PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Berdada Rata


__ADS_3

Sebuah mobil sedan hitam berhenti disekitar kediaman Zhao. Dua orang yang berada di dalam mobil itu terus memperhatikan keadaan di Manson mewah tersebut. Sejauh ini belum terlihat aktifitas apapun, apalagi orang yang datang.


Mereka bukan sedang mengawasi mansion mewah yang memiliki tiga lantai tersebut. Melainkan menunggu kedatangan seseorang. Ya, Kevin-lah orang yang mereka tunggu.


"Apa kau yakin jika dia sudah keluar dari rumah sakit, sesuai perhitungan bukankah seharusnya dia sudah sampai," ucap pria yang duduk di samping pria yang mengemudikan mobil itu.


"Ya, anak buahku melihat bajingan kecil itu sudah meninggalkan rumah sakit. Tapi mereka kehilangan jejak ketika hendak mengejarnya,"


"Bodoh!! Mengejar satu orang saja tidak becus. Bos bisa marah besar jika kita sampai gagal." Ia memukul kepala rekannya.


Pria itu mengusap kepalanya. "Bukan salah kami. Tapi salahkan dia yang licin seperti belut, dan apa pikir menangkap Kevin Zhao sama seperti menangkap anak-anak. Ingat, bagaimana pun juga dia adalah orang yang susah dihadapi. Bahkan Bos sendiri saja tidak mampu, apalagi kita!!"


"Jangan banyak bicara lagi. Cepat nyalakan mobilnya, kita kembali ke markas saja. Disini terlalu lama hanya membuang-buang waktu saja. Karena tidak bisa mendapatkan hasil apa-apa."


Pria bertopi dan berkacamata itu lantas mengangguk. "Baiklah," dan mobil itu pun melaju pergi.


-


-


Mobil Viona yang dikemudian oleh Kevin mulai memasuki kawasan sepi. Tak ada satu pun bangunan yang berdiri ataupun kendaraan yang melintas, hanya pohon Cemara yang tumbuh disisi kanan dan kiri jalan.


Viona tidak tau kemana Kevin akan membawanya. Tapi dia mencoba untuk bersikap positif thinking saja. Viona ingin sekali bertanya, tapi entah kenapa dia merasa malas untuk bicara.


Tiba-tiba Kevin menghentikan laju mobil itu. Dia turun dan berjalan ke sebuah pohon besar yang berada disisi kiri jalan. Entah apa yang Kevin lakukan, tiba-tiba semak berduri di depan sana terbelah dan memperlihatkan sebuah terowongan yang sangat panjang.


Kemudian mobil itu melewati sebuah terowongan yang panjangnya lebih dari 500 meter tersebut. Viona menoleh kebelakang dan pintu terowongan itu kembali tertutup oleh semak-semak belukar.


"Sebenarnya kita kau Kemana, dan kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini? Omo, jangan bilang kalau kau ingin melakukan hal yang tidak-tidak padaku ya?" Tebak Viona sambil menunjuk Kevin tepat di depan wajah tampannya.


Pemuda itu berdecak sebal. "Bisa tidak kau diam saja dan jangan banyak tanya. Dan sebaiknya kau berhenti berpikir yang tidak-tidak. Lagipula apa yang bisa diharapkan dari gadis berdada rata sepertimu!!" Jawab Kevin menimpali.

__ADS_1


"Yakk!!" Gadis itu memekik kencang sambil memeluk dadanya sendiri. Bagaimana bisa Kevin mengatakan secara terang-terangan jika dadanya rata. Meskipun itu kenyataan, tapi tidak seharusnya dia mengatakannya juga kan?! Viona menggerutu pelan. "Dasar kulkas tiga pintu super menyebalkan!!"


Mobil yang Kevin kemudikan kembali pada jalanan kota yang ramai dan padat kendaraan. Dan hal tersebut membuat Viona terkaget-kaget. Apa yang mereka lewati tadi adalah jalan tikus?! Pikirnya.


"Jalanan utama terkadang macet di jam segini. Makanya aku memilih lewat jalan tikus," ucap Kevin seolah mengerti apa yang Viona pikirkan.


"Oh," dan Viona hanya manggut-manggut.


