
"Batalkan pertunangan itu atau aku akan membawa Viona pergi ke luar negeri, selamanya dan tidak kembali lagi supaya Kakek tidak pernah bertemu lagi dengannya!!"
Kakek Hilman buru-buru menjauhkan ponsel itu dari telinganya setelah mendengar ancaman dari cucu pertamanya, Lucas. Sepertinya Viona sudah menceritakan perihal pertunangan itu pada kakak tertuanya.
"Lucas, jangan!! Kalau kau membawa Viona pergi lalu bagaimana dengan Kakek? Kau tau sendiri bukan jika sejak orang tua kalian meninggal, Viona tidak pernah jauh dari Kakek." Seketika Kakek Hilman menjadi ketakutan.
"Putuskan hari ini juga. Jika aku masih mendengar Viona bersedih apalagi menangis karena pertunangan itu, aku akan langsung terbang ke Korea untuk menjemputnya!!"
"Baik, baik, baik. Kakek akan segera membatalkan pertunangan itu. Dari pada harus kehilangan cucu kesayangan lebih baik menanggung malu."
"Bagus sekali, ini baru Kakek yang bijak. Ya sudah, aku tutup dulu. Aku masih ada meeting penting setelah ini." Lucas memutus sambungan telfonnya begitu saja.
Sementara itu...
Tanpa Kakek Hilman sadari. Dua orang yang berdiri di depan pintu kamarnya sedang bertos ria. Wajah Viona tampak begitu sumringah, dia tau jika kakak tertuanya memang paling bisa diandalkan dalam segala hal termasuk mencari jalan keluar dari masalah yang dialaminya saat ini.
"Ayo cepat pergi. Kakek sudah mau keluar." Viona menarik Vincent menjauh dari kamar Kakek Hilman.
Rupanya di ruang tamu sudah ada yang menunggu Kakek Hilman. Siapa lagi jika bukan orang tua calon tunangan Viona. Nicholas datang bersama kedua orang tuanya serta kakak-kakaknya.
Mereka datang untuk membahas mengenai rencana pertunangan Viona dan putranya.
Penasaran apa saja yang mereka bahas,Viona dan Vincent segera bergabung bersama kakek mereka
Melihat kedatangan Viona membuat Nicholas tampak sangat kegirangan. Dia berseru dan memanggil gadis itu. "Vio, kemarilah dan duduk di sebelahku." Dia melambaikan tangannya pada Viona. Tapi segera ditolak oleh gadis itu.
"Ogah!!"
Nicholas mempoutkan bibirnya. Sedangkan Nyonya Jhonson mendelik tajam pada calon menantunya tersebut. "Tidak sopan!! Viona, Nico adalah calon suamimu, seharusnya kau bisa bersikap lebih sopan padanya."
Viona hanya memutar matanya jengah. Dia muak dengan sikap dan perilaku keluarga yang sok bangsawan satu ini. Belum juga apa-apa sudah banyak mengatur, dan Viona sangat benci pada aturan semacam itu.
"Baru juga calon sudah banyak mengatur, cih!!"
"Jaga sikapmu, apa begini cara keluarga terhormat mendidik anak gadisnya?!" Nyonya Jhonson semakin tersulut emosi oleh sikap dan perilaku Viona yang tak memiliki tata Krama tersebut.
Tuan Jhonson segera menghentikan istrinya. Karena jika tidak dihentikan pasti akan terus berlanjut ocehannya. Ia pun segera memberitahu maksud kedatangannya. Tuan Johnson mengeluarkan sebuah nota lalu memberikan pada Kakek Hilman.
"Apa ini?" Viona menatap keluarga itu penuh tanya.
"Itu adalah jumlah tagihan yang harus kalian bayarkan. Kami sudah mempersiapkan semuanya, ribuan tamu undangan, gaun dan jas super mewah. Pakaian keluarga yang super bagus dan mahal, jamuan mewah, hotel berbintang dan masih banyak lagi. Dan total keseluruhannya 1 milyar won." Jelas Nyonya Jhonson.
__ADS_1
Viona melempar nota itu pada perempuan itu dengan marah. "Apa-apaan ini?! Kalian yang mempersiapkannya lalu kenapa malah kami yang harus mengeluarkan biaya, sebagai keluarga calon mempelai pria, seharunya kalianlah yang mempersiapkannya bukan kami. Keluarga Jung menolak untuk mengeluarkan uang sepeser pun!!" Tegas Viona yang disusul anggukan oleh Vincent.
