"Kapan kita pulang?" Ucap Viona setengah merengek.


Kevin mengangkat kepalanya dan menatap datar pada gadis itu. "Nanti, setelah pekerjaanku selesai." Jawabnya datar.

__ADS_1


"Kau gila?! Menunggu sampai pekerjaanmu selesai, bisa-bisa aku pulang tahun depan!! Aku sangat lelah dan tubuhku sakit semua, bisakah aku pulang sekarang?!" Viona menatap pemuda itu penuh harap.


"Tidak!! Jika kau lelah dan ingin istirahat, ada sebuah ruangan dibalik rak buku itu. Kau bisa beristirahat di sana." Ucap Kevin sambil menunjuk rak buku disamping kanannya.


Viona lantas berdiri. "Ada ruangan di balik rak buku itu? Apa kau yakin? Apa itu semacam ruang rahasia?! Aku jadi penasaran," kemudian Viona mendorong rak tersebut. Sungguh ajaib, Viona menemukan ruangan tersembunyi di balik rak buku.


Layaknya sebuah kamar. Ruangan tersebut juga memiliki satu tempat tidur, sebuah TV, satu kamar mandi, lemari pendingin dan walk in closet mini untuk menyimpan kemeja dan jas.


"Astaga, apa dia berencana pindah kemari. Sampai-sampai menyiapkan kamar dan walk in closet mini?! Benar-benar workaholic sejati," Viona berdecak sambil menggelengkan kepala.


Tapi tak bisa Viona pungkiri, bila dari ruangan tempat ia berada saat ini, dia bis melihat pemandangan kota yang sangat epik. Dari ketinggian, dia bisa melihat hampir keseluruhan kota Seoul. Senja terlihat sangat indah jika dilihat dari ketinggian.


Tiba-tiba Viona teringat pada kakeknya. Pasti kakek Hilman akan sangat cemas jika dia tidak pulang sebelum jam makan siang. Tak ingin membuat kakeknya cemas, kemudian Viona mengetik sebuah pesan singkat lalu ia kirim pada sang kakek.


Dalam pesannya itu. Viona mengatakan jika dia tidak bisa pulang tepat waktu. Karena Viona sendiri tidak tau, sampai kapan dia akan terjebak di gedung ini bersama kulkas tiga pintu seperti Kevin.


"Aku pikir kau tidur. Makan malam untukmu, aku tidak tau makanan apa yang kau sukai. Jadi aku asal membeli."


Viona mengangkat bahunya. "Aku bukan tipe pemilih makanan. Selama itu tidak beracun, makanan apapun pasti aku makan." Ucapnya lalu mengambil makanan itu dari atas meja. Kebetulan dia memang sangat lapar.


"Aku keluar dulu," Kevin menutup kembali pintu ruangan itu dan kembali ke meja kerjanya.


Jika tidak dikerjakan sesegera mungkin, pekerjaannya mungkin baru selesai esok hari. Ini adalah hari pertamanya bekerja, tapi dia langsung disuguhi pekerjaan sebanyak itu. Mengeluh juga percuma, karena pekerjaannya tidak akan selesai jika dia hanya mengeluh saja.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2