Mobil itu kemudian berhenti dihalaman luas sebuah rumah yang memiliki dua lantai. Terlihat sederhana dan minimalis namun sangat mewah. Kevin keluar dari mobil tersebut diikuti Viona. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam.


"Ini adalah rumah pribadiku, untuk sementara aku akan tinggal disini. Aku tidak mau membuat Mama histeris jika melihatku pulang dalam keadaan seperti ini," ujarnya.


"Dimana dapurnya? Apa ada bahan makanan yang bisa dimasak? Aku lapar dan ingin makan sesuatu," Viona memegangi perutnya.


"Tidak ada, mungkin hanya buah-buahan dan mie instan. Aku jarang ada disini, jadi aku jarang membawa bahan makanan pulang. Aku pesankan dari luar saja, bagaimana?" Usul Kevin.


"Kedengarannya tidak buruk, baiklah. Aku ingin makan pizza, spaghetti, burger, cake, ice cream kacang merah dan minumnya lemon tea."


"Sudah jangan banyak komentar. Cepat pesankan saja, aku sudah sangat lapar." Rengek Viona sambil memegangi perutnya.


Kevin mendengus geli. Ia pun segera memesan semua makanan dan minuman yang Viona inginkan. Karena jika tidak pasti dia akan terus merengek seperti anak kecil. Meskipun umurnya sudah lebih dari 20 tahun, tapi terkadang tingkahnya seperti bocah.


Sambil menunggu makanan yang di pesan datang. Viona memutuskan untuk jalan-jalan dan melihat-lihat rumah Kevin. Pemuda itu tidak melarangnya, dia justru membiarkan Viona melakukan apapun yang dia inginkan.


"Eo," Viona menghentikan langkahnya dan seluruh perhatiannya tertuju pada sebuah lukisan di dinding. "Kevin, wajah gadis di dalam lukisan ini mirip denganku ya?" Ucap Viona sambil menunjuk lukisan itu.


"Hm, mana ada itu dirimu." Elak Kevin, padahal itu memang Viona.


Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Betul juga, lagipula untuk apa juga kau menyimpan lukisanku. Apa makanannya sudah datang? Aku sangat lapar,"


"Hn," Kevin mengangguk.

__ADS_1


Viona dan Kevin berjalan beriringan menuju meja makan. Betul yang Kevin katakan. Bahkan pemuda itu sudah menyusunnya diatas meja. Viona tersenyum lebar. "Ye, makan besar." Ucap Viona bersemangat.


"Ayo cepat makan," Kevin menepuk kepala coklat Viona. Gadis itu mengangguk.


Dan selanjutnya makan malam mereka lewati dengan tenang, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka berdua. Hanya terdengar suara denting sendok dan piring yang saling bersentuhan.


-


-


PLAKKK...


Tamparan keras mendarat mulus pada pipi pria-pria itu. Seorang laki-laki yang fisiknya tidak sempurna terlihat sangat marah dan begitu emosional. Anak buahnya yang tidak berguna itu gagal lagi menghabisi musuh lamanya.


"Bodoh kalian semua!! Menghabisi satu orang saja tidak bisa!! Sebenarnya apa saja yang kalian kerjakan, eo?!" Bentak pria itu penuh emosi.


"Ma..Maaf, Tuan. Tapi Kevin Zhao, bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi. Bahkan semua orang yang kami kirimkan kemarin pagi mati ditangannya," jelas salah seorang dari ketiga pria itu.


"Aaarrrkkkhhh...!! Sebenarnya berapa banyak nyawa yang dia miliki?! Kenapa selalu saja lolos dari maut. Kurang ajar!! Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan, kalian harus melakukan sesuatu untuk menghabisi pria itu. Cari kelemahannya, dan gunakan cara itu untuk menghabisinya!!"


"Baik, Bos."


Pria itu tidak akan melepaskan Kevin begitu saja setelah apa yang dia lakukan padanya. Kevin membuatnya kehilangan satu kaki, daun telinga dan mata kirinya. Dan semua itu harus Kevin pertanggung jawabkan. Dia akan menuntut balas dan membuat Kevin membayar dengan mahal.


"Kevin Zhao, kenapa kau selalu menang dariku!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2