"Loh, loh, loh. Tidak bisa begitu dong. Kalian ini bagaimana, kami sudah berbaik hati membantu mempersiapkan segalanya. Ini adalah adat luar negeri, jadi calon mempelai wanitalah yang harus mengurus semuanya."
"Tidak!! Lagipula siapa yang setuju bertunangan apalagi menikah dengan anak situ. Sejak awal aku sudah tidak setuju, aku mengatakan iya semata-mata karena Kakek saja. Dan asal kalian semua tau saja, saat ini aku sedang mengandung anak pria lain. Dan aku cuma ingin dia yang menikah denganku,"
Mata Nyonya Jhonson sontak membelalak setelah mendengar pengakuan Viona. "Apa kau bilang? Kau sedang hamil dan anakmu dengan pria lain?! Benar-benar tidak bisa dipercaya. Katanya gadis baik-baik, tapi ternyata sudah rusak. Ayo kita pulang, gadis murahan seperti dia tidak cocok dengan keluarga bangsawan kita!!" Seru Nyonya Jhonson.
"Lalu bagaimana dengan semua tagihan itu, Ma?"
"Tidak usah dipikirkan, Mama belum memesan apapun apalagi mencetak 1000 undangan. Tadi Mama hanya ingin cari keuntungan saja. Tapi siapa yang menduga kita malah mengetahui sebuah fakta mengejutkan. Nico, ayo pulang. Mami akan mencarikan jodoh yang lebih cantik dan kaya dari dia."
Berhasil!! Mereka berhasil mengusir keluarga Johnson dan membatalkan rencana pertunangan itu. Dan karena pengakuannya itu, Kimi Viona disidang oleh kakek dan kakaknya. Dan Viona pun langsung memberikan penjelasan jika sebenarnya dia tidak hamil.
Semua itu Viona lakukan supaya mereka langsung membatalkan rencana perjodohan tersebut. Dan Kakek Hilman merasa kecewa, dia pikir Viona benar-benar hamil. Padahal dia sudah ingin sekali menimang cicit.
Dan Viona langsung pergi setelah mendapatkan pesan dari Marissa. Gadis itu mengirim pesan singkat dan mengajaknya makan siang bersama, dan Viona tidak bisa menolaknya. Karena sudah lama juga ia tidak bertemu seniornya itu.
-
-
Kabar tentang Kevin yang mengalami insiden hingga nyaris merenggut nyawanya telah sampai ke telinga Viona. Marissa telah menceritakan apa yang menimpa Kevin pada Viona.
"Saat ini dia masih dirawat di rumah sakit. Kevin mengalami luka bakar ringan pada punggungnya. Wajahnya terluka dan mungkin akan meninggalkan bekas, bisa dibilang dia sudah tidak setampan dulu lagi,"
Dan entah apa maksudnya. Marissa mengatakan pada Viona jika Kevin sudah tidak setampan dulu lagi. Tapi Viona terlihat tidak peduli. Wajahnya menunjukkan kecemasan, dan Marissa bisa melihat itu dari sepasang manik Amber-nya.
"Eonni, aku akan pergi menjenguknya sekarang juga. Katakan diruang mana dia dirawat?"
Marissa tersenyum lebar. "Ruang VIP, di lantai dua kamar 203." Viona mengangguk. Dia pergi bersama Marissa yang kebetulan juga mau kembali ke rumah sakit. Sepertinya dugaan Marissa benar, jika ada ikatan spesial diantara Kevin dan Viona yang sama-sama tak tersalurkan.
-
-
Kevin membuka perban yang membalut luka diwajahnya dan menghela napas. Luka diwajahnya ternyata lebih buruk dari yang dia bayangkan.
Ada luka memanjang di pelipis kirinya yang sudah pasti meninggalkan bekas saat sembuh nanti, ada luka lain disekitar mata kirinya yang pasti akan meninggalkan bekas juga.
Kevin segera menutup kembali luka itu dengan perban setelah mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Pintu bercat putih itu dibuka dari luar, seorang gadis dalam balutan dress biru muda menghampiri Kevin sambil menenteng keranjang buah yang berisi buah-buahan segar.
__ADS_1
Mata kanan Kevin membelalak melihat siapa yang datang menjenguknya. "Viona,"
Kevin berucap lirih melihat kedatangan gadis itu. Viona menghampiri Kevin sambil mengukir senyum tipis dibibir merah mudanya. Lalu ia meletakkan keranjang buah yang dibawanya dan duduk di kursi disamping ranjang inap Kevin.
Hati gadis itu mencelos melihat bagaimana keadaan Kevin saat ini. Perban yang membalut wajahnya seolah mengatakan seberapa parah luka yang dialaminya, belum lagi luka di bagian tubuh lainnya. Marissa mengatakan ada luka bakar ringan di punggungnya.
Meskipun hanya luka bakar ringan, tapi Viona berani bersumpah jika rasanya pasti sangat sakit. "Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa aku terlihat mengerikan?" Kevin tersenyum simpul.
Viona menggeleng. "Tidak sama sekali. Bukankah bekas luka di wajah meskipun meninggalkan bekas masih bisa diatasi, kebetulan di rumahku banyak ember bekas. Kau bisa memakainya untuk operasi plastik kan," Viona terkekeh. Ia mencoba menghibur dirinya sendiri. Karena Kevin terlihat baik-baik saja.
"Konyol," pemuda itu mendengus. Dan Viona hanya terkekeh ringan. "Bagaimana kabarmu?" Tanya Kevin sambil menatap wajah cantik yang selalu ia rindukan itu.
Viona mengangkat bahunya. "Ya, begini-begini saja. Tidak baik, juga tidak buruk." Jawabnya.
Kevin terdiam selama beberapa detik, sesuatu mengganjal pikirannya. Kemudian pemuda itu tersenyum hambar. "Oya, Vi. Selamat atas pertunanganmu. Maaf, mungkin aku tidak bisa hadir memberikan selamat langsung padamu." Hati Kevin seperti dikoyak ketika mengatakannya.
Bukannya kata terimakasih,Viona malah terkekeh geli. "Hei, kenapa ekspresimu aneh begitu? Kau terlihat seperti pria yang merelakan kekasihmu menikah dengan orang lain. Dan siapa bilang aku akan bertunangan, aku sudah membatalkannya. Aku memang akan bertunangan suatu hari nanti, tapi dengan orang yang aku cintai," ujar Viona sambil mengukir senyum di bibirnya.
"Kau tidak jadi bertunangan?" Kevin memastikan.
Viona mengangguk. "Ya, siapa juga yang mau bertunangan kemudian menikah dengan seorang anak mami. Apalagi ibunya sangat cerewet dan suka mengatur, belum lagi kakak-kakaknya yang julidnya minta ampun. Aku ngeri sendiri membayangkan jika sampai menikah dengannya." Tutur Viona panjang lebar.
Senyum dibibir Kevin mengembang seketika. Mendengar Viona yang tidak jadi bertunangan membuat hatinya merasa lega, itu artinya dia masih memiliki kesempatan untuk memiliki gadis itu. Dan Kevin berencana menyatakan perasaannya ketika keluar dari rumah sakit nanti.
"Kenapa kau tersenyum selebar itu, kau membuatku merinding," gerutu Viona memperlihatkan bulu-bulu halus di lengannya.
"Dasar kau ini!! Aku ikut senang karena kau tidak jadi menikah dengan orang seperti itu. Apa kau sibuk hari ini? Bisakah menemaniku disini?"
"Bukan masalah, asalkan saat keluar dari sini nanti kau harus mentraktirku makan malam di restoran bintang lima." Jawab Viona yang kemudian dibalas anggukan oleh Kevin.
Kevin mengusap kepala Viona sambil mengukir senyum lebar. "Baiklah, apapun yang kau inginkan." Jawabnya, sekarang Viona yang tersenyum lebar.
Ada rasa tak kasat mata yang membuat perasaan Viona menghangat. Apalagi ketika melihat Kevin tersenyum selebar itu, karena itu adalah sesuatu yang sangat langkah.
Jika saja Viona memiliki keberanian itu, pasti ia sudah mengungkapkan perasaannya sekarang. Viona masih menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya pada pada Kevin.
-
-
Bersambung.
__ADS_1